Sejarah Moro Purwokerto, Pusat Belanja Legendaris yang Dikabarkan Segera Bangkit Lagi
Lama tutup setelah dinyatakan pailit, Moro Purwokerto kini dikabarkan akan bangkit kembali.
Grup Lippo disebut akan membangun ulang pusat perbelanjaan legendaris tersebut di pusat kota Purwokerto.
Dilansir dari Kontan (19/10/2025), kabar tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, Sabtu (18/10/2025)
Sadewo menjelaskan bahwa dirinya telah bertemu dengan John Riyadi dari Lippo Group untuk membahas pembangunan kembali Moro Mall dan memfasilitasi negosiasi yang saat ini sedang berlangsung.
“Ini lagi ada negosiasi, saya sudah fasilitasi, angkanya sudah ketemu dan kemungkinan akan menjadi mall dan rumah sakit,” ujarnya.
Ia menambahkan, holding dari Lippo sudah berkomitmen menghidupkan kembali pusat perbelanjaan yang pernah menjadi ikon belanja di Purwokerto.
“Jadi kerja sama dengan Lippo dan Mas John sudah ketemu dengan saya,” jelas Sadewo.
Sejarah Moro Purwokerto
Sebelum menjadi pusat perbelanjaan modern, lokasi Moro Purwokerto sudah memiliki sejarah panjang dari era kolonial hingga masa modern.
Bangunan pusat perbelanjaan yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dan awalnya merupakan lokasi pabrik gula pada masa Belanda.
Setelah pabrik berhenti beroperasi, lahan tersebut bertransformasi menjadi Gedung Isola Bulutangkis Purwokerto, salah satu gedung bulutangkis indoor pertama dan terbesar di Asia Tenggara.
Wilayah Gedung Isola ini membentang dari lokasi yang kini menjadi Rita Isola hingga area parkiran motor Moro.
Ketika gedung Isola tidak lagi digunakan, kawasan itu kembali beralih fungsi menjadi gedung bioskop elit yang dikenal dengan nama Bioskop President dan Kamandaka Theatre.
Perlahan, lokasi tersebut berubah menjadi kawasan pertokoan karena lokasinya yang cukup strategis.
Di lokasi inilah, Moro pertama kali didirikan dan berkembang menjadi swalayan terbesar pada masanya.
Diresmikan 17 Desember 1997, Moro Jadi Ikon Belanja Purwokerto
Moro Purwokerto resmi dibuka pada 17 Desember 1997 dan langsung menjadi pesaing utama Sri Ratu, swalayan yang lebih dulu eksis di kota itu.
Moro sendiri memiliki keunggulan yaitu tampilan bangunan dan fasilitas yang modern serta pilihan produk yang lebih lengkap.
Tak harus menunggu lama, Moro segera menjadi pusat belanja favorit warga Purwokerto dan Banyumas.
Moro bahkan menarik pengunjung dari wilayah sekitar seperti Purbalingga dan Banjarnegara.
Seiring waktu, Moro memperluas bangunannya hingga memiliki empat lantai dengan area parkir luas untuk kendaraan roda dua dan empat.
Selain supermarket kebutuhan sehari-hari, mal ini juga menghadirkan tenant fashion, toko elektronik, kafetaria, serta wahana permainan keluarga.
Sehingga pada akhir pekan dan hari libur, pusat perbelanjaan ini selalu ramai dikunjungi.
Namun, setelah hampir 26 tahun beroperasi, Moro Purwokerto akhirnya memilih untuk tutup.
Moro Ditutup 17 Oktober 2023, Aset Dilelang
Masa kejayaan Moro mulai meredup ketika pandemi Covid-19 melanda, yang membuat retail milik PT Bamas Satria Perkasa kehilangan banyak pengunjung.
Selain pendapatan yang menurun tajam, utang Moro juga menumpuk, baik kepada bank, pemasok, maupun karyawan.
Dikutip dari Kompas.com (20/11/2023), Tim kurator PT Bamas Satria Perkasa (pengelola mal) Aan Rohaeni mengatakan, mal legendaris ini tidak dapat bertahan akibat hantaman pandemi Covid-19.
"Kena imbas Covid-19 dan ada tunggakan yang tidak bisa dibayar. Kemudian ada permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU)," kata Aan.
Menurut Aan, dalam perjalanannya delapan orang pemegang saham akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan bisnis tersebut.
Akhirnya, pada 17 Oktober 2023, pengelola memutuskan menghentikan operasional Moro Purwokerto.
Sebelum resmi ditutup, Moro sempat melakukan diskon besar-besaran untuk menjual beberapa stok barang yang masih tersisa.
Itu menjadi momen terakhir Moro dipadati pengunjung, hingga akhirnya operasional pusat perbelanjaan tersebut benar-benar dihentikan.
Berselang sebulan kemudian, Pengadilan Niaga Semarang memutuskan pailit terhadap mal ini melalui putusan Nomor 25/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN.Niaga.Smg, tertanggal 16 November 2023.
Tim kurator kemudian melelang aset Moro Purwokerto dengan nilai Rp279,55 miliar.
Para pembeli membanjiri Moro Purwokerto yang menjual murah barang dagangan setelah dinyatakan pailit, Senin (20/11/2023).
Ada Investor, Moro Siap Dibangun Kembali
Moro berdiri dan beroperasi selama hampir 26 tahun, atau tepatnya 25 tahun 10 bulan sebelum akhirnya resmi ditutup.
Warga purwokerto dan sekitarnya menyimpan banyak kenangan selama pusat perbelanjaan ini beroperasi.
Setelah beberapa tahun tutup, Moro Purwokerto yang masih meninggalkan jejak kejayaan dengan bangunannya yang masih kokoh berdiri, dikabarkan siap dibangkitkan kembali.
Kabar mengenai Grup Lippo yang menyatakan kesiapannya untuk membangun ulang Moro menjadi mal modern sekaligus rumah sakit membuka harapan untuk pusat belanja legendaris ini akan kembali hidup.
Bupati Sadewo menyebut langkah ini sebagai bentuk kolaborasi untuk menghidupkan kembali ikon lama Purwokerto.
Jika terealisasi, kawasan ini akan menjadi simbol dinamika ekonomi dan sejarah panjang Kota Purwokerto dari masa kolonial hingga era modern.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.