QRIS Dipakai hingga Mancanegara, Airlangga; Ekonomi Digital RI Tak Takut Tarif

Menko Airlangga di acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
Menko Airlangga di acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan, kekuatan ekonomi digital Indonesia saat ini sudah semakin membanggakan. Hal itu antara lain dapat dilihat dari tingginya implementasi sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), bahkan hingga ke mancanegara, yang dipastikan akan terus meningkat ke depannya.

Hal itu diutarakan Airlangga dalam acara '1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Optimism on 8% Economic Growth', yang digelar di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Dengan kekuatan ekonomi digital seperti itu, Airlangga memastikan bahwa Indonesia tidak akan terlalu khawatir lagi dengan ancaman tarif resiprokal yang dikobarkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump saat ini.

"Jadi jangan khawatir kita akan kalah di bidang digital itu, karena kita sangat menguasai," kata Airlangga, Kamis, 16 Oktober 2025.

Menko bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto di Kompleks Istana Kepresidenan

"Bahkan ekonomi digital kita (yang diperkirakan mencapai) US$150 miliar di 2025 ini, tidak takut terhadap tarif-tarifan. Karena barangnya itu bisa berjalan," ujarnya.

Kekuatan ekonomi digital Indonesia itu diakui Airlangga, salah satunya ditopang oleh keberhasilan implementasi sistem QRIS yang telah merambah hingga ke mancanegara. Ditambah dengan total jumlah pengguna QRIS yang telah mencapai 56 juta pengguna, yang artinya melampaui jumlah pengguna credit card di Indonesia yang hanya sebesar 18,8 juta pengguna per Juni 2025.

"Terbukti bahwa (jumlah) pengguna QRIS telah menyalip penggunaan credit card. Makanya berbagai operator mulai jengah melihat bagaimana kita bisa bergerak cepat dengan jumlah pengguna QRIS yang sudah mencapai 56 juta," ujarnya.

Di sisi lain, hal itu juga masih didukung dengan kesepakatan Local Currency Transaction (LCT), dimana pemerintah Indonesia telah menjalin kerja sama dengan berbagai negara dalam hal pengimplementasian QRIS.

Hal itu memungkinkan sistem pembayaran asli Indonesia itu bisa dimanfaatkan oleh para penggunanya, di negara-negara yang telah menjalin koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) seperti misalnya Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea, hingga Uni Emirat Arab (UEA).

Karenanya, Airlangga memastikan bahwa perkembangan pesat pada sektor ekonomi digital Indonesia, telah menjadi salah satu katalisator pendongkrak pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen. Hal ini seiring dengan bisnis logistik dan pergudangan (warehouse), yang diperkirakan juga akan meningkat di atas pertumbuhan ekonomi secara nasional.

"Salah satu tanda-tanda yang mendukung perkembangan ekonomi digital adalah bisnis logistik dan warehouse, yang tumbuhnya 8 persen atau jauh di atas pertumbuhan ekonomi," ujarnya.