Petani Bantul Usir Hama Tikus dengan Gropyokan, Apa Itu?

Petani di Bulak Sawah Kedon, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mengusir hama tikus dengan melakukan gropyokan pada Jumat (23/1/2026) pagi.
Dalam gropyokan, petani akan menyisir tepian sawah sambil membawa emposan tikus, korek api, serta galah kayu.
Emposan tikus adalah alat pertanian tradisional yang digunakan untuk mengendalikan hama tikus sawah dengan cara mengembuskan asap beracun ke dalam liang atau lubang aktif tikus.
Dari masa ke masa, tikus menjadi musuh utama petani.
Pasalnya, hewan pengerat tersebut kerap merusak lahan pertanian dan berpotensi menurunkan hasil panen padi.
Kerusakan yang ditimbulkan tikus
Ketua Kelompok Tani Mandiri Kedon, Yanto, menyampaikan bahwa serangan hama tikus ini baru dirasakan dalam waktu belakangan.
Yanto mengungkapkan, tanaman padi yang baru berusia sekitar 35 hari banyak mengalami kerusakan, dengan batang patah dan kondisi sawah menjadi tidak beraturan akibat serangan tikus.
"Tikus itu, kalau menyerang tanaman padi di bagian batang. Batang padi banyak dimakan, jadi berserakan. Dan kalau sudah berserakan gitu, sangat sulit bagi petani untuk membasminya. Karena tikusnya sangat banyak sekali," katanya.
Selain itu, ancaman juga meningkat saat usia tanaman padi memasuki 50 hari ke atas atau fase generatif kritis/bunting, ketika mulai muncul malai atau bakal buah.
Pada fase ini, populasi tikus dikhawatirkan bertambah banyak, dan bakal semakin memicu kerusakan.
Yanto sendiri mengaku belum mengetahui secara pasti asal kemunculan hama tikus tersebut.
Ia hanya menyebutkan adanya anggapan dari sebagian orang tua terdahulu yang mengaitkan kemunculan tikus dengan faktor "angon", tidak dilakukannya upacara wiwitan, dan kepercayaan lainnya.
"Bagi saya, itu terlalu mistis. Jadi, kemungkinan penyebab kemunculan hama tikus tidak seperti itu. Cuma saya belum tahu secara pasti penyebab kemunculan hama tikus di lahan sawah kami," jelas dia.
Apa itu gropyokan?
Kelompok tani pun segera mengambil langkah cepat, melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk mencari solusi pengendalian hama.
Hasilnya, diputuskan untuk menggelar gropyokan, yakni upaya pemberantasan tikus secara gotong royong yang melibatkan para petani setempat.
Dalam pelaksanaannya, petani bersama-sama mencari lubang yang menjadi sarang tikus di area persawahan.
Setelah ditemukan, lubang tersebut diberi emposan tikus.
Emposan tersebut menghasilkan asap dan mengandung zat yang dapat mematikan tikus.
Selanjutnya, seluruh lubang yang saling terhubung ditutup menggunakan tanah dan dibiarkan selama beberapa waktu.
Usai proses tersebut, lubang akan dibuka kembali dan bangkai tikus yang ditemukan diambil untuk kemudian dibuang.
"Hamparan sawah Mandiri Kedon ini kurang lebih 33 hektare. Dan kalau hama tikus tidak ditangani, maka potensi penurunan produksi pertanian bisa sekitar 20-40 persen per hektare," ujarnya.
Kegiatan gropyokan ini turut melibatkan sejumlah pihak, salah satunya Petugas Regu Perlindungan Tanaman Kapanewon Bambanglipuro, Suwanto.
Suwanto menjelaskan bahwa wilayah pertanian di lokasi tersebut saat ini tengah memasuki musim tanam padi pertama.
"Kebetulan musim ini kok banyak tikus. Jadi, kami berinisiatif untuk melakukan gropyokan tikus. Dan melihat ancaman hama tikus ini bisa mengurangi hasil produksi pertanian sekitar 30 persen," jelasnya.
Menurut Suwanto, kemunculan hama tikus diduga dipicu oleh banyaknya rumput liar serta kondisi sanitasi yang kurang baik.
Meski demikian, Suwanto menegaskan bahwa sebelumnya telah dilakukan kegiatan gotong royong untuk membersihkan saluran irigasi dan memperbaiki sanitasi di lahan pertanian.
"Dengan gerakan gropyokan ini, diharapkan dapat mengantisipasi terjadinya pengurangan hasil produksi padi," pungkasnya.
Dinilai lebih aman daripada jebakan listrik
Banyak metode upaya pengendalian hama tikus di persawahan. Salah satunya adalah dengan memasang jebakan listrik.
Namun, cara tersebut sangat rawan karena dapat membahayakan nyawa warga atau petani itu sendiri.
Diberitakan (15/12/2025), sudah beberapa kali terjadi insiden warga meninggal dunia lantaran tersengat jebakan tikus yang dialiri listrik di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Pihak kepolisian pun berulang kali mengimbau warga untuk tidak lagi menggunakan jebakan yang berbahaya tersebut.
Dalam upaya sosialisasi, Bhabinkamtibmas Desa Kedali Bripda A Rozeki Tegar memilih untuk mempopulerkan gropyokan sebagai pengganti jebakan listrik.
Ia bersama warga melakukan gropyokan di area persawahan Desa Kedali, Kecamatan Pucuk, Lamongan pada Senin (15/12/2025).
"Penanggulangan dilakukan dengan cara gropyokan tikus, yang dilaksanakan di lahan pertanian Desa Kedali," ujar Kasihumas Polres Lamongan Ipda M Hamzaid.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain, sehingga para petani tak lagi menggunakan jebakan tikus dengan aliran listrik di persawahan, yang berpotensi memakan korban jiwa.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang