Jadah Tempe Mbah Carik, Kuliner Favorit Sultan yang Kini Beradaptasi dengan QRIS

Jika berkunjung ke kawasan Kaliurang, Yogyakarta, Anda akan dengan mudah menemukan gerai Jadah Tempe Mbah Carik yang hampir tak pernah sepi pengunjung.
Kuliner ini merupakan salah satu ikon khas Yogyakarta yang terdiri dari jadah, ketan putih yang lembut, dan tempe bacem berwarna coklat keemasan dengan cita rasa manis gurih.
Perpaduan keduanya menghadirkan rasa sederhana namun khas, gurihnya jadah bertemu manisnya tempe bacem dalam satu suapan yang seimbang tanpa saling mendominasi.
Sejarah lahirnya Jadah Tempe Mbah Carik
Jadah Tempe Mbah Carik memiliki sejarah panjang yang berawal sekitar tahun 1927 di kawasan Kaliurang.
Saat itu, Ngadikem Sastro Dinomo yang menjabat sebagai carik atau sekretaris desa diminta menyiapkan suguhan untuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam sebuah kunjungan ke Ngeksigondo.
Dari berbagai pilihan, ia menyajikan jadah ketan yang ditumbuk hingga lembut serta tempe bacem dengan cita rasa manis gurih khas.
Sajian sederhana itu ternyata meninggalkan kesan mendalam.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX disebut menyukai hidangan tersebut, bahkan beberapa kali meminta keluarga keraton kembali ke Kaliurang untuk menikmati sajian yang sama.
Sejak saat itu, kuliner ini terus berkembang dari generasi ke generasi hingga akhirnya berada di tangan generasi keempat, setelah tongkat estafet diserahkan pada 2016.
Adaptasi generasi keempat
Kini, Jadah Tempe Mbah Carik telah berkembang dan hadir di beberapa titik di Yogyakarta, salah satunya di Jalan Brigjen Katamso No. 8, Kota Yogyakarta.
Outlet ini menjadi salah satu representasi modern dari usaha keluarga tersebut dengan konsep yang tetap mempertahankan nuansa tradisional.
Di lokasi ini, nama yang digunakan sedikit berbeda, yakni “Jadah Tempe Suguhan by Mbah Carik”, sebagai bentuk penyesuaian untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
“Generasi keempat Mbah Carik ingin menjangkau konsumen anak muda, jadi kami tambahkan kata ‘by’ untuk memberi sentuhan lebih modern,” ujar Angga Kusuma Ariwibowo, generasi keempat pengelola usaha ini, kepada Kompas.com, Selasa (14/4/2026).
Pengajuan KUR BRI
Selain mempertahankan resep turun-temurun, keluarga Mbah Carik juga melakukan berbagai penyesuaian agar tetap relevan di era modern.
Salah satunya adalah pengembangan produk frozen food agar dapat dibawa sebagai oleh-oleh ke luar kota. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan fasilitas produksi dengan standar keamanan pangan yang sesuai ketentuan.
“Untuk membangun pabrik frozen food, kami butuh modal. Dan untuk pertama kalinya kami mengajukan KUR ke BRI. Karena track record kami baik dan tidak punya pinjaman lain, pengajuan langsung disetujui,” kata Angga.
Pinjaman senilai Rp 100 juta tersebut digunakan untuk membangun fasilitas produksi kecil dengan peralatan higienis sesuai standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Dari tunai ke QRIS di gerai tradisional
Ilustrasi pembayaran di Jadah Tempe Mbah Carik pakai QRIS.
Di tengah panjangnya perjalanan kuliner tersebut, perubahan paling terasa justru hadir di era generasi keempat, terutama pada cara pelanggan bertransaksi.Jika dulu pembayaran sepenuhnya mengandalkan uang tunai, kini hampir seluruh transaksi di gerai Jadah Tempe Mbah Carik telah beralih ke QRIS, termasuk yang terhubung dengan berbagai penyedia layanan perbankan digital, salah satunya QRIS BRI.
Perubahan ini membuat proses transaksi menjadi lebih sederhana, terutama di tengah tingginya jumlah pengunjung pada jam sibuk dan musim liburan.
“Sekarang hampir semua pengunjung pakai QRIS. Jadi lebih simpel, tidak perlu lagi cari receh untuk kembalian,” ujar Angga.
Menurutnya, kehadiran sistem pembayaran digital membantu mempercepat layanan di saat antrean panjang terbentuk di depan etalase kaca, ketika pembeli memilih berbagai menu seperti jadah, wajik, tempe bacem, tahu bacem, hingga aneka varian olahan lainnya.
Pengalaman pengunjung yang setia dari tahun 2017
Bagi pengunjung, perubahan cara membayar ini membuat mereka lebih mudah ketika rindu dan ingin kembali menikmati jadah tempe.
Salah satunya Agung Mumpuni dari Mesurogo Semarang, yang menilai sistem pembayaran digital membuat pengalaman berkunjung menjadi lebih praktis.
“Enak sekarang, tinggal scan saja. Jadi nggak perlu repot bawa uang cash seperti dulu saat masih di Kaliurang,” ujarnya kepada Kompas.com.
Meski cara membayar berubah, ia menilai karakter rasa kuliner tersebut tetap konsisten seperti yang ia kenal sejak pertama kali berkunjung pada 2017.
“Rasanya tetap enak, lembut, dan pas. Yang berubah cuma cara bayarnya, lebih praktis sekarang,” tambahnya.
Agung Mumpuni mengenal Jadah Tempe Mbah Carik dari rekomendasi teman, lalu berkunjung setelah mengikuti wisata Lava Tour di kawasan Kaliurang, Yogyakarta.
“Rasa jadahnya enak, lembut, kenyal, dan gurih. Tempe dan tahu bacemnya manis, meresap, dan bumbunya kuat. Kalau dimakan bareng jadah, perpaduannya pas sekali. Enak dimakan hangat-hangat,” ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang