Air Hujan di Solo Terkontaminasi Microplastik, Bahayakan Kesehatan

Air Hujan di Solo Terkontaminasi Microplastik, Bahayakan Kesehatan

TIM Microplastic Hunter dari Ecoton Foundation menemukan keberadaan mikroplastik dalam air hujan di wilayah Boyolali dan Solo. Pengambilan sampel dilakukan pada 23 November 2025 di lima titik, yakni Jl Kemuning (Solo), Jl Hassanudin (Solo), Jl Tol Ngemplak (Boyolali), Jl Slamet Riyadi (Solo), serta satu titik kontrol dari kota lain. Penelitian dilakukan dengan menempatkan wadah aluminium, stainless steel, dan wadah setoples kaca dengan diameter 35 cm pada ketinggian lebih dari 1,5 meter selama 1-2 jam pada 4 lokasi utama dan 1 lokasi kontrol.

Hasil pengamatan awal menunjukkan konsentrasi mikroplastik tertinggi ditemukan di Jl Slamet Riyadi, Solo, dengan 125 partikel/liter, disusul Jl Tol Ngemplak Boyolali (78 partikel/liter) dan Jl Hassanudin Solo (75 partikel/liter).

Temuan ini didominasi mikroplastik jenis fiber (serat) dan sebagian kecil film/filamen. Dari sisi warna, mikroplastik hitam mendominasi hingga 71,3 persen, disusul warna biru (18,1 persen), merah (7,4 persen), dan transparan (3,2 persen). Temuan ini masih merupakan uji awal berbasis komposisi jenis dan warna.

“Ini sangat mengkhawatirkan, ternyata air hujan di Solo juga terkontaminasi mikroplastik. Jangan kebiasaan mangap saat hujan turun karena setiap tetes membawa risiko paparan plastik tambahan,” ujar Koordinator Tim Microplastic Hunter Ecoton Alaika Rahmatullah, Selasa (25/11).

Ia mengatakan ada tiga hal utama penyebab tingginya mikroplastik di air hujan Solo. Pertama, aktivitas pembakaran sampah terbuka, terutama plastik multilayer dan tekstil sintetis, yang melepaskan fiber ke atmosfer.

Kedua, abrasi ban kendaraan bermotor dan rem kendaraan, mengingat arus lalu lintas padat di jalur Solo-Boyolali. Ketiga, banyak sampah plastik yang dibuang sembarangan kemudian tercecer di lingkungan, yang turut melepaskan mikroplastik ke udara dan terbawa oleh air hujan.

“Mikroplastik berukuran sangat kecil (<5 mm - 1 mikron) dapat melayang dalam atmosfer ratusan kilometer, makanya semakin banyak orang yang membakar sampah, semakin banyak juga mikroplastik yang dilepaskan ke udara dan terbawa oleh air hujan” kata Sofi.

Mikroplastik dalam air hujan berdampak bagi kesehatan dan lingkungan. Menurutnya, dari sisi kesehatan, mikroplastik berpotensi membawa bahan kimia berbahaya seperti phthalates, BPA, logam berat, serta mikroorganisme patogen yang dapat menempel pada permukaannya. “Paparan jangka panjang melalui air, udara, dan makanan dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, gangguan hormon, hingga inflamasi kronis,” ujar Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton Rafika Aprilianti.

Selain itu, terdapat dampak ekologis yang tidak kalah penting. Sedimentasi mikroplastik yang terbawa air hujan dapat mencemari tanah, sawah, dan sungai yang menjadi sumber air baku bagi Kota Solo. “Air hujan tercemar ini berpotensi masuk ke sistem irigasi, memengaruhi kesehatan tanah, bahkan diserap tanaman yang kemudian masuk ke rantai pangan masyarakat,” tegasnya.

Ia menambahkan langkah mitigasi dan juga menghindari paparan mikroplastik di air hujan, Pemkot Kota Solo dan Pemkab Boyolali perlu menekan masyarakat dan produsen untuk setop menggunakan plastik dan melarang aktivitas pembakaran sampah.

“Perlu juga menerapan pengawasan dan penindakan pada titik-titik pembakaran sampah harus diperkuat. Publikasi atau sanksi sosial berupa pemasangan foto warga yang membakar sampah plastik dan membuang sampah plastik ke sungai,” pungkasnya.(Ismail/Jawa Tengah)