Pelatih Pencak Silat Malaysia Dituding Serang Wasit Filipina SEA Games 2025, NOC Filipina: Tak Sepatutnya Emosi
Kontroversi perwasitan mewarnai pelaksanaan SEA Games 2025 Thailand. Insiden ini terjadi di arena pencak silat dan berujung kericuhan yang melibatkan kontingen Malaysia serta wasit asal Filipina usai laga dengan keputusan yang dipersoalkan.
Insiden tersebut terjadi pada pertandingan pencak silat nomor women’s class B (50–55 kg) yang digelar Senin, 15 Desember 2025. Atlet Malaysia Mazlan Nor Farah menghadapi wakil tuan rumah Thailand Rueanthong Chongtihima dalam laga ketat yang berakhir imbang dengan skor 60–60.
Wasit asal Filipina yang memimpin pertandingan kemudian menetapkan Rueanthong Chongtihima sebagai pemenang. Keputusan itu diambil karena atlet Thailand dinilai memiliki jumlah pelanggaran yang lebih sedikit dibandingkan Mazlan Nor Farah.
Keputusan tersebut memicu protes keras dari kontingen Malaysia. Situasi di sekitar arena pertandingan pun memanas. Sejumlah ofisial Malaysia dilaporkan berteriak dan mengejar wasit hingga muncul tudingan adanya aksi penyerangan terhadap wasit Filipina dan panitia pelaksana.
Presiden Komite Olimpiade Nasional (NOC) Filipina, Bambol Tolentino, angkat bicara menanggapi insiden tersebut. Ia memastikan bahwa wasit yang bersangkutan berada dalam kondisi aman.
“Seorang wasit pencak silat dari Filipina pada SEA Games 2025 diserang oleh pelatih Malaysia. Beliau saat ini dalam keadaan sehat,” kata Bambol Tolentino dikutip tvOne.
Tolentino juga menegaskan bahwa wasit telah menjalankan tugasnya sesuai dengan aturan dan memimpin pertandingan secara adil. Meski demikian, pihak Filipina memilih tidak memperpanjang persoalan tersebut.
Menurut Tolentino, pihaknya memahami bahwa insiden itu dipicu oleh kekecewaan akibat hasil pertandingan. Namun ia tetap menekankan pentingnya menjaga sportivitas dalam ajang multievent seperti SEA Games.
Sikap serupa disampaikan Presiden Federasi Pencak Silat Filipina, Princess Kiram. Ia menilai emosi dan ego tidak seharusnya diluapkan secara berlebihan, apalagi dengan melibatkan kekerasan.
“Ego dan kekecewaan tidak sepatutnya diterjemahkan menjadi emosi berlebih terhadap sesama, baik itu wasit, atlet, maupun panitia. Ingat, kita mewakili bendera negara kita,” ujar Princess Kiram.
Terlepas dari kontroversi tersebut, hasil pertandingan akhirnya tetap berlaku. Rueanthong Chongtihima yang dinyatakan menang atas atlet Malaysia justru harus tersingkir di babak semifinal setelah kalah dari wakil Vietnam, Duong Thi Hai Quyen.
Menariknya, nomor pertandingan tersebut akhirnya dimenangkan oleh atlet Indonesia, Meilani Safira Dwi, yang berhasil meraih medali emas dan mengakhiri persaingan di kelas tersebut.