Tren RTO Berlanjut di 2026, 6 dari 10 Pekerja Rela Gaji Dipotong Demi WFH

Ilustrasi kantor kosong.
Ilustrasi kantor kosong.

 Tren kebijakan karyawan wajib kembali ke kantor atau return to office (RTO), terus mendominasi pemberitaan global sejak 2024 hingga awal 2026. Banyak perusahaan raksasa mengumumkan kebijakan wajib masuk kantor, menciptakan kesan bahwa era kerja jarak jauh sudah berakhir. 

Namun, data terbaru menunjukkan realitas yang jauh lebih kompleks. Di balik gelombang kebijakan RTO, preferensi pekerja dan praktik perusahaan ternyata masih condong pada fleksibilitas. 

Studi terbaru menunjukkan bahwa kerja remote dan hybrid belum kehilangan relevansinya, bahkan tetap menjadi faktor krusial dalam perekrutan, retensi, serta produktivitas tenaga kerja di Amerika Serikat.

Data yang dilansir dari Founder Reports, Selasa, 6 Januari 2026, menunjukkan hanya 27 persen perusahaan yang benar-benar kembali ke model kerja sepenuhnya tatap muka. Sebaliknya, kerja jarak jauh secara keseluruhan diperkirakan relatif tidak berubah dibandingkan puncaknya pada 2024.

Pada November 2025, sekitar 22,9 persen pekerja di AS masih bekerja secara remote, setidaknya sebagian waktu, sedikit turun dari 23,3 persen pada November 2024. Posisi kerja hybrid kini lebih umum dibandingkan pekerjaan yang sepenuhnya remote. 

Sebanyak 67 persen perusahaan menawarkan tingkat fleksibilitas tertentu, sementara hanya 6 persen yang sepenuhnya remote. Ukuran perusahaan juga berperan besar, di mana sekitar 67 persen perusahaan dengan kurang dari 500 karyawan justru sepenuhnya menerapkan kerja jarak jauh.

Mandat RTO dari Perusahaan Besar

Ilustrasi kantor Amazon

Sejumlah korporasi besar menerapkan kebijakan wajib masuk kantor sepanjang 2025 dan 2026. Pemerintah federal AS memerintahkan seluruh pegawai kembali bekerja penuh di kantor sejak Januari 2025. 

Amazon memanggil kembali sekitar 350 ribu karyawan pada periode yang sama. JP Morgan Chase mengakhiri kerja remote pada April 2025, sementara AT&T mewajibkan kehadiran lima hari kerja per pekan.

Perusahaan lain seperti Dell, Uber, IBM, 3M, hingga TikTok juga menerapkan kebijakan serupa dengan tingkat kehadiran yang bervariasi. Truist bahkan akan mewajibkan seluruh karyawan masuk kantor lima hari seminggu mulai Januari 2026. 

Google, Apple, Meta, Microsoft, Netflix, hingga Wells Fargo ikut meningkatkan jumlah hari kerja di kantor untuk peran hybrid.

Di lain sisi, data menunjukkan bahwa 64 persen pekerja AS lebih memilih kerja remote atau hybrid dibandingkan masuk kantor setiap hari. Rinciannya, 36 persen memilih sepenuhnya remote, 28 persen hybrid, dan hanya 27 persen yang memilih kerja sepenuhnya di kantor.

Dampaknya signifikan. Sebanyak 64 persen pekerja remote menyatakan akan mengundurkan diri atau mulai mencari pekerjaan baru jika fleksibilitas dihapus. Bahkan, 60 persen bersedia menerima pemotongan gaji demi tetap bekerja secara remote, dengan 42 persen siap menerima pemotongan sebesar 10 persen atau lebih.

Karyawan berprestasi tinggi tercatat lebih berisiko hengkang akibat mandat RTO. Sekitar 80 persen perusahaan melaporkan kehilangan talenta karena kebijakan tersebut, dan 91 persen karyawan Amazon menyatakan ketidakpuasan terhadap kebijakan RTO di perusahaan.

Perusahaan umumnya menyebut kolaborasi, produktivitas, komunikasi, kemudahan manajemen, dan budaya kerja sebagai alasan utama kembali ke kantor. Namun, 25 persen eksekutif dan 18 persen profesional HR mengakui berharap sebagian karyawan akan mengundurkan diri secara sukarela akibat mandat RTO.

Sebanyak 74 persen profesional HR menyatakan kebijakan RTO memicu konflik di tingkat kepemimpinan. Dari sisi penegakan aturan, 47 persen perusahaan berencana mendisiplinkan atau memecat karyawan yang tidak patuh, 34 persen menggunakan pelacakan kartu akses, dan 32 persen memasukkan kehadiran kantor dalam penilaian kinerja. 

Di sisi lain, berbagai studi menunjukkan hasil produktivitas yang beragam, namun banyak yang menyimpulkan pekerja remote dan hybrid sama atau bahkan lebih produktif. Model kerja fleksibel juga berkorelasi dengan pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi, peningkatan pendapatan, serta tingkat resign yang lebih rendah.

Sebanyak 76 persen pekerja remote dan hybrid melaporkan keseimbangan kerja dan hidup yang lebih baik, sementara 61 persen mengaku mengalami burnout yang lebih rendah.

Tren RTO Terus Berlanjut di 2026? 

Data menunjukkan fleksibilitas akan tetap menjadi fitur permanen dunia kerja Amerika. Perusahaan yang memaksakan kebijakan RTO ketat berisiko kehilangan talenta secara signifikan. 

Sebaliknya, perusahaan yang mempertahankan fleksibilitas menikmati tingkat retensi dan keterlibatan karyawan yang lebih tinggi.

Tren ini menegaskan bahwa meski wacana “semua kembali ke kantor” terdengar nyaring, kenyataannya kerja remote dan hybrid masih belum berakhir di Amerika Serikat.