Pengamat Ungkap Efek Domino Absennya Insentif Otomotif di 2026
Pemerintah tampaknya tidak akan memberikan insentif otomotif di 2026 seperti yang dikucurkan beberapa waktu lalu. Hal tersebut bisa berdampak pada banyak hal.
Salah satunya harga mobil listrik atau Electric Vehicle (EV). Perlu diketahui saat ini banyak merek memenuhi kriteria seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen sehingga berhak mendapatkan insentif.
Insentif otomotif untuk mobil listrik diberikan dalam bentuk potongan pajak. Berkat subsidi itu penjualan EV di Indonesia mulai menunjukkan tren positif.
Kemudian semakin banyak investor tertarik menanamkan modal. Ditambah, insentif otomotif itu juga berlaku untuk mobil Completely Built Up (CBU) alias impor utuh dengan komitmen perakitan lokal di 2026.

Jika tidak ada bantuan tersebut, harga mobil listrik diprediksi mengalami kenaikan cukup signifikan.
“Tanpa insentif, harga jual bisa naik hingga 11 persen untuk pajak saja atau total 5 sampai 30 persen tergantung segmen dan langsung mengurangi daya beli konsumen,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO belum lama ini.
Dia menegaskan absennya insentif akan berdampak besar pada mobil-mobil di segmen menengah ke bawah yang merupakan pasar sensitif terhadap perubahan banderol, seperti Low Cost Green Car (LCGC).
Kemudian setelah harga mobil naik, banyak calon pembeli diprediksi kembali melakukan penundaan pembelian.
“Khususnya generasi milenial dan Gen Z yang rasional dan value-oriented, bisa menunda keputusan beli atau beralih ke mobil bekas,” kata Yannes.
Pada akhirnya, ketiadaan insentif otomotif berisiko memperlambat pertumbuhan pasar serta adopsi mobil listrik rakitan lokal.
Perbedaan pendapat antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perekonomian terkait insentif otomotif juga menimbulkan ketidakpastian buat banyak pihak.
“Konsumen semakin ragu belanja besar seperti mobil, investor ogah tanam modal baru dan industri yang sudah lesu sejak 2025 semakin terpuruk tanpa sinyal jelas dari pemerintah,” tegas Yannes.
Oleh karena itu, dibutuhkan adanya kebijakan terarah dan satu suara khususnya terkait insentif otomotif sebagai stimulus pasar yang tengah lesu.

Sebagai informasi, Gaikindo sudah melakukan revisi target penjualan mobil baru di 2025 menjadi 780.000 unit.
Sebelumnya Gaikindo sempat menetapkan target optimistis di angka 850.000 sampai 900.000 unit di akhir 2025.
Namun melihat kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya, akhirnya target tersebut direvisi.