Denny JA dan Inovasi Puisi Esai yang Mengantarnya ke BRICS Award

Denny JA
Denny JA

 Keberhasilan Denny JA meraih BRICS Award for Literary Innovation menegaskan bahwa inovasi sastra dari Indonesia mampu menggema hingga ke panggung global. Karya eksperimentalnya berupa puisi esai, sebuah genre yang ia ciptakan lebih dari satu dekade lalu, menjadi alasan utama penghargaan prestisius itu diberikan. Genre ini memadukan puisi liris, narasi, dan elemen faktual dalam satu bentuk yang menyuarakan tragedi sosial sekaligus mengangkat kedalaman data.

Di tengah dominasi wacana sastra yang condong ke Barat, keberadaan puisi esai tampil sebagai alternatif dari Global South. Denny menekankan bahwa negara-negara Asia, Afrika, hingga Amerika Latin juga memiliki kekuatan sastra yang layak mendapatkan ruang lebih luas.

“Berbagai negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin juga memiliki suara sastra yang mampu menyeimbangkan dominasi Barat,” dalam keterangannya yang dikutip dari Instagram @dennyjafoundation pada Kamis, 27 November 2025.

Penghargaan BRICS yang akan diberikan di Khabarovsk, Rusia, pada akhir November 2025 itu menjadi validasi bahwa terobosan sastra dari Indonesia diperhitungkan di tingkat internasional.

BRICS Literature Award sendiri merupakan penghargaan yang lahir dari Forum ‘Traditional Values’ 2024. Para kandidat diseleksi melalui longlist, shortlist, hingga penentuan pemenang oleh juri lintas negara. Penilaian bukan hanya pada kualitas estetika, tetapi juga kontribusi karya terhadap nilai dan jiwa bangsa.

Denny JA mengonfirmasi menerima dua surat resmi dari pihak BRICS, termasuk dari Kepala Direksi Festival Seni Internasional BRICS. Dalam proses itu, ia juga beberapa kali diwawancarai mengenai pandangannya tentang puisi esai dan relevansinya bagi Global South.

“Di tengah dominasi wacana sastra dengan kiblat Amerika Serikat dan Eropa, BRICS Literature Award menegaskan pentingnya suara alternatif dari Global South, termasuk Indonesia,” katanya. 

Ia menambahkan bahwa penghargaan ini terasa sebagai bentuk pengakuan yang berarti, bukan sekadar pemberitahuan administratif.

“Undangan itu terasa bukan sekadar pemberitahuan administratif. Ia datang sebagai pengakuan sunyi tetapi besar,” tambahnya. 

Puisi esai bermula dari pertanyaan sederhana, bisakah puisi bersifat liris namun tetap berdiri di atas data dan narasi faktual? Eksperimen tersebut berkembang menjadi genre baru yang:

  • menggabungkan estetika puisi dengan laporan sosial,
  • menjadi medium dokumentasi tragedi dan harapan,
  • melahirkan komunitas penulis lintas generasi,
  • hingga menginspirasi festival regional seperti ASEAN Poetry Essay Festival.

Denny menyadari bahwa inovasi harus didukung ekosistem yang kuat. Karena itu, melalui Denny JA Foundation, ia mendirikan dana abadi untuk menjamin keberlanjutan puisi esai.

“Kadang, langkah kecil yang kita ayunkan sendiri tanpa sorotan, ternyata membentuk jalan yang dilihat dunia.”

Acara pemberian penghargaan di Khabarovsk akan menampilkan rangkaian kegiatan seni seperti pameran multidisipliner, festival fotografi, kelas sinematografi, serta penayangan film pemenang BRICS Film Festival.

Penghargaan ini turut memperkuat posisi Indonesia dalam peta sastra dunia. Namun bagi Denny, yang terpenting bukanlah seremoni besar, melainkan pesan bahwa puisi esai kini telah diakui sebagai bagian penting ekosistem sastra global.

“Penghargaan dapat pudar oleh waktu. Namun karya yang lahir dari kejujuran akan menemukan jalannya sendiri—ke tangan siapa pun yang membutuhkannya.”