Prancis Lagi Memelas ke China supaya Tidak Keras
Presiden Prancis Emmanuel Macron akan melakukan perjalanan ke China pada pekan ini. Kunjungan tersebut bertujuan menurunkan tensi panas di tengah ancaman ekonomi dan keamanan dari Beijing.
Sebab, sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, di mana Paris turut menggantungkan sektor perdagangannya di tengah gejolak perdagangan global.
Menurut para analis, sebelumnya Macron telah berupaya menampilkan sikap tegas ketika bernegosiasi dengan China sambil berhati-hati agar tidak memicu ketegangan dengan Beijing yang terlihat semakin agresif dalam memperkuat posisinya hingga menguji hubungan perdagangan, keamanan, dan diplomatik.
“Dia harus menegaskan kepada para pemimpin China bahwa Uni Eropa akan merespons peningkatan ancaman ekonomi dan keamanan dari Beijing, sambil mencegah eskalasi ketegangan yang bisa berujung ke perang dagang besar-besaran dan keretakan hubungan diplomatik. Ini pesan yang tidak mudah untuk disampaikan,” kata Noah Barkin, analis China dari Rhodium Group kepada Reuters, Rabu, 3 Desember 2025.
China mengguncang Uni Eropa
Emmanuel Macron akan memulai kunjungannya dengan mengunjungi Forbidden City atau Kota Terlarang, Beijing, China, pada Rabu hari ini.
Keeesokan harinya, ia dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping. Kedua kepala negara tersebut juga dijadwalkan berjumpa dalam perjalanan menuju Chengdu, provinsi Sichuan, pada 5 Desember mendatang.
Kunjungan Macron ke China terjadi setelah kunjungan menegangkan Presiden Uni Eropa, Ursula von der Leyen, pada Juli 2025.
Saat itu, Ursula menyatakan bahwa relasi antara Uni Eropa dan China berada di tahap “titik balik” yang berpotensi berdampak pada perubahan besar.
Kunjungan Emmanuel Macron juga akan diikuti dengan kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Kanselir Jerman Friedrich Merz pada awal 2026.
Ketegangan hubungan dagang antara Uni Eropa dan China meningkat sejak ekspor murah negara Tirai Bambu tersebut, terutama sektor baja, tersingkir oleh pasar Amerika Serikat (AS).
Hal ini turut mengguncang sektor industri di Benua Biru. Uni Eropa pun khawatir dengan pertumbuhan tekonologi China, khususnya kendaraan listrik dan pengolahan mineral kritis, yang dapat mengancam pasokan bagi industri di sana.
Beijing memanfaatkan peluang untuk menampilkan diri sebagai mitra bisnis di tengah tarif perdagangan dari AS yang menekan arus perdagangan global.
Hal ini diharapkan meredakan kekhawatiran Eropa atas dukungan China terhadap Rusia serta model industrinya yang disubsidi negara.
Menjelang kunjungan kenegaraan itu, para penasihat Emmanuel Macron menyatakan perlunya mendorong penyeimbangan dinamika perdagangan agar China meningkatkan konsumsi domestik.
Para penasihatnya pun berharap Beijing bisa “bagi-bagi keuntungan dari inovasi yang dihasilkan,” sehingga Uni Eropa bisa memperoleh akses ke teknologi China.
Prancis berupaya menarik lebih banyak investasi dari perusahaan-perusahaan China dan memfasilitasi akses pasar bagi ekspor Prancis.
Selama kunjungan tersebut, pejabat dari kedua negara diperkirakan akan menandatangani beberapa perjanjian di sektor energi, industri makanan, dan penerbangan.
"Presiden berkomitmen untuk memperjuangkan “akses pasar yang adil dan timbal balik,” demikian keterangan resmi juru bicara Kepresidenan Prancis, seperti dikutip dari situs DW.
Prancis akan menjadi tuan rumah KTT Kelompok Tujuh (G7) pada 2026 yang melibatkan pihak ekonomi-ekonomi terkemuka dunia, sementara China akan memimpin forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (Asia-Pacific Economic Cooperation/APEC) yang beranggotakan 21 negara, termasuk AS, Korea Selatan, Jepang, Australia, dan Rusia.
Blok 27 negara ini mengalami defisit perdagangan besar dengan China, berkisar lebih dari 300 miliar Euro (Rp5.806 triliun) pada 2024. Beijing mewakili 46 persen dari total defisit perdagangan Prancis. Ya, Prancis dan Uni Eropa telah menggambarkan China sebagai mitra, pesaing, dan juga rival sistemik.