Mengapa Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Dipadamkan Pakai Pasir, Bukan Air? Ini Penjelasannya
Kebakaran gudang penyimpanan pestisida di Serpong, Tangerang Selatan tidak dipadamkan dengan air.
Upaya pemadaman yang menggunakan pasir memicu pertanyaan publik: mengapa api tidak dipadamkan dengan air seperti kebakaran pada umumnya?
Petugas pemadam kebakaran justru menggunakan pasir untuk menjinakkan api yang membakar bahan kimia tersebut.
Bahan kimia tak bisa dipadamkan dengan air
Kebakaran terjadi sekitar pukul 04.30 WIB dan melibatkan gudang pestisida milik PT Biotek Saranatama.
Sebanyak 14 unit pemadam kebakaran dikerahkan ke lokasi, termasuk bantuan dari BSD serta kendaraan tangki air.
Proses pemadaman berlangsung lama karena material yang terbakar berupa bahan kimia berbahaya.
Selain menghadapi asap beracun, petugas juga harus mewaspadai potensi letusan dari kemasan pestisida berbentuk kaleng.
"Kaleng pestisida kalau panas bisa menimbulkan letusan. Bukan ledakan besar, tapi tetap berbahaya, makanya pemadaman dilakukan pelan-pelan," ujar Danton Damkar Tangsel, Sahroni, dikutip dari , Kamis (12/2/2026).
Namun tantangan terbesar datang dari karakter bahan yang terbakar.
Kapolsek Cisauk AKP Dhady Arsya menjelaskan, zat kimia yang terbakar tidak bisa ditangani dengan metode biasa.
"Ada bahan kimia yang tidak bisa dipadamkan dengan air, sehingga petugas menggunakan pasir kurang lebih dua truk engkel," jelas Dhady.
Penggunaan pasir dilakukan untuk membantu mengendalikan api tanpa memicu reaksi yang berisiko memperparah kondisi.
Air pemadaman mengalir ke sungai
Dampak penggunaan air dalam proses pemadaman juga menjadi perhatian. Air yang bercampur residu bahan kimia mengalir melalui saluran pembuangan hingga ke Sungai Jalatreng.
"Jadi itu memang pembuangan airnya (selokan), kemudian pembuangan airnya itu ke sungai. Jadi ngalirnya mau enggak mau ke sana," jelas Sahroni.
Akibatnya, aliran sungai berubah warna menjadi putih dan mengeluarkan bau bensin. Ratusan ikan ditemukan mati mengapung saat proses pemadaman masih berlangsung.
"Selama proses pemadaman, jadi sekitar jam 05.00 WIB itu ikan-ikan udah pada ngambang. Jumlahnya cukup banyak, sekitar ratusan ekor," kata Dhady.
Melihat kondisi tersebut, kepolisian mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan dari sungai terdampak.
"Imbauan kepada masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan di Jalatreng karena diduga sudah terkontaminasi zat kimia," kata Dhady.
Api akhirnya padam sekitar pukul 16.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
Namun kerugian ditaksir mencapai Rp 2 miliar dan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan dengan dugaan sementara korsleting.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang