Dari Narsissus Digital Menuju Digital Wellness (Bagian I)

media sosial, Kecanduan gadget, Dari Narsissus Digital Menuju Digital Wellness (Bagian I)

"The most important thing about technology is how it changes people." - Jaron Lanier

RINA, seorang mahasiswi berusia 21 tahun, awalnya hanya ingin mengecek Instagram sebentar pada pukul 9 malam sebelum menyelesaikan tugas kuliah. Namun, rencana 10 menit itu berubah menjadi maraton tiga jam scrolling tanpa henti.

Matanya mulai lelah, tugas kuliah belum tersentuh, malam kian larut, tapi jarinya tetap tak bisa berhenti menggeser layar.

"Besok aja deh tugasnya," pikirnya sambil terus scrolling video hingga dini hari.

Di waktu yang hampir bersamaan, pukul 2 dini hari, Andi (seorang karyawan swasta) masih menatap layar ponselnya dengan mata berat.

Ia berulang kali berkata, "Oke, bentar lagi", setiap kali hendak menutup aplikasi, padahal esok hari ia harus menghadiri rapat pagi di kantor.

Kisah Rina dan Andi bukanlah anomali, melainkan cerminan epidemi digital yang sedang melanda Indonesia.

Seperti Narcissus dalam mitologi Yunani yang terpaku pada bayangannya di permukaan air, jutaan netizen Indonesia kini terjebak dalam refleksi digital mereka sendiri.

Mereka scroll tanpa henti di media sosial, terpukau algoritma yang menampilkan versi ideal dari diri dan dunia mereka.

Survei Sharing Vision Indonesia pada Juni 2025, yang menggunakan kerangka Internet Addiction Test (IAT) oleh Kimberly Young terhadap lebih dari 5.000 responden mengungkapkan realitas yang mengkhawatirkan:

  • 48 persen responden berulang kali berusaha mengurangi waktu online, namun gagal
  • 48 persen sering kehilangan jam tidur demi internet
  • 45 persen merasa hidup tanpa internet akan membosankan, tidak bermakna dan tidak menyenangkan
  • 36 persen responden lebih sering menunggu waktu untuk online daripada menikmati kehidupan nyata
  • 26 persen sering memilih tetap online daripada keluar dengan teman-teman
  • 24 persen sering merahasiakan lamanya mereka online
  • 23 persen sering merasakan tekanan dan kecemasan ketika offline, dan rasa itu hilang ketika online
  • 22 persen terus memikirkan internet saat sedang offline
  • 21 persen sering merasa kesal, menggerutu, atau membentak ketika ada yang mengganggu aktivitas onlinenya

Data ini menegaskan bahwa internet sudah melampaui fungsi dasarnya sebagai sarana, menjadi elemen yang menguasai ritme hidup sebagian masyarakat.

Fenomena statistik ini semakin terasa serius ketika kita menengok kasus-kasus ekstrem di lapangan.

Salah satunya terjadi di Jember, belum lama ini, di mana dua remaja kakak beradik mengalami gangguan kejiwaan akibat kecanduan game online dan TikTok.

Sang adik, berusia 17 tahun, hampir seharian penuh menghabiskan waktunya bermain game. Sedangkan kakaknya yang berusia 19 tahun kehilangan orientasi waktu akibat penggunaan TikTok yang berlebihan.

Peristiwa ini bukanlah kasus terisolasi, melainkan ujung dari gunung es transformasi neurologis yang diam-diam berlangsung pada jutaan orang Indonesia akibat paparan berlebihan terhadap dunia digital.

Memahami mekanisme jerat digital

Tristan Harris, mantan desainer etis Google sekaligus pendiri Center for Humane Technology, mengungkapkan, platform digital menggunakan apa yang ia sebut sebagai arsitektur persuasif, yaitu seperangkat mekanisme yang sengaja dirancang memaksimalkan keterikatan pengguna.

fitur seperti infinite scroll, variable reward schedules, dan social approval loops bukanlah kebetulan, melainkan hasil riset psikologi yang mendalam untuk membuat orang tetap terpaku pada layar.

