Ramai Vandalisme, Pemerintah Kyoto Tebang Bambu di Hutan Arashiyama

kerusakan, vandalisme, Hutan Bambu Arashiyama, Ramai Vandalisme, Pemerintah Kyoto Tebang Bambu di Hutan Arashiyama

 Pemerintah Kota Kyoto mulai menebang sebagian tanaman bambu di Hutan Bambu Arashiyama setelah maraknya aksi vandalisme berupa ukiran tulisan di batang bambu.

Langkah ini diambil sebagai upaya pelestarian setelah kerusakan semakin parah dalam beberapa bulan terakhir.

Arashiyama, yang terletak di Distrik Ukyo, merupakan salah satu destinasi wisata paling populer bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Namun, investigasi pemerintah kota mencatat sekitar 350 batang bambu rusak sejak musim semi 2025.

Saat ditemui 17 November lalu, ukiran bertuliskan huruf kanji, hiragana, hingga inisial berbahasa asing terlihat jelas di sepanjang jalur pedestrian yang kerap dipadati pengunjung.

Seorang pengunjung berusia 34 tahun dari Prefektur Aichi mengaku kecewa.

“Ada ukiran tulisan di mana-mana, dan ini merusak pemandangan,” ujarnya.

Menurut Pemerintah Kota Kyoto, area jalur wisata tersebut mencakup sekitar 2,3 hektar lahan milik pemerintah dan terdapat sekitar 7.000 batang bambu tumbuh secara alami.

Dari jumlah itu, ratusan telah dipastikan mengalami kerusakan permanen.

Kepolisian Prefektur Kyoto menegaskan bahwa tindakan mengukir bambu termasuk tindak pidana perusakan properti.

Penebangan bambu sebenarnya tidak diperbolehkan di kawasan tersebut.

Namun, pemerintah kota menetapkannya sebagai tindakan pelestarian khusus untuk mendorong jarak rumpun bambu menjauh dari jalur wisata, sehingga wisatawan tidak mudah menyentuh atau merusaknya. Sekitar 20 batang bambu telah ditebang dalam tahap awal.

Kepala Divisi Pelestarian Lanskap Kota Kyoto, Misao Hashimoto, menyayangkan kondisi tersebut.

“Hutan bambu adalah milik warga. Lanskap indah Arashiyama dijaga melalui kerja sama masyarakat, dan sangat disayangkan ada yang sengaja merusaknya,” katanya.

Warga setempat sebelumnya telah mencoba mencegah tindakan vandalisme dengan memasang poster peringatan dan menutup ukiran menggunakan selotip, tetapi kerusakan tetap berlanjut.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang