Rafflesia hasseltii Mekar di Jantung Hutan Sumatera, Begini Potret Langkanya

Sumatera Barat, Rafflesia hasseltii, sumatera barat, Rafflesia hasseltii langka, Rafflesia hasseltii Mekar di Jantung Hutan Sumatera, Begini Potret Langkanya

Rafflesia hasseltii kembali menunjukkan kemunculannya di hutan Sumatra.

Bunga langka yang dilindungi itu terlihat mekar di kawasan Hiring Batang Sumi, Kecamatan Sumpur Kudus, Sijunjung, Sumatera Barat, pada Selasa (18/11).Penemuan tersebut dilakukan oleh ahli biologi dari Universitas Oxford, Chris Thorogood, bersama pemandu lokal Septian Andriki dan tim pendamping lainnya. Mereka menemukan bunga raksasa ini di hutan hujan tropis terpencil yang menjadi habitat harimau dan hanya bisa dimasuki dengan izin khusus.

Perjalanan menuju lokasi tidak mudah. Chris dan tim melakukan pendakian siang dan malam sebelum akhirnya melihat Rafflesia hasseltii mekar pada malam hari. Chris menyebut momen itu sebagai pertemuan yang mengubah hidup selama perjalanannya di Sumatera.

Dalam video yang beredar di media sosial, Septian terlihat menangis haru saat akhirnya menyaksikan bunga itu mekar—hasil pencariannya selama 13 tahun.

Akun resmi University of Oxford di Instagram menyebut bahwa tanaman ini mungkin lebih sering dilihat oleh harimau dibanding manusia. Hanya sedikit orang yang pernah melihatnya langsung karena masa mekarnya sangat singkat, hanya beberapa hari sebelum layu.

Menurut laporan ANTARA, Rafflesia hasseltii terakhir kali tercatat mekar di perkebunan warga di Desa Tanjung Gelang, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, pada 2023.

Serba-serbi Rafflesia hasseltii

Mengutip Plantamor, Rafflesia hasseltii adalah tumbuhan holoparasit dari famili Rafflesiaceae yang bersifat menahun. Tumbuhan ini berasal dari bioma tropis basah di wilayah Sumatera bagian tengah dan barat, serta Kalimantan Barat.

Di Indonesia, spesies ini dikenal dengan sebutan cendawan matahari. Nama ilmiahnya pertama kali diperkenalkan oleh botanis Willem Frederik Reinier Suringar pada tahun 1879. Selain itu, masyarakat juga mengenalnya sebagai Cendawan Muka Rimau, yang berarti “Jamur Berwajah Harimau”. Julukan lain adalah Raflesia Merah Putih, merujuk pada warna merah kecoklatan dengan bercak-bercak putih besar dan tidak beraturan.

Secara hukum, Rafflesia hasseltii dilindungi melalui PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta berstatus genting (endangered) dalam Daftar Merah IUCN.

WWF mencatat bahwa ketika mekar, diameter bunga Rafflesia hasseltii bisa mencapai 30–50 cm, dengan cuping (perigone) berukuran 11–13 cm dan lebar 15–17 cm. Spesies ini merupakan parasit yang menumpang pada tumbuhan inang dari genus Tetrastigma leucostaphyllum, dengan wilayah sebaran meliputi Semenanjung Malaysia, Sarawak, dan Sumatra.

Di Sumatera, persebarannya terbatas pada kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Sanglap, Riau, Jambi, serta Taman Nasional Kerinci Seblat.

Dari total 25 spesies Rafflesia yang ada di dunia, 14 jenis berada di Indonesia, dan 11 di antaranya hidup di Pulau Sumatra.

Menurut Community for the Conservation and Research of Rafflesia (CCRR), sekitar 60 persen spesies Rafflesia kini terancam punah secara serius, setara dengan kategori kritis. Selain itu, 67 persen habitatnya berada di luar kawasan lindung, yang membuat keberadaan bunga langka ini semakin rentan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.