Tottenham Hotspur Tidak Dijual Usai Daniel Levy Pergi
Tottenham Hotspur menegaskan bahwa klub tidak berada dalam rencana penjualan meski Daniel Levy resmi meninggalkan jabatannya sebagai ketua eksekutif.
Pernyataan ini dikeluarkan setelah muncul dua pernyataan minat dari pihak eksternal yang ingin mengambil alih klub asal London Utara tersebut.
Dalam keterangan resmi, pemilik mayoritas Enic Sports & Developments Holdings Ltd yang menguasai hampir 87 persen saham.
Enic Sports & Developments Holdins Ltd menolak tegas proposal awal yang diajukan Amanda Staveley melalui PCP International Finance Limited, serta konsorsium Dr Roger Kennedy dan Wing-Fai Ng lewat Firehawk Holdings Limited.
“Dewan Klub dan ENIC mengonfirmasi bahwa Tottenham Hotspur tidak untuk dijual," tulis pernyataan resmi dikutip dari BBC, Rabu (10/9/2025).
"ENIC tidak berniat menerima tawaran apa pun untuk mengakuisisi sahamnya di klub,” lanjut pernyataan tersebut
Kepergian Daniel Levy Picu Spekulasi
Kepindahan Daniel Levy dari kursi ketua pekan lalu sempat memunculkan rumor bahwa Tottenham akan segera dilego.
Levy yang dikenal sebagai ketua terlama di Liga Inggris mengakhiri masa baktinya setelah 24 tahun.
Ia disebut telah menghasilkan lebih dari 50 juta pound selama masa jabatannya.
Dalam pernyataan resminya, klub menegaskan bahwa mundurnya Levy adalah bagian dari strategi jangka panjang.
“Saya sangat bangga dengan pekerjaan yang telah saya lakukan bersama tim eksekutif dan seluruh karyawan kami. Kami telah membangun klub ini menjadi klub kelas dunia yang bersaing di level tertinggi,” ujar Daniel Levy.
Kini, posisi ketua non-eksekutif Tottenham Hotspur diisi Peter Charrington, perwakilan keluarga Lewis selaku pemilik utama.
Tottenham Hotspur resmi mengakhiri era panjang Daniel Levy setelah 24 tahun menjabat sebagai Chairman klub. Keputusan Tottenham Hotspur ini diumumkan pada Kamis (28/8/2025) dan disebut sebagai langkah strategis yang diambil oleh pemegang saham mayoritas, keluarga Lewis.
Jejak Panjang Daniel Levy
Sejak mengambil alih kendali, Daniel Levy berhasil mengubah Spurs menjadi kekuatan finansial besar di Premier League.
Valuasi klub yang semula hanya 80 juta pound (sekitar Rp 1,7 triliun) melonjak menjadi 3,3 miliar pound (setara Rp73,4 triliun) dengan pemasukan komersial di atas 550 juta pound per tahun (sekitar Rp12,2 triliun).
Pakar finansial sepak bola, Kieran Maguire, bahkan menyebut Levy sebagai arsitek di balik status Spurs sebagai klub dengan profit terbesar di Liga Inggris.
Namun, ia juga sering menjadi sasaran protes suporter, terutama musim lalu.
Fokus Baru Tottenham di Era Pascalevy
Menurut sumber dekat keluarga Lewis, pergantian manajemen menandai dimulainya era baru di Tottenham Hotspur.
Fokusnya adalah meningkatkan performa di lapangan sesuai harapan pendukung.
“Generasi keluarga Lewis mendukung klub spesial ini, dan mereka menginginkan apa yang fans inginkan — lebih banyak kemenangan, lebih sering,” ucap sumber tersebut kepada The Athletic.
Beberapa perubahan besar sudah terjadi. Vinai Venkatesham masuk sebagai CEO baru, menggantikan Donna-Maria Cullen yang mundur pada Juni.
Dari sisi teknis, Spurs menunjuk Thomas Frank sebagai manajer anyar setelah memecat Ange Postecoglou meski sang pelatih sukses membawa trofi Liga Europa.
“Ini adalah era baru kepemimpinan bagi klub, di dalam dan luar lapangan,” kata Peter Charrington.
“Saya menyadari banyak perubahan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, tapi semua ini untuk membangun fondasi baru demi masa depan.”
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.