Harris bahkan menyebut smartphone sebagai “mesin slot di saku kita”, di mana setiap notifikasi atau swipe adalah tarikan handle mesin slot yang bisa memberikan reward (likes, pesan, konten menarik) atau tidak.

Ketidakpastian reward inilah yang membuat otak kita terus mencari stimulasi berikutnya.

Lebih jauh, perhatian manusia sendiri telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Tim Wu, profesor hukum Columbia University dan penulis The Attention Merchants, menjelaskan bahwa platform digital tidak menjual produk kepada kita secara langsung, mereka menawarkan hiburan atau akses gratis, namun sesungguhnya mereka “menjual” perhatian kita kepada para pengiklan.

Dalam ekonomi attention-based ini, semakin lama kita online, semakin besar potensi keuntungan mereka.

Jaron Lanier, pionir realitas virtual sekaligus penulis “Ten Arguments for Deleting Your Social Media Accounts Right Now”, bahkan menyebut fenomena ini sebagai “behavior modification empire”, yakni kerajaan modifikasi perilaku yang secara sistematis mengubah cara kita berpikir, merasakan, dan berperilaku demi profit.

Ia memperkenalkan istilah BUMMER, yang merupakan singkatan dari Behaviors of Users Modified, and Made into an Empire for Rent.

Dampak dari sistem tersebut tidak hanya berhenti pada level psikologis, melainkan juga menyentuh ranah neurologis.

Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains menjelaskan bagaimana internet tidak hanya memengaruhi pikiran kita secara psikologis, tetapi juga secara fisik mengubah cara otak kita tersusun melalui mekanisme neuroplastisitas.

Ia mengutip prinsip yang dikenal dari psikologi/neurosains: “cells (atau neurons) that fire together, wire together” (aturan Hebb), yang menyatakan bahwa neuron-neuron yang aktif secara bersamaan akan memperkuat koneksi sinaptik di antara mereka.

Ketika kita terus-menerus melakukan multitasking digital, scrolling, dan mencari stimulasi instan, kita melatih otak untuk tidak mampu berkonsentrasi dalam waktu lama.

Carr menyebutnya sebagai transformasi dari "deep reading brain" menjadi "grasshopper mind"—pikiran yang melompat-lompat tanpa fokus mendalam.

Tidak heran jika 48 persen responden survei Sharing Vision Indonesia gagal mengurangi waktu online; otak mereka sudah terkondisi dalam mode “autopilot” yang haus stimulasi digital.

Kondisi ini juga berdampak pada kemampuan berpikir mendalam dan kreativitas.

Cal Newport, profesor komputer sains Georgetown dan penulis Digital Minimalism, memperkenalkan konsep solitude deprivation, yaitu kondisi ketika seseorang hampir tidak pernah berhadapan dengan pikirannya sendiri tanpa interupsi eksternal.

Menurutnya, kemampuan untuk berpikir mendalam (deep work) dan kreativitas membutuhkan periode solitude yang berkualitas.

Namun, ketika setiap momen kosong langsung diisi dengan scrolling atau checking notification, kita kehilangan kemampuan ini.

Fakta bahwa 22 persen responden terus memikirkan internet meski sedang offline, bahkan dalam kesendirian fisik, menunjukan pikiran mereka tetap terjerat dalam jaringan digital, dan ini adalah bentuk ekstrem dari solitude deprivation.

Dampak sosial dan psikologis: Erosi kemanusiaan digital

Sherry Turkle, profesor MIT dan penulis Alone Together, menjelaskan paradoks era digital: kita memang semakin terhubung secara teknologi, tapi pada saat yang sama justru semakin terisolasi secara emosional.

Ia mencatat fenomena yang ia sebut sebagai “continuous partial attention”, yaitu suatu kondisi di mana perhatian kita selalu terbelah, tidak pernah sepenuhnya hadir dalam satu momen atau percakapan.

Data survei yang menunjukkan 26 persen responden lebih memilih online daripada bertemu teman mengilustrasikan apa yang Turkle sebut sebagai “flight from conversation”.

Percakapan tatap muka menuntut toleransi terhadap kebosanan, kesediaan mendengar hal-hal yang tidak kita setujui, dan kehadiran emosional penuh, sebuah keterampilan yang semakin jarang kita praktikkan di era digital.

Selain itu, kecanduan digital berdampak kesehatan mental, memicu kecemasan dan depresi. Dalam bukunya How to Do Nothing, Jenny Odell mengkritik budaya produktivitas digital yang mendorong individu selalu merasa harus mengembangkan diri tanpa henti.

Tekanan untuk senantiasa tampil lebih produktif, menarik, dan relevan di ruang online pada akhirnya berisiko mengikis kebebasan batin dan keutuhan diri.

Data survei yang menunjukkan 23 persen responden merasakan tekanan dan kecemasan ketika offline menegaskan bahwa internet kerap berfungsi sebagai mekanisme coping yang tidak sehat.

Seperti diingatkan Odell, ketika seseorang tidak mampu sekadar just be tanpa stimulasi eksternal, ia berisiko kehilangan arah dan kesulitan mengenali apa yang benar-benar diinginkannya.

Selain tekanan dan kecemasan, budaya digital juga melahirkan siklus perbandingan sosial dan rasa takut tertinggal.

Arianna Huffington, pendiri Huffington Post sekaligus penulis The Sleep Revolution, menyoroti bagaimana pola hidup always on menciptakan kelelahan berkelanjutan sekaligus FOMO (Fear of Missing Out) yang tak pernah berakhir.

Platform media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang selalu melakukan sesuatu yang menarik, produktif, atau bahagia.

Tidak mengherankan jika 45 persen responden survei merasa hidup tanpa internet akan membosankan; mereka telah menggantungkan makna hidup pada validasi eksternal dan arus stimulasi digital yang tak ada habisnya.

Desain perilaku dan ethical technology

Desain produk digital sering memanfaatkan psikologi perilaku untuk membuat pengguna terus kembali dan sulit melepaskan diri.

Nir Eyal, penulis Hooked: How to Build Habit-Forming Products, menjelaskan model psikologis yang banyak dipakai dalam merancang produk digital adiktif: Trigger → Action → Variable Reward → Investment.

Pola ini membuat pengguna terdorong terus kembali, karena setiap interaksi memberi kemungkinan mendapatkan reward yang berbeda-beda.

Meskipun Eyal kemudian menulis Indistractable sebagai bentuk antidote, kerusakan sudah terlanjur meluas. Hampir semua platform digital modern beroperasi dengan memanfaatkan model Hooked.

Namun, Eyal juga menekankan bahwa solusi tetap ada: external triggers seperti notifikasi dan bunyi ping bisa dikendalikan dengan mengatur ulang pengaturan perangkat, sementara internal triggers seperti kebosanan, kesepian, dan kecemasan memerlukan strategi coping yang lebih mendalam.

Sejalan itu, Tristan Harris, pendiri gerakan Time Well Spent sekaligus co-founder Center for Humane Technology, mengadvokasi paradigma baru pengembangan teknologi. Bukan lagi mengejar keterikatan (engagement) semata melainkan mendukung human flourishing.

Ia menyerukan perubahan cara kita mengevaluasi keberhasilan teknologi, dari sekadar menghitung engagement metrics seperti screen time, menuju wellbeing metrics yang menilai sejauh mana teknologi benar-benar memberi dampak positif bagi kehidupan manusia.

Seperti apakah jalan menuju digital wellness ini? (Bersambung)

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.