Dari Ereksi hingga Ejakulasi, Ini Penjelasan Dokter tentang Vasektomi
Vasektomi masih sering dikaitkan dengan berbagai mitos yang membuat banyak pria enggan mempertimbangkannya sebagai metode kontrasepsi.
Ketakutan soal menurunnya libido, hilangnya kemampuan ereksi, hingga kekhawatiran tidak bisa ejakulasi masih banyak ditemui.
Menurut Dokter Spesialis Urologi dr. Dimas Tri Prasetyo, Sp.U., MRes., sebagian besar mitos tersebut tidak benar dan perlu diluruskan.
“Mitos-mitos yang paling sering ditanya (tentang) vasektomi yang pertama adalah vasektomi mengganggu libido atau mengganggu performa,” ujarnya dalam acara pembukaan Elysium Clinic di Jakarta Selatan, Selasa (9/12/2025).
1. Vasektomi tidak membuat libido menurun
Banyak pria khawatir bahwa vasektomi akan menurunkan gairah seksual. Kekhawatiran ini muncul karena vasektomi dianggap memengaruhi hormon seksual.
Padahal, tindakan vasektomi hanya memotong saluran sperma, bukan mengganggu produksi hormon testosteron di testis.
Dokter Dimas menegaskan bahwa anggapan tersebut keliru. Libido tetap sama seperti sebelum operasi, dan keinginan seksual tidak berubah karena fungsi hormonal tidak tersentuh oleh prosedur ini.
2. Pria tetap bisa ereksi setelah vasektomi
Mitos lain yang sering membuat pria ragu adalah anggapan bahwa vasektomi menyebabkan disfungsi ereksi. Padahal, kemampuan ereksi bergantung pada aliran darah dan saraf di penis, bukan pada saluran sperma.
“Mitos yang lain adalah tidak bisa berdiri, tidak bisa ereksi. Itu juga tidak,” kata dr. Dimas.
Karena prosedur vasektomi tidak menyentuh jaringan ereksi, kemampuan ereksi tidak berubah. Pria tetap dapat berhubungan seksual seperti biasa tanpa gangguan fisik akibat prosedur ini.
3. Ejakulasi tetap terjadi
Banyak pria mengira bahwa setelah saluran sperma dipotong, ejakulasi akan hilang. Padahal, sperma hanya menyumbang sebagian kecil dari volume cairan mani.
“Pertanyaan setelah vasektomi, apakah bisa ejakulasi atau tidak? Bisa,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, dr. Dimas mengatakan bahwa sperma hanya berkontribusi sekian persen dari semua cairan mani.
“Sperma itu cuma berkontribusi tiga sampai empat persen saja dari seluruh cairan mani. Sebagian besar cairan mani diproduksi dari prostat dan vesika seminalis,” jelasnya.
Oleh sebab itu, setelah vasektomi, cairan ejakulasi tetap keluar dengan warna dan tekstur yang sama. Bedanya, cairan tersebut tidak lagi mengandung sperma.
Prosedur vasektomi singkat dan tanpa sayatan
Selain aman terhadap fungsi seksual, saat ini vasektomi juga dapat dilakukan dengan prosedur yang cepat dan minim pemulihan.
Tindakan ini dapat dilakukan tanpa sayatan dan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Banyak pasien bahkan bisa kembali beraktivitas pada hari yang sama.
“Tindakannya bisa 30 menit tanpa sayatan. Satu minggu setelahnya sudah tidak kelihatan lagi bekasnya,” kata dr. Dimas.
“Pasien saya ada yang makan siang setelah vasektomi, setelah jam istirahat makan siang dia kembali lagi ke kantornya,” tambahnya.
Di samping itu, dr. Dimas menyarankan agar pasien tetap menggunakan kontrasepsi selama tiga bulan pertama setelah tindakan vasektomi karena masih ada kemungkinan sel sperma tersisa di saluran.
Menurut dr. Dimas, pasien dapat melakukan pemeriksaan analisis sperma setelah tiga bulan untuk memastikan jumlah sperma sudah nol.
“Setelah tiga bulan pertama setelah tindakan vasektomi, pasien bisa melakukan cek analisa sperma untuk memastikan sudah nol,” saran dr. Dimas.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang