Tottenham Terpuruk, Thomas Frank: Ini Bukan Tentang Saya, Tapi Tim
Posisi Thomas Frank di Tottenham Hotspur tengah berada di bawah sorotan tajam. Kekalahan 1-2 di kandang dari West Ham United, tim yang sedang berjuang keluar dari zona bawah, memperdalam krisis hasil Spurs di Liga Inggris dan memicu gelombang kritik dari publik London utara.
Hasil itu membuat Tottenham terperosok ke peringkat ke-14 klasemen Premier League. Dari 11 laga kandang musim ini, Spurs baru mengumpulkan sembilan poin, rekor yang hanya lebih buruk dari West Ham sendiri dan Wolverhampton Wanderers. Dalam konteks itu, spekulasi soal masa depan Frank menjadi tak terelakkan.
Meski demikian, Tottenham belum mengambil langkah ekstrem. Klub memilih mempertahankan Frank setidaknya untuk laga penting Liga Champions melawan Borussia Dortmund.
Manchester United vs Tottenham Hotspur di final Liga Europa
Keputusan itu tidak berdiri di ruang hampa. Di tengah performa domestik yang goyah, Spurs justru berada di jalur yang relatif aman di Eropa, hanya terpaut satu poin dari posisi delapan besar yang menjamin tiket otomatis ke babak 16 besar.
Frank mengungkapkan dirinya telah bertemu jajaran manajemen puncak Tottenham. CEO Vinai Venkatesham, direktur olahraga Johan Lange, serta Nick Beucher hadir dalam pertemuan tersebut.
Frank menilai pertemuan itu sebagai sinyal kepercayaan, bukan formalitas di tengah tekanan. Ia bahkan menyebut hiruk-pikuk spekulasi pemecatan sebagai bagian dari “sirkus media”.
“Kami berbincang dengan baik tentang kehidupan, sepak bola, dan masa depan klub,” ujar Frank dikutip dari Sports Illustrated.
Baginya, sikap manajemen justru menunjukkan stabilitas di saat situasi sulit. “Biasanya, ketika ada cuaca buruk, orang-orang akan menjauh. Mereka tidak, datang dan duduk santai untuk makan siang,” lanjutnya.
Di balik pembelaan terhadap posisinya, Frank berulang kali menekankan bahwa fokus utamanya bukan keselamatan pribadi. “Selama kami memenangkan pertandingan dan memenangkan cukup banyak laga, semua orang akan mendukung kami. Ini bukan tentang saya. Ini tentang tim dan para pemain,” katanya.
Frank kemudian berbicara tentang ketahanan, bukan semata taktik. Menurutnya, fondasi pertama adalah nilai-nilai pribadi.
“Saya mendengarkan sesuatu beberapa hari lalu. Tiga hal terpenting untuk menunjukkan ketahanan adalah, pertama, memiliki nilai-nilai yang baik,” kata Frank.
“Saya menganggap diri saya sebagai seseorang dengan nilai-nilai yang cukup baik,” kata dia lagi.
Langkah kedua, menurutnya, adalah kesadaran terhadap realitas. Frank menyadari bahwa persepsi publik tidak pernah seragam.
“Satu dari lima orang tidak akan menyukai Anda apa pun yang Anda lakukan. Satu dari lima orang akan menyukai Anda apa pun yang terjadi. Lalu ada tiga dari lima orang yang biasanya bisa dipengaruhi jika Anda bersikap hormat, menunjukkan integritas, dan melakukan yang terbaik,” imbuhnya.
Dalam situasi seperti sekarang, Frank juga tidak menutup-nutupi keterbatasan timnya. Daftar cedera membuat opsi pemain sangat terbatas jelang laga melawan Dortmund.
“Kami akan bermain melawan tim Jerman yang sangat bagus, dan kami cukup terbatas. Kami hanya punya 11 pemain lapangan dari skuad utama yang tersedia,” paparnya.
Dengan hanya 11 pemain yang benar-benar siap, dan beberapa di antaranya diragukan bisa bertahan penuh selama 90 menit, Frank menutup pesannya dengan seruan kolektif.
“Itulah mengapa kami membutuhkan dukungan dari semua orang,” tandasnya.