Bulan Perlahan Menjauh dari Bumi, Benarkah Berdampak pada Iklim dan Kehidupan?

Bulan, Bumi, Bulan menjauh dari Bumi, Bulan Perlahan Menjauh dari Bumi, Benarkah Berdampak pada Iklim dan Kehidupan?

Pergerakan Bulan yang secara bertahap menjauh dari Bumi kerap memunculkan beragam spekulasi di masyarakat. 

Fenomena ini sering dikaitkan dengan perubahan iklim hingga potensi dampak terhadap kehidupan manusia. 

Namun, secara ilmiah, anggapan tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih tepat.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa jarak Bulan terhadap Bumi tidak bersifat tetap. 

Hal ini berkaitan dengan karakter lintasan orbit Bulan yang berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna.

“Efek Bulan menjauh dari Bumi merupakan konsekuensi orbit revolusi Bulan terhadap Bumi yang berupa elips. Ada saat Bulan berada pada jarak terdekat (perigee) dan jarak terjauh (apogee) dalam setiap periode revolusi Bulan,” jelas Sonni dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

Dampak Perubahan Jarak Bumi dengan Bulan

Fenomena serupa juga terjadi pada sistem Bumi dan Matahari. Dalam satu tahun, Bumi mengalami kondisi perihelion saat berada pada jarak terdekat dengan Matahari pada Januari, serta aphelion ketika berada pada jarak terjauh pada Juli.

Sonni menegaskan bahwa perubahan jarak Bulan tersebut merupakan proses alamiah dan tidak perlu disikapi dengan kekhawatiran berlebihan. 

Dampak terhadap manusia, menurutnya, tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui mekanisme tertentu yang berlangsung di Bumi.

Ia mencontohkan pengaruh gravitasi Bulan berperan dalam fenomena pasang surut air laut. 

Perubahan muka air laut akibat pasang surut dapat memengaruhi aktivitas nelayan serta kondisi wilayah pesisir.

“Fenomena Bulan menjauh dari Bumi tidak berdampak langsung terhadap manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dampaknya baru terasa melalui mekanisme lain," jelas Sonni.

Sonni juga menilai, fenomena ini tidak memberikan pengaruh secara langsung. 

“Kalau terhadap sistem iklim tidak secara langsung karena durasi iklim itu tahunan hingga puluhan tahun,” jelasnya.

Terjadinya Siklus Milankovitch

Sonni menjelaskan bahwa perubahan iklim lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal lain yang berkaitan dengan orientasi Bumi terhadap Matahari.

Faktor-faktor tersebut meliputi fluktuasi eksentrisitas orbit Bumi, perubahan oblikuitas atau kemiringan sumbu rotasi Bumi, serta presesi sumbu rotasi Bumi. Ketiga proses tersebut dikenal sebagai Siklus Milankovitch.

Setiap komponen dalam siklus tersebut memiliki periode yang berbeda. 

Perubahan eksentrisitas orbit Bumi terjadi dalam rentang 100.000 hingga 400.000 tahun, perubahan oblikuitas berlangsung sekitar 41.000 tahun, sementara presesi sumbu rotasi Bumi terjadi setiap 26.000 tahun.

“Perubahan orientasi Bumi ini menyebabkan perubahan radiasi Matahari yang diterima oleh Bumi sebagai sumber energi utama iklim Bumi sehingga perubahan ini mempengaruhi iklim Bumi dalam skala waktu ribuan hingga ratusan ribu tahun,” kata Sonni.

Susunan planet-planet dalam tata surya juga dapat memengaruhi kondisi atmosfer Bumi. 

Saat beberapa planet berada pada posisi konjungsi, resultan gaya gravitasi yang terbentuk dapat memicu perubahan tertentu di atmosfer.

“Konstelasi planet dalam keadaan konjungsi bisa menyebabkan uap air terangkat, sehingga potensi pembentukan awan meningkat. Karena konjungsi planet terjadi dalam orde ratusan tahun dan efeknya global, hal ini dapat menyebabkan perubahan sistem iklim,” pungkas Sonni.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang