Sejarah dan Asal-usul Nama Malioboro, Benarkah dari Gelar Jenderal Inggris?

Yogyakarta, Malioboro, Sejarah dan Asal-usul Nama Malioboro, Benarkah dari Gelar Jenderal Inggris?, Proyeksi Kunjungan Wisatawan Malioboro, Menilik Sejarah Malioboro, dari Jalan Kerajaan, Asal-usul Nama Malioboro: Inggris atau Sanskerta?, Makna Filosofis Sangkan Paraning Dumadi

— Kawasan Malioboro, yang merupakan jantung wisata Kota Yogyakarta, diprediksi akan mengalami lonjakan kunjungan wisatawan secara signifikan pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.

Mulai hari ini, Jumat (26/12/2025), gelombang pelancong diperkirakan akan terus memadati area sumbu filosofis tersebut hingga dua pekan ke depan.

Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta memproyeksikan total kunjungan dapat menembus angka 1,5 juta orang.

Proyeksi Kunjungan Wisatawan Malioboro

Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Kota Yogyakarta, Fitria Dyah Anggraeni, menjelaskan bahwa kenaikan jumlah wisatawan tahun ini sangat kontras jika dibandingkan dengan data tahun sebelumnya.

"Kalau melihat data BPS tahun lalu, kunjungan dua minggu libur Nataru itu mencapai 500.000 orang. Nah, tahun ini dengan asumsi per hari di angka 60.000 sampai 100.000 pengunjung dikalikan 14 hari, kita bisa mencapai angka 1,4 juta hingga 1,5 juta pengunjung," ujar perempuan yang akrab disapa Anggi tersebut, Kamis (25/12/2025).

Lonjakan ini selaras dengan data Ditlantas Polda DIY dan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang memprediksi total pergerakan wisatawan yang masuk ke wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencapai 7 hingga 9 juta orang pada pengujung tahun.

Mayoritas pelancong didominasi oleh wisatawan domestik asal Jawa Tengah, Jawa Timur, dan wilayah lain di Pulau Jawa, baik yang menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Menilik Sejarah Malioboro, dari Jalan Kerajaan

Kepopuleran Malioboro sebagai destinasi utama tidak lepas dari nilai sejarahnya yang panjang. Mengutip buku "Malioboro Dulu dan Kini" terbitan Pusat Data dan Analisa Tempo, jalan lurus yang membujur ke utara dari Kraton Yogyakarta ini dibangun pada tahun 1756.

Secara filosofis, jalan ini didesain agar Sultan yang duduk di Siti Hingil dapat menatap puncak Gunung Merapi dengan jelas saat mencari inspirasi.

Selain itu, Malioboro merupakan rute utama upacara kebesaran keraton, termasuk kirab kereta kencana Kanjeng Kiai Garudayeksa saat penobatan Sultan atau penyambutan tamu agung di Stasiun Tugu.

Dahulu, kawasan ini terbagi menjadi beberapa ruas nama:

  1. Kadasterstraat (kini Jl. Trikora): Dari Alun-alun hingga perempatan air mancur.
  2. Residentielaan (kini Jl. A. Yani): Dari jam antik Gedung Agung ke utara.
  3. Petjinan: Kawasan yang didominasi penduduk keturunan Tionghoa.
  4. Malioboro: Ruas dari perempatan besar menuju Stasiun Tugu.

Asal-usul Nama Malioboro: Inggris atau Sanskerta?

Yogyakarta, Malioboro, Sejarah dan Asal-usul Nama Malioboro, Benarkah dari Gelar Jenderal Inggris?, Proyeksi Kunjungan Wisatawan Malioboro, Menilik Sejarah Malioboro, dari Jalan Kerajaan, Asal-usul Nama Malioboro: Inggris atau Sanskerta?, Makna Filosofis Sangkan Paraning Dumadi

Ilustrasi kawasan Malioboro.

Terdapat perdebatan menarik mengenai asal-usul nama Malioboro. Banyak yang mengira nama ini diambil dari gelar jenderal Inggris, John Churchill, yakni "1st Duke of Marlborough".

Namun, teori ini disanggah oleh para ahli sejarah.

, Peter Carey, dalam bukunya "Asal Usul Nama Yogyakarta-Malioboro", merujuk pada tulisan Dr. O.W. Tichelaar yang menyebutkan bahwa Malioboro berasal dari bahasa Sanskerta, yakni "malyabhara".

"Malya" berarti untaian bunga, sementara "Bhara" berarti tugas atau menyandang. Secara etimologi, Malioboro dapat diartikan sebagai "jalan yang dihiasi untaian bunga."

Hal ini merujuk pada fungsi Malioboro sebagai rajamarga atau jalan raya seremonial untuk menyambut tamu-tamu kerajaan.

Analisis lain dari Tumenggung Jurumartani juga menyebutkan bahwa Malioboro berasal dari kata Malya dan Bbara yang berarti "Dharmaning Ratu" atau tugas suci seorang pemimpin.

Makna Filosofis Sangkan Paraning Dumadi

Lebih dari sekadar tempat belanja dan kuliner, Malioboro merupakan bagian dari Sumbu Filosofis Yogyakarta yang menghubungkan Panggung Krapyak, Keraton, dan Tugu Pal Putih.

Dalam buku "Profil Yogyakarta 'City of Philosophy'" karya Umar Priyono dkk., dijelaskan dua konsep utama kehidupan:

  1. Sangkaning Dumadi: Perjalanan dari Panggung Krapyak menuju Keraton yang melambangkan proses manusia dari kandungan, lahir, hingga dewasa dan menikah.
  2. Paraning Dumadi: Perjalanan dari Tugu Golong Gilig (Tugu Pal Putih) ke arah selatan menuju Keraton yang menggambarkan perjalanan manusia kembali menghadap Sang Khalik (alam baka).

Kini, meski suasana Malioboro telah berubah dari ketenangan malam tahun 1960-an, saat para penyair menulis puisi di sela pedagang gudeg lesehan, menjadi pusat keramaian modern yang terang benderang, daya tariknya sebagai simbol budaya dan wisata tetap tak tergantikan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang