Top 5+ Kekurangan Tinggal di Panti Jompo, Rasa Terasing hingga Biaya
Tinggal di panti jompo kerap menjadi alternatif bagi lanjut usia (lansia) yang ingin menjalani masa tua dengan perawatan profesional, bersama para lansia lainnya.
Meskipun menawarkan kenyamanan dan fasilitas medis, pilihan menitipkan orang tua ke panti jompo juga memiliki sejumlah kekurangan yang perlu dipertimbangkan secara matang.
Psikolog Meity Arianty mengatakan, tidak semua lansia cocok dengan lingkungan panti jompo.
Ada berbagai faktor emosional, sosial, dan ekonomi yang justru bisa berdampak negatif bagi kesejahteraan mereka. Simak selengkapnya.
Kekurangan tinggal di panti jompo
1. Rasa terasing dan tidak dicintai
Meskipun menawarkan kenyamanan dan fasilitas medis, tinggal di panti jompo juga memiliki sejumlah kekurangan yang perlu dipertimbangkan secara matang.
Salah satu dampak emosional yang paling sering dirasakan lansia di panti jompo adalah perasaan terasing.
Jauh dari keluarga dan berada di lingkungan baru membuat mereka merasa seolah tidak lagi dicintai.
“Adanya perasaan terasing atau ditinggalkan, sebab yang namanya jauh dari keluarga dan bersama orang baru tentu ada perasaan sedih, tidak dicintai, atau ditelantarkan oleh keluarga,” jelas Meity saat dihubungi Kompas.com, Kamis (10/7/2025).
2. Kurangnya kehangatan keluarga
Meskipun menawarkan kenyamanan dan fasilitas medis, tinggal di panti jompo juga memiliki sejumlah kekurangan yang perlu dipertimbangkan secara matang.
Meskipun panti jompo menyediakan fasilitas fisik, aspek emosional tidak selalu terpenuhi.
Tidak ada yang bisa menggantikan kehangatan yang biasanya didapat saat tinggal bersama anak atau cucu. Hal ini yang membuat sebagian orang takut dan tidak ingin tinggal di panti jompo.
“Tidak mendapatkan kehangatan keluarga yang bisa dirasakan jika bersama keluarga ketika di panti jompo,” kata dia.
3. Kualitas perawatan yang berbeda-beda
Meskipun menawarkan kenyamanan dan fasilitas medis, tinggal di panti jompo juga memiliki sejumlah kekurangan yang perlu dipertimbangkan secara matang.
Tidak semua panti jompo memiliki standar layanan yang baik. Jika berada di tempat yang kurang berkualitas, lansia bisa mengalami pengabaian, bahkan perlakuan yang tidak semestinya.
Oleh karenanya, anak harus melakukan survei lokasi dan memperhatikan fasilitas, serta pelayanan yang diberikan panti, sebelum menitipkan orangtua.
“Jika mendapatkan panti jompo yang kurang bagus bisa jadi mendapatkan perawatan yang kurang optimal,” ungkap Meity.
Ia menambahkan, beberapa kasus juga menunjukkan adanya pelecehan atau pengabaian terhadap penghuni panti yang luput dari pengawasan.
4. Sulit beradaptasi dengan lingkungan baru
Meskipun menawarkan kenyamanan dan fasilitas medis, tinggal di panti jompo juga memiliki sejumlah kekurangan yang perlu dipertimbangkan secara matang.
Perubahan lingkungan di usia lanjut bukan hal yang mudah. Beberapa lansia kesulitan menyesuaikan diri dengan aturan panti, rutinitas harian, atau teman-teman baru.
“Tidak semua yang tinggal di panti jompo mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, aturan panti, atau teman-teman baru,” jelasnya.
Kondisi ini dapat memicu stres atau bahkan depresi jika tidak ditangani dengan baik.
5. Biaya yang tidak murah
Meskipun menawarkan kenyamanan dan fasilitas medis, tinggal di panti jompo juga memiliki sejumlah kekurangan yang perlu dipertimbangkan secara matang.
Faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan penting. Banyak panti jompo berkualitas yang mematok biaya tinggi untuk perawatan dan fasilitas lengkap.
“Dari segi biaya tentu tidak murah ya, jadi tentu ini juga jadi pertimbangan,” kata Meity.
Biaya tinggi ini bisa menjadi beban, baik bagi lansia sendiri maupun keluarganya, terutama jika tinggal dalam jangka panjang.
Memutuskan tinggal di panti jompo bukanlah pilihan yang mudah.
Meity menekankan pentingnya diskusi bersama keluarga, mempertimbangkan kondisi psikologis lansia, serta menilai fasilitas dan kualitas layanan panti jompo sebelum mengambil keputusan.