Wilayah Terdampak Bencana Hidrometeorologi di Sumut Meluas, 13 Kabupaten/Kota Ini Diterpa Banjir–Longsor
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara (Sumut) melaporkan bahwa 13 kabupaten/kota di provinsi tersebut terdampak bencana hidrometeorologi dalam beberapa hari terakhir.
Bencana yang terjadi meliputi banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor, yang menyebar di berbagai wilayah dan menimbulkan dampak signifikan terhadap ribuan warga.
Data sementara Pusdalops PB Sumut mencatat sembilan kabupaten dan empat kota mengalami bencana alam, yaitu Kabupaten Langkat, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Pakpak Bharat, Nias Selatan, Humbang Hasundutan, dan Deliserdang. Sementara empat kota terdampak meliputi Padang Sidempuan, Binjai, Medan, dan Sibolga.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, atau Yuyun, menjelaskan bahwa laporan tersebut masih bersifat sementara.
"Untuk perkembangan atas bencana itu akan terus diinformasikan termasuk data-datanya," ujarnya.
Daerah Mana yang Sudah Menetapkan Status Tanggap Darurat?
Tiga kabupaten telah menetapkan status tanggap darurat, yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal.
Status ini diberlakukan dalam rentang waktu berbeda sesuai tingkat kerusakan dan kebutuhan penanganan.
- Kabupaten Tapanuli Utara menetapkan tanggap darurat sejak 25 November hingga 9 Desember 2025.
- Kabupaten Tapanuli Selatan berlaku sejak 24 November hingga 7 Desember 2025.
- Kabupaten Mandailing Natal menetapkan tanggap darurat sejak 26 November hingga 9 Desember 2025.
Penetapan status tersebut memungkinkan percepatan mobilisasi logistik, alat berat, serta koordinasi antarlembaga di tingkat daerah dan provinsi.
Banjir di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Hingga, Rabu (26/11/2025) sedikitnya, 8 orang meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara
Berapa Banyak Warga yang Mengungsi?
Pusdalops PB Sumut mencatat ribuan warga terdampak dan ratusan di antaranya harus mengungsi. Di Tapanuli Utara, bencana banjir bandang dan longsor menyebabkan 19 kepala keluarga mengungsi.
Di Tapanuli Selatan, dampaknya jauh lebih besar dengan 3.000 jiwa yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Sementara itu, Mandailing Natal mengalami kombinasi banjir bandang, tanah longsor, dan cuaca ekstrem yang menyebabkan 776 warga mengungsi dari permukiman yang terendam maupun berada di area rawan.
Apa Penyebab Cuaca Ekstrem di Sumatera Utara?
Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem yang melanda Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh Siklon Tropis Senyar.
Fenomena ini merupakan perkembangan dari Bibit Siklon Tropis 95B yang telah muncul sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh, Selat Malaka.
"Dampaknya dalam satu minggu terakhir, wilayah Sumatera Utara dilanda hujan setiap hari," jelas Hendro.
Siklon Tropis Senyar meningkatkan intensitas hujan dan memicu potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga ekstrem, gelombang tinggi, serta angin kencang.
Kondisi ini diperparah dengan kelembapan udara yang sangat tinggi, membuat udara di wilayah Sumut cukup basah dan semakin mendukung hujan intensitas lebat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang