Starbucks Resmi Tutup 400 Gerai

Gerai Starbucks.
Gerai Starbucks.

Starbucks resmi menutup 400 gerai. Hal tersebut atas permintaan langsung Brian Niccol, sang ceo.

Pria yang direkrut kedai kopi asal Amerika Serikat (AS) dari Chipotle itu tidak ingin gerai Starbucks letaknya saling berdekatan.

Ratusan gerai yang ditutup semuanya ada di AS yang terkonsentrasi di wilayah kota metropolitan, yang merupakan bagian dari rencana restrukturisasi perusahaan senilai US$1 miliar (Rp16,7 triliun).

Rinciannya, Starbucks menutup 42 gerai di New York, atau 12 persen dari total gerai di kota Apple tersebut.

Baru-baru ini, Starbucks kehilangan posisi teratasnya sebagai jaringan ritel terbesar di Manhattan, dan menyerahkannya kepada Dunkin' Donuts, menurut Center for an Urban Future, sebuah lembaga kajian di Kota New York yang melacak pembukaan dan penutupan gerai-gerai ritel.

Starbucks juga menutup lebih dari 20 lokasi di Los Angeles, 15 di Chicago, 6 di Minneapolis, 5 di Baltimore, serta puluhan lainnya di kota-kota metropolitan.

Jaringan ritel tersebut meninjau lebih dari 18 ribu tokonya di AS dan Kanada, dan 'menutup lokasi yang berkinerja buruk atau tidak mampu memenuhi standar'.

"Kami juga berencana untuk membuka toko baru dan merenovasi toko lainnya pada tahun 2026, termasuk di kota-kota metropolitan seperti New York dan Los Angeles," kata juru bicara Starbucks, seperti dikutip dari situs American Bazaar Online, Selasa, 30 Desember 2025.

Bahkan, CNN menyebut Starbucks adalah korban dari kesuksesannya sendiri. Saat ini, Starbucks tengah dibanjiri para pesaingnya.

Dari kedai kopi khusus, jaringan yang lebih kecil seperti Gregory's dan Joe's Coffee, dan gelombang toko smoothie, bubble tea, dan minuman lainnya.

Meningkatnya tren kerja jarak jauh juga menimbulkan tantangan besar di banyak kawasan pusat bisnis yang bergantung pada arus pekerja kantor yang melakukan perjalanan setiap hari.

"Starbucks menutup gerai-gerai di lantai dasar beberapa gedung perkantoran di pusat kota Los Angeles sebagai akibatnya," kata Catherine Yeh, direktur analisis pasar di CoStar Group.

Baru-baru ini, Starbucks mengalami pemogokan besar-besaran yang dilakukan oleh serikat pekerjanya. Mereka yang mogok menuntut jam kerja yang lebih baik dan penambahan jumlah karyawan.

Pada awal bulan ini, Starbucks setuju untuk membayar lebih dari 15 ribu pekerja di Kota New York untuk menyelesaikan klaim bahwa perusahaan tersebut menolak memberikan jadwal kerja yang stabil dan secara sewenang-wenang memangkas jam kerja mereka.