Kata BMW soal Gempuran Mobil Listrik Cina: Tidak Semuanya Profit

 Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak manufaktur otomotif asal Cina mulai ‘mengganggu’ pasar mobil listrik di segmen entry level sampai premium.

Harga rendah yang menggiurkan dipadukan fitur terkini, dinilai menjadi satu dari sekian alasan masyarakat mulai tertarik dengan produk asal Tiongkok.

Mengambil contoh di Indonesia, sub merek BYD yaitu Denza meluncurkan Multi Purpose Vehicle (MPV) bertenaga listrik murni kelas premium Denza D9 seharga Rp 950 jutaan.

Padahal di kelas itu, Toyota Alphard dengan teknologi hybrid ditawarkan mulai dari Rp 1,7 miliar.

Denza D9

Ditambah lagi kehadiran mobil listrik mungil BYD Atto 1, dilego mulai Rp 195 jutaan.

Angka itu terpaut lebih rendah dari mobil listrik berukuran kecil lain seperti Wuling Air ev dan bahkan Low Cost Green Car (LCGC).

Tantangan ketatnya persaingan mobil listrik Cina turut dirasakan merek premium BMW.

Mereka tidak menampik bahwa manufaktur kendaraan asal Cina melakukan ekspansi pasar secara besar-besaran dan semakin kompetitif dari segi spesifikasi.

Tetapi BMW tampak tidak terlalu khawatir dan menyorot ada hal lain patut jadi perhatian semua pihak, yakni keuntungan pabrikan Cina.

“Mereka harus tetap mengumpulkan keuntungan untuk di masa depan. Kalau Anda lihat apa yang terjadi di pasar Cina sekarang, tidak semua benar-benar untung,” kata Joachim Post, Chief Technology Officer BMW dilansir dari CarExpert, Senin (22/09).

Joachim menegaskan, profitabilitas masih jadi tantangan signifikan bagi banyak perusahaan Cina.

Menghadapi gempuran mobil listrik Cina seperti BYD, GWM sampai MG terkhusus di pasar Eropa, BMW masih percaya diri.

Menurut dia, keunggulan BMW terletak pada keseimbangan antara inovasi, profitabilitas dan kekuatan brand.

Hal ini mendasari pengembangan sekaligus perkenalan mobil listrik teranyar mereka, Neue Klasse.

BMW Siapkan Pesaing Tesla, Mobil Listrik Futuristik Meluncur 2025

“Untuk bisa kompetitif di pasaran, punya produk menarik dari segi fitur dan fungsi, (perlu) ada heritage sebuah merek. Itu penting,” kata Post.

Sebagai informasi, merek Tiongkok terkhusus BYD sudah mulai merambah kelas premium melalui sub merek khusus seperti Denza dan YangWang.

Denza sudah mulai memasarkan D9 di dalam negeri. Lalu beberapa produk YangWang kerap dipamerkan di ajang otomotif seperti GIIAS 2025.

MG Cyberster

Selain BYD, MG turut menghadirkan satu model mobil listrik sport premium MG Cyberster di kisaran Rp 1 miliar.

Sementara manufaktur premium seperti BMW dan Mercedes-Benz perlahan memboyong lini elektrifikasi ke Tanah Air buat mengimbangi hal tersebut.

Hanya saja dari segi harga tentu terpaut jauh. Mobil listrik BMW dan Mercedes-Benz dipasarkan di angka Rp 2 miliar ke atas.