Teh Kayu Aro Berbenah, dari Warisan Kolonial ke Pasar Global
Kebun Teh Kayu Aro yang terletak di Kerinci, Jambi, kini resmi berusia 100 tahun.
Kebun teh legendaris yang berdiri sejak 1925 ini menjadi simbol ketahanan, ingatan kolektif, sekaligus tonggak penting perjalanan industri teh nasional.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menegaskan, Kayu Aro lebih dari sekadar aset bisnis.
Kebun teh yang berada di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut tersebut merupakan bagian dari sejarah panjang industri perkebunan Indonesia.
“Selama 100 tahun, Kayu Aro menjadi saksi perjalanan industri teh dari masa ke masa. Dan itu menjadi kebanggaan tersendiri,” ujar Jatmiko, Selasa, 20 Januari 2026.
Ke depan, tantangan PalmCo tidak hanya menjaga keberlanjutan produksi, tetapi juga memastikan kualitas Teh Kayu Aro mampu bersaing di pasar global tanpa kehilangan pijakan di pasar domestik.
Dengan begitu, manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas, terutama oleh masyarakat sekitar perkebunan.
Momentum satu abad dimaknai PalmCo sebagai ruang refleksi sekaligus akselerasi.
Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah peluncuran kemasan baru teh seduh dan teh celup Kayu Aro.
Rebranding yang dilakukan Sub Holding PTPN III (Persero) ini ditujukan untuk menyegarkan identitas produk agar lebih relevan dengan selera konsumen masa kini, sekaligus tetap menonjolkan karakter historisnya.
Ia menambahkan, peningkatan produktivitas dan penguatan standar kualitas menjadi pondasi utama pengelolaan kebun teh di abad kedua.
Dari sisi bisnis, kinerja ritel Teh Kayu Aro menunjukkan tren positif. Sejak 2008, sekitar 4,5 persen dari total produksi teh PTPN IV disuplai oleh Kebun Teh Kayu Aro.
Teh Kayu Aro yang dikenal memiliki aroma kuat dan cita rasa premium ini bahkan pernah menjadi favorit keluarga kerajaan Belanda, termasuk Ratu Wilhelmina, Ratu Juliana, dan Ratu Beatrix, serta keluarga Kerajaan Inggris. Produk tersebut juga telah didistribusikan ke berbagai negara.
PalmCo mengintegrasikan kegiatan produksi dengan pelestarian lingkungan serta edukasi sejarah, dengan memosisikan Kebun Teh Kayu Aro sebagai ekosistem berkelanjutan yang menggabungkan komoditas perkebunan, nilai konservasi, dan potensi agrowisata.
Memasuki abad kedua, PalmCo menyampaikan optimisme dengan menjadikan sejarah panjang Kayu Aro sebagai pijakan untuk melangkah ke fase baru.
"Usia satu abad menjadi awal babak baru untuk memperkuat kiprah Kayu Aro yang bertumpu pada mutu, pelestarian warisan, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman," tegas Jatmiko.