Kenapa KTM Bisa Unggul dan Aprilia Ambruk di MotoGP Malaysia? Ini Jawaban Teknisnya
Balapan MotoGP Malaysia 2025 di Sirkuit Sepang menghadirkan kejutan besar. Saat banyak yang memprediksi Aprilia bakal menjadi pesaing utama Ducati, justru KTM tampil beringas dan menjadi satu-satunya pabrikan yang mampu menempel dominasi motor merah dari Borgo Panigale.
Di sisi lain, Aprilia yang dikenal punya motor serba bisa di berbagai sirkuit justru terpuruk jauh dari barisan depan. Perbedaan hasil mencolok itu bukan sekadar kebetulan, ada faktor teknis, strategi, hingga kondisi lintasan yang memutarbalikkan form book MotoGP belakangan ini.
KTM Bangkit Usai Krisis Ban di Phillip Island
Selama musim ini, masalah utama KTM RC16 adalah konsumsi ban belakang yang terlalu cepat habis, terutama di trek bersuhu tinggi. Di Australia, Pedro Acosta bahkan sempat memimpin balapan sebelum kehilangan grip total dan finis kelima.
Namun, pengalaman pahit di Phillip Island justru jadi titik balik. KTM melakukan perubahan mendalam dalam waktu singkat sebelum tiba di Malaysia.
Faktor kunci kebangkitan KTM di Sepang:
- Manajemen Ban Lebih Matang
Para pembalap KTM, terutama Acosta dan Brad Binder, mengubah pendekatan mereka sejak lap pertama. Mereka berfokus pada gaya berkendara halus agar ban tidak cepat aus.
“Kami mencoba menambah beban di depan supaya bisa lebih menempel di tikungan, dan itu cukup membantu,” ujar Binder seperto dikutip motorsport.com.
- Setelan Elektronik yang Lebih Minimalis
Acosta membuat keputusan berani: mengurangi bantuan elektronik dan mengandalkan feeling tangan kanan. Strategi ini membuahkan hasil karena ia bisa mengontrol degradasi ban dengan lebih natural dan efisien.
- Konsistensi Kecepatan di Panas Ekstrem
Suhu lintasan Sepang yang melonjak justru menjadi keuntungan KTM. Setelah mempelajari pola degradasi di Australia, mereka mampu menjaga performa konstan hingga lap terakhir. Hasilnya, Acosta finis hanya 2,7 detik di belakang pemenang balapan, Alex Marquez setengah dari selisih waktu saat sprint race.
Pol Espargaro yang menggantikan Maverick Vinales di Tech3 menilai langkah KTM sudah berada di jalur benar.
“Kami belajar dari kesalahan. Motor ini mungkin belum sempurna, tapi kami sudah bisa mengontrol degradasi dengan baik,” ungkap Espargaro.
Aprilia Gagal Adaptasi, Terperangkap di Tengah Grid
Pembalap Aprilia Racing Marco Bezzecchi
Berbanding terbalik dengan KTM, akhir pekan di Sepang menjadi mimpi buruk bagi Aprilia. Tim asal Noale itu memang sudah memperbaiki isu overheating yang menghantui mereka di Asia, tapi masih kesulitan mengeluarkan performa maksimal.
Inilah beberapa penyebab Aprilia terpuruk di Malaysia:
Kondisi Lintasan Tak Sesuai Karakter Motor
Pada Jumat dan Sabtu, suhu lintasan lebih rendah dari biasanya, membuat aspal kurang memberikan grip. Motor RS-GP yang sangat bergantung pada stabilitas dan traksi pun kehilangan keunggulan utamanya.
Salah Strategi Ban
Beberapa pembalap, termasuk Marco Bezzecchi dan Raul Fernandez, memilih ban medium dengan harapan bisa lebih konsisten di panas. Sayangnya, pilihan ini justru berbalik arah, grip berkurang drastis, membuat mereka tak bisa menyerang.
Bezzecchi yang finis ke-11 mengaku kecewa, tapi tetap melihat sisi positifnya:
“Kami menemukan banyak hal untuk diperbaiki. Hasilnya buruk, tapi proses ini penting untuk musim depan,” katanya.
Start Buruk dan Minim Progres Balapan
Tak satu pun motor Aprilia yang start dari 10 besar. Di balapan utama, tak ada pergerakan signifikan. Ai Ogura menjadi rider terbaik mereka di posisi 10, terpaut 19 detik dari pemenang atau hampir satu detik per lap.
Kurang Optimalnya Paket Elektronik
Lorenzo Savadori, yang menggantikan Jorge Martin, mengungkapkan bahwa kendala utama ada pada sistem elektronik motor.
“Kami tidak bisa memaksimalkan performa 100%. Fokus kami adalah memperbaiki sisi elektronik, karena di MotoGP, perbedaan sekecil apapun bisa berarti besar,” jelas Savadori.
KTM vs Aprilia: Dua Arah Perkembangan Berbeda
Menariknya, performa kedua pabrikan di Malaysia seolah menunjukkan bahwa perkembangan mereka musim ini mulai berlawanan arah.
KTM kini menunjukkan tanda-tanda kestabilan baru. Mereka belajar cepat dari kesalahan dan menemukan keseimbangan antara agresivitas mesin dan kontrol ban.
Aprilia, sebaliknya, justru tampak kehilangan arah pengembangan di tengah-tengah musim. Meskipun motor RS-GP punya potensi besar, hasil di Sepang menjadi pengingat bahwa perjalanan mereka menuju level Ducati masih panjang.
KTM kini masih punya peluang tipis untuk merebut posisi kedua di klasemen konstruktor dari Aprilia, sesuatu yang tampak mustahil beberapa pekan lalu. Dengan dua podium di Malaysia dan performa konsisten dari Acosta serta Binder, peluang itu tetap terbuka lebar.