Top 5+ Fakta Perang Sarung di Grobogan yang Tewaskan Pelajar SMP, Ujung Sarung Dibuat Simpul

Grobogan, perang sarung, 5 Fakta Perang Sarung di Grobogan yang Tewaskan Pelajar SMP, Ujung Sarung Dibuat Simpul, 1. Ajakan perang melalui pesan WhatsApp, 2. Sarung diikat jadi simpul, 3. Korban tiba-tiba tersungkur, 4. Enam anak diamankan, 5. Keluarga mengira hanya main biasa

Seorang pelajar SMP kelas IX berinisial ZMR (16) meninggal dunia setelah terlibat perang sarung di Desa Termas, Kecamatan Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (26/2/2026) malam.

Proses autopsi dilakukan di RSUD Dr Soedjati Soemodiardjo, Purwodadi.

Autopsi itu dilakukan guna mengungkap penyebab pasti kematian korban.

Diberitakan , Kamis, Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Rizky Ari Budianto mengatakan, pemeriksaan jenazah tersebut merupakan bagian dari prosedur forensik untuk memperkuat bukti-bukti dalam penyidikan.

Berikut beberapa fakta yang perlu diketahui dari kasus tersebut:

1. Ajakan perang melalui pesan WhatsApp

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Rizky Ari Budianto memaparkan kronologi kejadian berdasarkan hasil pemeriksaan saksi dan para terperiksa.

Dilansir dari , Kamis, ajakan perang sarung beredar lewat pesan WhatsApp atau WA.

Peristiwa bermula selepas Shalat Tarawih sekitar pukul 21.45 WIB, di mana korban mengajak lima teman sebayanya melalui pesan WA untuk melakukan perang sarung.

Ajakan tersebut disepakati dan mereka menentukan lokasi di lapangan sepak bola Desa Termas sekitar pukul 23.20 WIB.

2. Sarung diikat jadi simpul

Enam remaja yang seluruhnya bertetangga itu terpecah menjadi dua kelompok dengan formasi tiga lawan tiga.

Sebelum berhadapan satu lawan satu, mereka mengikat ujung sarung menjadi simpul agar terasa lebih keras dan mantap saat diayunkan.

"Keterangan saksi, korban tidak dikeroyok. Tapi berkelahi satu lawan satu menggunakan sarung secara bersamaan. Ujung sarung diikat simpul menjadi keras. Ini perkelahian yang mengakibatkan korban meninggal," kata Rizky.

3. Korban tiba-tiba tersungkur

Perang sarung pun dimulai, dengan satu orang melawan satu orang, saling berhadapan.

Saat perang sarung itulah, korban tiba-tiba terlihat lemas dan mengalami kesulitan bernapas. Tak lama, korban kemudian jatuh tersungkur dan pingsan.

"Awalnya lemas dan kesulitan bernapas hingga akhirnya jatuh tersungkur dan pingsan," ujar Rizky.

Perang sarung langsung dihentikan. Teman-temannya mengangkat korban ke pinggir lapangan sebelum mengantarkannya pulang dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Keluarga pun panik dan langsung membawa korban ke Puskesmas Karangrayung.

Namun sayang, nyawanya tidak tertolong.

Jenazah kemudian dibawa ke RSUD Dr Soedjati Soemodiardjo Purwodadi untuk dilakukan autopsi oleh tim Biddokkes Polda Jawa Tengah.

Berdasarkan petunjuk awal dari pemeriksaan luar, tim medis menemukan bekas luka memar pada bagian tengkuk korban.

4. Enam anak diamankan

Dalam penanganan kasus ini, Unit PPA Satreskrim Polres Grobogan telah mengamankan enam anak berusia 14-18 tahun untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Dari enam anak tersebut, lima di antaranya masih berstatus pelajar.

"Kami amankan enam anak yang semuanya tetangga korban. Untuk peran mereka masih didalami," kata Rizky.

5. Keluarga mengira hanya main biasa

Kakek korban, Muhnadi mengungkap, cucunya diantarkan pulang oleh rekan-rekannya dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri sekitar pukul 23.30 WIB.

Pihak keluarga mengaku tidak menyangka permainan perang sarung yang dilakukan bersama teman sekampung itu berakhir tragis.

Pasalnya, korban dan teman-temannya memang terbiasa bermain bersama setiap hari.

"Setiap hari mereka main bareng. Toh seumuran dan tetangga juga," pungkas Muhnadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang