Industri Pangan Masih Perkasa, Kontribusi Besar ke Ekspor RI
Industri makanan dan minuman masih menjadi salah satu sektor utama penopang perekonomian nasional, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi perdagangan internasional. Kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menunjukkan peran strategisnya dalam struktur industri pengolahan Indonesia, baik dari sisi produksi, nilai tambah, maupun ekspor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri makanan dan minuman (mamin) pada kuartal pertama tahun 2025 memberikan kontribusi sebesar 7,2 persen terhadap PDB nasional dan menyumbang 72,2 persen terhadap PDB industri nonmigas.
Capaian tersebut menempatkan industri pangan sebagai salah satu penggerak utama perekonomian nasional, sekaligus sektor yang relatif stabil dalam menghadapi dinamika pasar global.
Di tingkat regional, Jawa Timur tercatat sebagai salah satu provinsi dengan kontribusi ekspor terbesar secara nasional. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, nilai ekspor Jawa Timur mencapai US$24,46 miliar atau tumbuh 12,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai eksportir peringkat kedua secara nasional dan menegaskan perannya sebagai basis industri berorientasi ekspor. Capaian tersebut disampaikan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri dalam kegiatan Pelepasan Ekspor Serentak yang digelar di Mojokerto pada 17 Desember 2025.
Kegiatan Pelepasan Ekspor Serentak di Mojokerto
“Sepanjang Januari – Oktober 2025, nilai ekspor Jawa Timur mencapai US$24,46 miliar, tumbuh 12,75 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 dan menempatkan Jawa Timur sebagai eksportir peringkat kedua secara nasional,” ujarnya sebagaimana dikutip dari siaran pers, Jumat, 19 Desember 2025.
Capaian ini, sambungnya, menegaskan peran provinsi Jawa Timur sebagai salah satu tulang punggung ekspor Tanah Air. Kegiatan tersebut diikuti oleh delapan perusahaan asal Jawa Timur dan dihadiri oleh Wakil Menteri Perdagangan beserta jajaran, Bupati Mojokerto Muhammad Al Barra, serta perwakilan pelaku industri.
Pelepasan ekspor ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mendorong kinerja ekspor nasional melalui peningkatan partisipasi sektor industri pengolahan. Salah satu perusahaan yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah PT Lautan Natural Krimerindo (LNK), produsen bahan pangan (food ingredients) yang telah melakukan ekspor sejak 2016.
Hingga saat ini, perusahaan tersebut telah menjangkau lebih dari 40 negara tujuan ekspor. Pada pelepasan ekspor kali ini, LNK melepas pengiriman produk ke Malaysia dan sejumlah negara lain dengan nilai sekitar US$1,5 juta.
Produk yang diekspor mencakup krimer nabati, bubuk tinggi serat FiberCreme, bubuk kelapa, whip cream, serta berbagai bahan pangan fungsional yang digunakan oleh industri makanan dan minuman global. Aktivitas ekspor ini mencerminkan peran industri bahan baku pangan dalam mendukung rantai pasok industri makanan dan minuman lintas negara.
Dalam konteks ekspor, industri pangan Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Perbedaan regulasi dan standar mutu di negara tujuan, serta kebijakan bea masuk, menjadi faktor yang dapat memengaruhi daya saing produk nasional dibandingkan negara lain, khususnya di kawasan ASEAN.
Hal ini disampaikan oleh Hendrik Gunawan, Chief Executive PT Lautan Natural Krimerindo. Ia menjelaskan bahwa eksportir Indonesia perlu melakukan penyesuaian berkelanjutan agar dapat bertahan di pasar global.
Untuk merespons tantangan tersebut, perusahaan melakukan peningkatan kualitas, efisiensi produksi, serta adaptasi produk sesuai kebutuhan pasar internasional. Selain itu, peran pemerintah dinilai penting dalam memfasilitasi akses pasar dan mendukung diplomasi dagang.
LNK juga menyebut pentingnya peran Kementerian Perdagangan sebagai mitra strategis dalam promosi internasional dan perluasan pasar ekspor. Terkait arah pengembangan usaha ke depan, perusahaan menyampaikan rencana ekspansi dan penguatan portofolio produk.
“Ke depan, kami menargetkan ekspansi ke beberapa negara yang menjadi fokus utama, serta peningkatan nilai ekspor secara berkelanjutan. Pengembangan usaha akan diarahkan pada produk-produk bernilai tambah, dengan tetap berfokus pada segmen industri B2B, sekaligus melakukan ekspansi ke segmen Food Service (HoReCa) melalui penguatan portofolio produk cair (liquid products),” ungkap Hendrik Gunawan.
Ia juga menyampaikan bahwa seluruh langkah tersebut dijalankan dengan tetap memperhatikan komitmen perusahaan terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan.