International Day for Failure, Pengingat bahwa Gagal Itu Manusiawi

Di tengah kebiasaan yang kerap menyanjung sebuah kesuksesan, tak jarang kegagalan dianggap aib yang harus disembunyikan.
Padahal, setiap langkah menuju keberhasilan hampir selalu disertai momen jatuh dan tersandung.
Setiap tanggal 13 Oktober, dunia memperingati International Day for Failure atau Hari Kegagalan Internasional.
Momen ini mengingatkan bahwa gagal bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian wajar dari proses belajar dan bertumbuh.
Sejarah International Day for Failure
Dikutip dari National Today, Hari Kegagalan Internasional pertama kali diperingati di Finlandia pada tahun 2010.
Gagasan ini lahir dari sekelompok mahasiswa di Aalto University School of Economics, Helsinki, yang ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap kegagalan.
alih dipandang memalukan, mereka ingin kegagalan dianggap sebagai tanda keberanian untuk mencoba hal baru.
Semangat itu kemudian menyebar ke berbagai negara dan menjadi perayaan global yang mengajak setiap orang berdamai dengan kekeliruan.
Gagal itu manusiawi
Dalam hidup, kegagalan bisa datang dalam berbagai bentuk, gagal mencapai target karier, gagal menjaga hubungan, hingga gagal memenuhi ekspektasi diri sendiri.
Namun, menurut para psikolog, pengalaman gagal adalah bagian alami dari kehidupan manusia yang justru bisa membentuk ketahanan mental (resilience).
Mengutip dari Psychology Today, psikolog asal Amerika Serikat, Dr. Kristin Neff, memperkenalkan konsep self-compassion, yaitu kemampuan untuk berbelas kasih pada diri sendiri saat menghadapi kegagalan.
Alih-alih terus menyalahkan diri, seseorang disarankan untuk menerima rasa kecewa dengan empati dan kesadaran penuh bahwa semua orang bisa mengalami hal serupa.
Pendekatan ini disebut dapat membantu seseorang keluar dari lingkaran overthinking dan rasa tidak berharga, serta menumbuhkan kemampuan untuk bangkit dan mencoba lagi.
Belajar tumbuh lewat kegagalan
Psikolog dan peneliti growth mindset, Carol Dweck, juga menegaskan bahwa kegagalan seharusnya tidak dianggap sebagai bukti ketidakmampuan, tetapi sebagai peluang belajar.
Pola pikir ini mendorong seseorang untuk melihat kesalahan sebagai batu loncatan menuju perkembangan diri.
Banyak tokoh dunia yang pernah gagal sebelum akhirnya berhasil. J.K. Rowling sempat ditolak berkali-kali oleh penerbit sebelum akhirnya “Harry Potter” populer di dunia.
Elon Musk pernah kehilangan miliaran dolar dalam proyeknya yang gagal, namun kegigihannya justru melahirkan perusahaan luar angkasa SpaceX dan mobil listrik Tesla.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa kegagalan bukan hal yang harus ditakuti, melainkan bahan bakar bagi inovasi dan keberanian.
Momen untuk berdamai dengan diri sendiri
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita menuntut diri terlalu keras untuk selalu tampil sempurna.
Padahal, justru di saat gagal, kita belajar mengenal batas, memahami nilai usaha, dan menemukan arah baru yang mungkin lebih sesuai.
Hari Kegagalan Internasional bisa menjadi momen reflektif untuk menenangkan diri dan berkata, “Tidak apa-apa kalau belum berhasil.”
Dengan cara itu, kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh, bereksperimen, dan terus belajar.
Kegagalan bukan kebalikan dari kesuksesan, melainkan bagian dari jalan panjang menuju keberhasilan.
Setiap orang berhak mengalami jatuh, selama masih punya keberanian untuk bangkit kembali.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.