Terungkap Alasan Kenapa Wanita Mau Jadi Selingkuhan, Nomor Dua Bikin Melongo!
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika melihat perempuan lain dengan tega menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain? Meski hal tersebut tidak menimpa kita, namun sebagai sesama perempuan pasti ada rasa marah dan kesal terhadap perempuan tersebut.
Ketika dihadapkan dengan keadaan tersebut, tidak sedikit dari kita sering bertanya-tanya ’kok bisa sih perempuan nyakitin perempuan lain’ kalimat-kalimat senada itu pasti akan keluar dari dalam pikiran kita. Namun sayangnya, banyak dari wanita yang menjadi selingkuhan memilih santai saja dengan kritikan pedas kepadanya.
Lantas apa yang membuat perempuan memilih dan mau menjadi duri dalam rumah tangga orang lain? Melansir laman Soy Carmin, Minggu 23 November 2025, ternyata ada alasan-alasan psikologis yang dapat menjelaskan kenapa seorang perempuan memilih menjadi orang ketiga dan tidak peduli dengan omongan orang. Berikut tiga alasannya mengapa wanita memilih untuk menjadi selingkuhan.
1. Ketertarikan kuat dan sensasi adrenalin
Salah satu alasan yang paling umum adalah munculnya ketertarikan yang sangat kuat antara dua orang yang terlibat. Ketertarikan ini, ditambah dengan hasrat dan passion, bisa terasa sangat mendebarkan. Lonjakan adrenalin dan hormon kebahagiaan yang membanjiri otak dalam situasi seperti ini bisa menjadi candu, membuat perempuan tersebut terus melanjutkan hubungan itu meskipun mendapat banyak kritik dari luar.
2. Janji-janji yang tak pernah punya batas waktu
Dalam banyak kasus, hubungan perselingkuhan dipenuhi dengan janji-janji manis yang mungkin tidak pernah benar-benar ditepati, namun cukup untuk membuat seseorang terus bertahan. Janji-janji ini menciptakan ilusi masa depan dan stabilitas yang meski tidak nyata dirasa cukup untuk membuat perempuan memilih menjadi orang ketiga tanpa memedulikan penilaian orang lain.
3. Rendahnya rasa percaya diri dan kekosongan emosional
Rendahnya kepercayaan diri dan adanya kekosongan emosional menjadi faktor penentu dalam keputusan menjadi wanita ketiga. Banyak perempuan yang menerima peran ini merasa bahwa mereka tidak cukup berharga untuk membangun hubungan yang utuh, sehat, dan berkomitmen. Selain itu, kekosongan emosional yang sulit dipenuhi oleh hal lain dapat mendorong mereka untuk bertahan dalam hubungan seperti ini.