Film Dokumenter Ini Angkat Perjalanan Transisi Energi di Wilayah 3T Kalimantan

Ilustrasi Energi Terbarukan
Ilustrasi Energi Terbarukan

Indonesia menargetkan emisi nol bersih (net zero emission/NZE) tercapai pada tahun 2060 sebagai bagian dari upaya menekan emisi karbon dan memperluas penggunaan energi bersih. Di tengah ambisi besar transisi energi nasional, sejumlah wilayah penghasil energi masih menghadapi keterbatasan akses listrik.

Realita ini diangkat dalam film dokumenter Pelita Asa yang menyoroti perjalanan masyarakat di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) dalam menghadapi transisi energi dari batu bara menuju energi terbarukan. Film ini memperlihatkan bagaimana masyarakat desa mulai membangun kemandirian energi melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) komunal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Penonton diajak menyusuri kehidupan masyarakat di Dusun Donomulyo, Kelurahan Manggar, dan Desa Muara Enggelam di Kalimantan Timur. Ketiga desa 3T ini dipilih karena merepresentasikan tantangan besar dalam transisi energi, mulai dari kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang batu bara, keterbatasan akses listrik dan gas, hingga ancaman hilangnya lapangan pekerjaan masyarakat. 

Desa Muara Enggelam menjadi salah satu contoh wilayah yang mengalami keterbatasan akses energi. Desa tersebut tidak memiliki jalur darat sehingga pembangunan jaringan listrik konvensional sulit dilakukan. Selama ini warga hanya mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang beroperasi terbatas dari sore hingga malam hari.

“Di seluruh kecamatan Muara Wis ini hanya Desa Muara Enggelam saja yang tidak punya akses jalur darat. Karena keterbatasan ini, kami dipaksa harus mandiri," ucap Staff Kaur Keuangan Desa Muara Enggelam, Aliansyah, dalam cuplikan film Pelita Asa. 

Kondisi itu mendorong masyarakat desa mencari solusi mandiri dengan membangun PLTS komunal yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (BumDes). Aliansyah mengatakan, masyarakat desa bahu-membahu membangun PLTS karena hanya ini yang bisa kami dapatkan dan sesuai dengan kebutuhan Desa Muara Enggelam.

Kehadiran PLTS komunal tidak hanya membantu memperluas akses listrik, tetapi juga mulai mendorong aktivitas ekonomi masyarakat desa. Kini, warga dapat menggunakan peralatan elektronik pada siang hari dan menjalankan usaha kecil dengan lebih optimal.

“Kalau menurut saya pribadi, menyenangkan dan bahagia. Bisa menggunakan televisi, kipas angin, blender dan mesin cuci di siang hari. Untuk ibu-ibu, setelah ada PLTS, usaha kecil dan menengah (UKM) warung-warung juga meningkat karena sudah bisa menggunakan listrik, dan dari sisi BumDes banyak merangkul karyawan dari masyarakat sendiri,” jelas perwakilan BumDes Desa Muara Enggelam, Jam Ah. 

Kalimantan Timur selama ini menjadi salah satu pusat industri batu bara nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, provinsi tersebut masuk tiga besar kontributor ekspor batu bara Indonesia dengan nilai mencapai sekitar Rp414 triliun. 

Besarnya kontribusi sektor batu bara membuat banyak masyarakat lokal menggantungkan penghasilan pada industri tersebut, baik sebagai pekerja langsung maupun pelaku UMKM di sekitar kawasan tambang. 

Oleh karena itu, transisi energi dinilai tidak bisa hanya berfokus pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga harus memperhatikan aspek pemerataan ekonomi dan keberlanjutan hidup masyarakat lokal.

Project Clean, Affordable and Secure Energy (CASE) for Southeast Asia kemudian mengangkat realita tersebut melalui film Pelita Asa. Film ini memperlihatkan bahwa energi terbarukan dapat menjadi peluang untuk memperluas akses listrik sekaligus membuka harapan ekonomi baru bagi masyarakat di wilayah terpencil. 

Direktur Transmisi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa Kementerian PPN/Bappenas, Yusuf Suryanto menuturkan, implementasi transisi energi berkeadilan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Mulai dari pemerintah pusat dan daerah hingga sektor swasta dan masyarakat.

Menurutnya, transisi energi bukan sekadar peralihan dari energi fosil menuju energi bersih, tetapi juga upaya menghadirkan akses listrik yang merata, andal, dan berkelanjutan bagi seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah 3T. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Film ini juga menunjukkan dampak keberasaan PLTS komunal terhadap ekonomi masyarakat sekitar. Energi bersih dinilai menjadi peluang untuk memperluas akses energi, mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, dan membuka ruang harapan baru bagi wilayah yang selama ini belum menikmati layanan energi secara memadai.

Di saat akses energi konvensional belum sepenuhnya menjangkau daerah 3T, energi terbarukan hadir sebagai peluang untuk memperluas akses energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui film dokumenter ini masyarakat yang tinggal di kota-kota besar, diajak untuk menyadari bahwa energi yang dinikmati sehari-hari sering kali dipasok oleh daerah yang justru masih menghadapi keterbatasan akses energi.