Menjawab Kebutuhan SDM di Sektor Pariwisata
Industri pariwisata Indonesia terus berkembang dan menjadi salah satu sektor strategis penopang perekonomian nasional. Jumlah destinasi yang semakin beragam, pertumbuhan ekonomi kreatif, hingga meningkatnya minat wisatawan domestik dan mancanegara membuat sektor ini kian dinamis. Namun di balik peluang besar tersebut, ada tantangan serius yang harus segera dijawab, yakni kebutuhan sumber daya manusia (SDM) dalam jumlah besar.
Kementerian Pariwisata disebut membutuhkan sekitar 400 ribu SDM untuk menopang pertumbuhan industri ini. Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pariwisata tidak hanya memerlukan promosi dan infrastruktur, tetapi juga tenaga kerja terlatih yang siap bersaing secara global.
Rektor Institut Pariwisata Tedja Indonesia (IPTI), Dr. Ariani Kusumo Wardhani, menegaskan bahwa kebutuhan besar ini menjadi alasan penting hadirnya institusi pendidikan pariwisata dengan standar internasional. Ia menjelaskan bahwa saat ini masih terdapat kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan lulusan yang sesuai standar.

“Latar belakang berdirinya kampus ini karena adanya kebutuhan di sektor pariwisata yang saat ini semakin berkembang. Ada gap antara kebutuhan industri dan ketersediaan SDM, sehingga memang sangat dibutuhkan. Dan yang terpenting, kenapa kampus ini ada? Karena kami ingin menghadirkan standar internasional di sini,” ujar Ariani saat Grand Opening IPTI di Cipayung, Jakarta Timur pada Rabu, 11 Februari 2026.
Menurutnya, pariwisata Indonesia memiliki cakupan yang sangat luas dan berperan dalam membangun identitas bangsa.
“Tantangan pariwisata saat ini adalah karena sektor ini di Indonesia sangat luas. Pariwisata bukan hanya soal perjalanan, tetapi juga berkaitan dengan ekonomi kreatif hingga menjadi bagian dari identitas bangsa,” ujarnya lagi.
Karena itu, lulusan bidang pariwisata diharapkan tidak sekadar mencari pekerjaan, tetapi mampu memberi dampak nyata bagi ekosistem industri.
“Dan inginnya IPTI sendiri itu lulusannya bukan hanya bisa bekerja sama tapi juga memiliki dampak yang luar biasa untuk komunitas ekosistem pariwisata,” ucap Ariani. .
Ia juga menekankan pentingnya standar internasional yang tetap berakar pada nilai lokal dan prinsip keberlanjutan.
“Jadi, IPTI hadir karena kami melihat kebutuhan akan standar internasional saat ini. Namun, kami tetap berakar pada local wisdom dan sustainability. Kami juga memiliki program studi interdisipliner, di mana mahasiswa belajar untuk berkolaborasi lintas disiplin ilmu,” ucapnya lagi menambahkan.
Selain kompetensi teknis, etika dan disiplin menjadi fondasi utama dalam industri hospitaliti dan tourism.
“Untuk pariwisata ini kita tuh pengen adalah tadi salah satunya yang kita terangkan disini adalah etika dan hospitality,” terangnya.
Ia juga menyinggung peluang kerja di luar negeri yang terbuka lebar, namun membutuhkan kesiapan mental yang kuat.
“Apalagi terkait hospitality dan tourism itu kan disiplinnya kuat sekali, mereka benar-benar yang harus siap untuk terjun dan memang secara mental juga harus siap,” tambahnya.
Dengan kebutuhan sekitar 400 ribu SDM di industri ini, penguatan pendidikan pariwisata menjadi langkah strategis. Tanpa tenaga kerja yang kompeten dan berstandar global, sulit bagi Indonesia untuk memaksimalkan potensi pariwisatanya di tengah persaingan internasional yang semakin ketat.