Kapan Waktu Tepat Mengajarkan Anak Meregulasi Emosi?

regulasi emosi, Kapan Waktu Tepat Mengajarkan Anak Meregulasi Emosi?, Regulasi emosi sebenarnya mulai dibentuk sejak bayi, Anak mulai belajar mengenali emosi di usia balita, Usia lima tahun ke atas, anak mulai belajar mengelola emosi sendiri, Regulasi emosi membantu anak sukses di sekolah dan kehidupan sosial

 Reaksi emosional yang kuat ini merupakan bagian dari proses perkembangan anak.

Para ahli menyebut kemampuan mengelola perasaan tersebut sebagai regulasi emosi.

Keterampilan ini membantu anak memahami, mengendalikan, dan merespons emosi secara sehat dalam berbagai situasi.

Anak yang belajar regulasi emosi sejak dini cenderung memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik, lebih mudah memahami perasaan mereka, serta memiliki hubungan sosial yang lebih sehat.

Lalu, kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk mulai mengajarkan regulasi emosi pada anak?

Kapan sebaiknya mengajarkan regulasi emosi pada anak

Regulasi emosi sebenarnya mulai dibentuk sejak bayi

Banyak orangtua mengira kemampuan mengendalikan emosi baru bisa diajarkan ketika anak sudah lebih besar. Padahal, proses pembelajaran regulasi emosi sebenarnya dimulai sejak bayi.

Psikolog anak dari Intermountain Primary Children’s Hospital, Rachiit Bhatt, PsyD menjelaskan, respons orangtua terhadap bayi memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan regulasi emosi di masa depan.

“Meskipun bayi belum mampu mengatur emosinya sendiri, respons yang hangat dan terstruktur saat mereka mengalami stres berkaitan dengan kemampuan regulasi diri yang lebih kuat di kemudian hari,” kata Bhatt, seperti dilansir Parents, Kamis (12/3/2026).

Ketika bayi menangis atau merasa tidak nyaman, cara orangtua merespons, misalnya dengan menenangkan atau memeluk, secara tidak langsung membantu mereka belajar mengenali dan menenangkan emosi.

Interaksi sederhana seperti menggendong bayi, berbicara dengan nada lembut, atau memberikan rasa aman dapat menjadi fondasi awal bagi perkembangan emosi anak.

Anak mulai belajar mengenali emosi di usia balita

Memasuki usia balita, sekitar dua hingga empat tahun, anak mulai menunjukkan emosi dengan lebih jelas. 

Pada fase ini, tantrum sering terjadi karena anak belum memiliki kemampuan bahasa dan kontrol diri yang cukup untuk mengekspresikan perasaan mereka.

Anak mungkin menangis ketika mainannya diambil teman atau marah ketika diminta berhenti bermain. Kondisi ini sebenarnya normal dalam perkembangan emosional anak.

Pada usia ini, anak masih sangat bergantung pada orangtua untuk membantu mereka menenangkan diri. 

Oleh karena itu, peran orangtua sangat penting dalam memberikan contoh bagaimana merespons emosi secara sehat.

Misalnya dengan membantu anak menamai perasaan mereka, seperti mengatakan, “Kamu sedih karena mainannya diambil teman, ya.” 

Pendekatan ini membantu anak memahami bahwa emosi yang mereka rasakan adalah sesuatu yang wajar.

Lingkungan yang aman dan responsif juga membantu anak merasa didengar, sehingga mereka belajar mengekspresikan emosi tanpa harus melampiaskannya melalui tantrum.

Usia lima tahun ke atas, anak mulai belajar mengelola emosi sendiri

Kemampuan regulasi emosi biasanya mulai berkembang lebih jelas ketika anak memasuki usia sekolah, sekitar lima hingga enam tahun.

Pada usia ini, anak mulai memahami perasaan mereka sendiri serta belajar mengontrol reaksi emosional dalam situasi tertentu.

Menurut Bhatt, sekitar usia lima tahun anak mulai menunjukkan kemampuan awal dalam mengatur emosinya.

“Anak mulai mengembangkan kemampuan awal untuk mengatur emosi mereka sekitar usia lima tahun dan dapat memperoleh manfaat dari pengajaran langsung mengenai keterampilan tersebut,” jelas Bhatt.

Orangtua dapat mulai mengajarkan teknik sederhana seperti menarik napas dalam-dalam ketika marah, berbicara tentang perasaan mereka, atau mencari solusi saat menghadapi masalah.

Anak pada usia ini juga mulai mampu mengungkapkan apa yang mereka butuhkan dari orang lain, misalnya meminta bantuan guru atau orangtua ketika menghadapi kesulitan.

Regulasi emosi membantu anak sukses di sekolah dan kehidupan sosial

Mengajarkan regulasi emosi kepada anak tidak hanya membantu mereka menghadapi perasaan sehari-hari, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang pada kehidupan mereka. 

Anak yang mampu mengelola emosinya cenderung memiliki lebih sedikit ledakan emosi atau tantrum. Mereka juga lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain dan membangun hubungan pertemanan.

Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang memiliki keterampilan regulasi emosi lebih mampu menghadapi tekanan di sekolah. 

Hal ini membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan belajar serta meningkatkan prestasi akademik.

Keterampilan ini juga berperan penting dalam kesehatan mental. Anak yang memahami emosi mereka cenderung lebih mampu mencari bantuan ketika merasa sedih atau tertekan.

Dengan demikian, regulasi emosi bukan hanya tentang mengendalikan kemarahan, tetapi juga tentang memahami diri sendiri dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Pembelajaran regulasi emosi sebaiknya dimulai sejak dini, bahkan sejak masa bayi, dan terus dikembangkan seiring pertumbuhan anak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang