Khabib Ungkap Nikmatnya Bantai McGregor: Seperti Liburan ke Maladewa

Khabib Nurmagomedov
Khabib Nurmagomedov

 Legenda UFC asal Rusia, Khabib Nurmagomedov, mengenang salah satu momen paling berkesan dalam kariernya, saat ia menghancurkan Conor McGregor di ajang UFC 229.

Pertarungan yang digelar pada 2018 itu menjadi duel paling panas dan laris dalam sejarah UFC. Khabib tampil dominan dan menaklukkan McGregor lewat kuncian di ronde keempat untuk mempertahankan sabuk juara kelas ringan. 

Namun, kemenangan tersebut diwarnai insiden ricuh setelah Khabib melompati pagar oktagon dan menyerang tim McGregor, hingga membuatnya dijatuhi sanksi larangan bertanding.

Meski penuh kontroversi, Khabib mengaku duel itu merupakan momen paling menyenangkan dalam hidupnya.

“Satu hal yang sangat indah di dunia ini: ketika kamu tidak suka seseorang, kamu masuk ke dalam oktagon, kamu hancurkan dia, dan mereka malah membayarmu,” kata Khabib dalam sebuah acara media di Chicago, dikutip dari S Khalil.

“Kalau kamu melakukan itu di luar arena, kamu pasti dipenjara. Tapi waktu itu, saya bisa menikmatinya. Rasanya seperti liburan ke Maladewa. Itu momen yang sudah lama saya tunggu.”

Usai menaklukkan McGregor, Khabib melanjutkan dominasinya dengan mempertahankan gelar dua kali lagi — melawan Dustin Poirier dan Justin Gaethje sebelum akhirnya memutuskan pensiun dengan rekor sempurna 29 kemenangan tanpa kekalahan.

Keputusan itu bukan karena kehilangan motivasi, melainkan janji kepada ibunya untuk tidak lagi bertarung tanpa kehadiran sang ayah, Abdulmanap Nurmagomedov, yang meninggal dunia pada 2020.

“Bukan hanya soal ibu, tapi seluruh situasi yang terjadi saat itu,” kata Khabib.

“Banyak rumor soal alasan saya pensiun, tapi kebenarannya sederhana. Kalau ayah saya masih hidup, mungkin saya masih bertarung beberapa kali lagi. Tapi setelah beliau tiada, saya bicara jujur dengan ibu saya. Itu keputusan sulit, tapi saya memilih untuk memenuhi keinginannya.”

“Semuanya terjadi begitu cepat. Saat ayah meninggal, saya belum sempat berpikir. UFC langsung membuat sabuk interim, Justin Gaethje mengalahkan Tony Ferguson, lalu mereka bilang, ‘Kami beri kamu satu bulan, lalu putuskan mau bagaimana.’ Dunia menunggu, tapi saya memilih apa yang diinginkan ibu,” ungkapnya.