Setumpuk Kain Tenun, Kuda, dan Bukti Cinta di Tanah Sumba

Alih alih menemukan sapi yang dilepas di padang ilalang, saya malah menemukan kuda liar di sepanjang jalanan Waingapu, sebuah kota kecil di timur Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Bukan di area hutan, kuda liar di Waingapu justru kerap ditemui di halaman rumah warga, di kandang samping rumah, bahkan melintas lepas di jalan utama.
Sekitar lima menit keluar dari area Bandara Umbu Mehang Kunda, saya sudah mendapati kuda liar berdiri gagah di pinggir jalan.
Muka heran sekaligus kagum saya, seketika langsung disambut tawa jenaka oleh Hendra, pengemudi yang menjemput kami di bandara, pada Selasa (25/11/2025) sore.
"Di Waingapu memang banyak kuda, Kakak. Kuda-kuda itu tidak cuma menjadi hewan peliharaan, tetapi juga jadi mahar untuk orang yang akan menikah," kata Hendra, kala mobil yang kami tumpangi melintasi rumah warga yang punya kandang kuda.
Kompas.com bersama kuda dan seorang anak di Kampung Raja Praingu Praliu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (27/11/2025).
Sembari menunjuk beberapa kuda yang ada di jalanan, Hendra bercerita bahwa kuda di Sumba, khususnya di Waingapu, merupakan aset yang sangat berharga-selain kain tenun tentunya.Bagaimana tidak, sambungnya, setiap laki-laki di Tanah Sumba yang akan menikah, wajib menjadikan kuda sebagai mahar.
Jumlah kuda yang dipersembahkan kepada perempuan pun tak tanggung-tanggung. Bisa berbilang puluhan hingga ratusan ekor.
Ketentuan jumlah kuda ini, lanjut Hendra, akan ditentukan dari hasil kesepakatan secara adat antara pihak laki-laki dan pihak perempuan.
"Biasanya, semakin tinggi nilai perempuannya, jumlahnya akan semakin besar. Tapi itu tergantung hasil kesepakatan antara kedua belah pihak," kata Hendra.
Sekitar lima menit sebelum tiba di penginapan, Hendra juga bercerita bahwa harga seekor kuda di Sumba biasanya dipatok mulai dari Rp 8 juta.
Potrait pemandangan matahari terbit dari Bukit Tanarara, Sumba, Nusa Tenggara Timur, Rabu (26/11/2025).
Mengingat harga seekor kuda yang relatif mahal, dan jumlah yang harus diberikan tidak tergolong sedikit.
Hal ini membuat sebagian besar masyarakat di Sumba menunda untuk menggelar resepsi secara adat, meskipun sudah resmi menikah secara hukum negara.
Resepsi secara adat, kata Hendra, biasanya akan dilakukan menyusul setelah syarat secara adat sudah terpenuhi.
Hendra menyambung, dengan kata lain, mahar yang cukup besar tersebut merupakan bukti besarnya pengorbanan cinta untuk pernikahan di Tanah Sumba.
Kain tenun, balasan mahar kuda di Sumba
Tenun Sumba, menjadi balasan mahar dari pihak perempuan kepada pihak laki laki dalam resepsi pernikahan adat di Sumba, Nusa Tenggara Timur, Rabu (26/11/2025).
Kalau kuda menjadi mahar dari laki-laki untuk perempuan di Sumba, perempuan nantinya juga akan membalas mahar tersebut dengan perhiasan dan bertumpuk-tumpuk kain tenun asli Sumba.Mama Renol, pengarajin tenun asli Sumba di Kampung Raja Praingu Prailiu mengatakan, khusus di Sumba Timur, jumlah kuda yang dibawa sebagai mahar bisa dinegosiasi dalam forum adat.
Namun, lain halnya dengan Sumba Barat, jumlah kuda yang ditetapkan harus sesuai dengan jumlah yang diinginkan oleh keluarga perempuan.
"Ketika sudah tiba tanggal yang ditentukan, pihak perempuan akan membawa (balasan mahar), mulai dari hal kecil yang mereka punya," kata Mama Renol saat ditemui di pendopo rumahnya, Kampung Raja Praingu Prailiu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (27/11/2025).
Mama Renol, salah satu pengrajin tenun asli Sumba di Kampung Raja Praingu Prailiu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Kamis (27/11/2025)..
Sembari melipat tenun, Mama Renol bercerita, balasan mahar yang diberikan oleh pihak perempuan, biasanya mulai dari sirih pinang, perhiasan, isi lemari, dan ratusan kain tenun asli Sumba.Mama Renol mengatakan, bagi orang Sumba, kain tenun merupakan harta yang paling berharga dibanding uang.
"Hartanya orang Sumba yaitu kain, kalau dibilang punya uang, kami tidak punya uang, tetapi kami kaya akan budaya," kata Mama Renol.
Di Sumba, khususnya di Sumba Timur, sambungnya, masyarakat sangat mengutamakan adat istiadat.
Bagi orang Sumba, kata Mama Renol, adat dan budaya merupakan aspek yang mengikat dalam menjalani kehidupan.
Tenun Sumba, menjadi balasan mahar dari pihak perempuan kepada pihak laki laki dalam resepsi pernikahan adat di Sumba, Nusa Tenggara Timur, Rabu (26/11/2025).
"Kami menganggap adat budaya yang mengikat kami, bagaimana kita hidup di dunia ini. Harta itu hanya sementara saja, tapi kalau kita berbuat baik, itu kekal," ujar Mama Renol.Jika penasaran dengan proses pembuatan dan makna tenun asli Sumba, kamu bisa mampir ke Kampung Raja Praingu Prailiu. Lokasinya ada di kawasan Prailiu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.
Tidak ada biaya masuk yang perlu dibayar, kamu bisa langsung masuk dan melihat-lihat tenun asli Sumba.
Di sana juga ada penyewaan kostum tenun untuk wisatawan, dan ada pula hasil tenun yang bisa dibeli untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang