Film Sunda Emperor Tayang 2026, Angkat Cerita Raja Sunda dengan Cara Tak Biasa
Bagaimana jadinya jika seorang pemuda Sunda yang oportunis mendadak mengetahui bahwa dirinya merupakan keturunan Raja Sunda? Premis unik inilah yang menjadi fondasi cerita Film Sunda Emperor, karya perdana dari rumah produksi Sapawave Films yang dijadwalkan tayang di bioskop tahun 2026 ini.
Sejak awal pengembangannya, Sunda Emperor langsung mencuri perhatian karena berani mengangkat cerita lokal dengan pendekatan yang segar dan relevan. Film ini memadukan drama, komedi, dan petualangan dalam satu narasi utuh yang dibungkus dengan budaya Sunda autentik. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Angling Sagaran mengambil peran sentral dalam proyek ini sebagai produser, sutradara, sekaligus penulis. Lewat Sunda Emperor, ia menghadirkan kisah yang berbeda dari film daerah pada umumnya, ringan, komunikatif, namun tetap memiliki kedalaman makna.
Film ini berfokus pada perjalanan tiga sahabat yang terlibat dalam pencarian jati diri dan sejarah. Sebuah koin peninggalan kerajaan Sunda menjadi simbol penting yang memicu petualangan mereka. Dari titik itulah cerita berkembang, membuka eksplorasi tentang persahabatan, identitas, dan nilai budaya yang relevan dengan kehidupan masa kini.
“Sunda Emperor berangkat dari keinginan kami untuk menghadirkan cerita menggunakan 100 persen berbahasa Sunda dengan pendekatan yang segar dan relevan bagi penonton hari ini. Film ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana identitas dan nilai budaya bisa hidup di masa kini,” ucap Angling Sagaran selaku Produser, Sutradara, dan Penulis Sunda Emperor, dalam keterangannya, dikutip Sabtu 31 Januari 2026.
“Melalui film ini, kami ingin membuktikan bahwa cerita daerah memiliki kekuatan besar untuk tampil di layar lebar secara modern tanpa kehilangan akar budayanya,” sambungnya.
Melalui video first look dan cast reveal, Sunda Emperor juga menampilkan kehadiran sejumlah kreator Sunda. Kehadiran mereka menjadi bagian dari strategi promosi film untuk membangun kedekatan dengan audiens digital, khususnya generasi muda, sekaligus memperluas jangkauan kampanye di media sosial.
Langkah ini memperkuat posisi Sunda Emperor sebagai film daerah yang tidak hanya bicara soal budaya, tetapi juga memahami pola konsumsi penonton masa kini.
Film Sunda Emperor menghadirkan jajaran pemain yang beragam, mulai dari Laura Moane, Bilal Fadh, Maghara Adipura, Vansa Be, Itings Meledax, hingga Yujeng Hensem. Para pemeran ini membawa dinamika karakter yang kuat dalam alur cerita yang menghibur.
Keindahan panorama alam Sukabumi turut menjadi nilai tambah melalui visual sinematik yang memanjakan mata. Film ini tidak hanya menawarkan cerita, tetapi juga pengalaman menonton yang kaya secara visual.
Laura Moane mengungkapkan tantangan tersendiri saat memerankan karakter Neng Eti, terutama karena film ini sepenuhnya menggunakan bahasa Sunda.
“Jujur, memerankan Neng Eti jadi tantangan tersendiri buat aku, terutama karena film ini 100% menggunakan bahasa Sunda. Dari awal proses reading hingga saat syuting aku banyak banget belajar dan dibimbing oleh sutradara serta teman-teman cast di lokasi syuting," ucap Laura Moane.
"Mulai dari pelafalan hingga cara bertutur kata agar terdengar natural saat aku mengucapkan bahasa Sunda. Dengan dukungan mereka akhirnya aku bisa mudah beradaptasi untuk melafalkan bahasa Sunda sampai akhirnya proses syuting selesai," sambungnya.
Sebagai pendiri Sapawave Films, Much Risman menegaskan komitmennya untuk menjadikan Sunda Emperor sebagai film berbahasa daerah yang mampu bersaing di tingkat nasional. Ia menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang bagi cerita lokal untuk tampil dengan standar produksi modern dan bernilai komersial.
“Sunda Emperor kami hadirkan sebagai representasi bagaimana budaya bisa dikemas secara segar dan komunikatif untuk penonton masa kini, tanpa kehilangan identitasnya. Ini adalah langkah Sapawave Films untuk terus mendorong cerita daerah agar mendapat tempat yang layak di industri perfilman Indonesia,” ujar Much Risman.