Agen Cole Palmer dan Kobbie Mainoo Bakal Gugat Premier League, Ini Penyebabnya

Cole Palmer
Cole Palmer

 Tensi dalam sepak bola Inggris kembali memanas. Tiga agensi besar, CAA Base, CAA Stellar, dan Wasserman, melayangkan ancaman tindakan hukum kepada Liga Premier terkait rencana penerapan aturan baru yang dinilai merugikan banyak pihak.

Mengutip laporan Sport Illustrated, aturan baru tersebut mencakup sistem “top to bottom anchoring” (TBA), yakni pembatasan gaji untuk 20 klub Premier League. Pembatasan ini disebut mencakup seluruh bentuk belanja pemain, mulai dari gaji, biaya agen, hingga nilai transfer. 

Selain itu, terdapat pula wacana mengganti aturan profit and sustainability rules (PSR) menjadi “squad cost ratio” (SCR), yang membatasi pengeluaran klub maksimal 85% dari pendapatan tahunan.

Kobbie Mainoo

Rancangan aturan ini akan diputuskan dalam rapat pemegang saham Liga Premier pada Jumat 21 November 2025 mendatang.

Menjelang pemungutan suara, ketiga agensi besar tersebut mengajukan keberatan melalui surat yang disampaikan oleh firma hukum Clifford Chance..

Dalam surat tersebut, mereka mengecam keras usulan TBA dan SCR, yang menurut mereka dapat merugikan pemain, klub, serta agen. 

Ketiga agensi juga menuduh Premier League membuat aturan ini tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu kepada para pemangku kepentingan yang terdampak langsung.

Daftar klien gabungan dari tiga agensi itu mencakup pemain-pemain top seperti Cole Palmer (Chelsea) dan Kobbie Mainoo (Manchester United), yang menunjukkan betapa besarnya pengaruh mereka dalam ekosistem sepak bola Inggris.

PFA Juga Siap Tantang Aturan Baru

Bukan hanya agensi pemain, Asosiasi Pesepakbola Profesional (PFA) turut menyatakan penolakan.

Ketua PFA,  Maheta Molango menegaskan bahwa pihaknya bakal mengambil tindakan untuk menantang aturan baru tersebut jika aturan itu diberlakukan.

“Para pakar persaingan usaha telah mempertanyakan proposal-proposal jangkar ini, yang belum memiliki preseden. Gugatan hukum tidak dapat dihindari,” kata Molango.

Menurut laporan yang sama, klub-klub besar seperti Manchester City dan Manchester United diperkirakan menjadi bagian dari kelompok yang menolak perubahan aturan tersebut.

Agar aturan pengeluaran baru ini dapat diberlakukan, Premier League membutuhkan dukungan minimal dua pertiga dari seluruh klub yang hadir dalam pemungutan suara. Jika ambang tersebut tidak tercapai, maka proposal tidak bisa diadopsi.