Dalam 5 Tahun, ESDM Targetkan 10 Ribu Titik di Wilayah 3T Bakal Tersambung Listrik

Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu
Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu

Kementerian ESDM bakal meratakan akses energi bagi seluruh masyarakat Indonesia, dengan menargetkan percepatan elektrifikasi di 10.000 lokasi lebih wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) dalam 5 tahun ke depan.

Hal itu disampaikan Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM, Jisman Hutajulu, di acara 'Electricity Connect 2025' yang digelar di JICC Senayan, Jakarta.

"Karena sampai saat ini, masih ada ribuan lokasi dan wilayah di Tanah Air yang belum menerima layanan listrik penuh," kata Jisman, Rabu, 19 November 2025.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan sekaligus Plt Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Jisman P. Hutajulu

Dia memaparkan bahwa saat ini, rasio elektrifikasi yang dilayani PT PLN (Persero) baru mencapai 98,54 persen. Sehingga, masih ada pekerjaan besar melistriki 10.068 lokasi prioritas, yang meliputi sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun terutama di wilayah Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara.

Data kementerian ESDM mencatat, upaya percepatan elektrifikasi 3T akan membutuhkan dukungan anggaran sekitar Rp 61 triliun, termasuk Rp 2,5 triliun untuk program pemasangan listrik gratis bagi rumah tangga tidak mampu.

Program pemasangan listrik gratis tersebut, lanjutnya, telah menjangkau 155.000 rumah tangga dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun ini, pemerintah menargetkan perluasan bantuan hingga 255 ribu rumah tangga, dengan pelaksanaan teknis oleh PLN.

Jisman menambahkan, pemerintah juga mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) komunal di 80.000 desa untuk memperkuat pelayanan energi berbasis terbarukan, terutama di wilayah yang belum terhubung jaringan sistem.

Tiang listrik PLN di Sumatera Barat.

Tiang listrik PLN di Sumatera Barat.

PLTS komunal itu tidak hanya ditujukan untuk penerangan dasar, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi lokal seperti pengawetan ikan dan pengairan pertanian di daerah minim akses energi, kata Jisman menjelaskan.

“Kita ingin memastikan listrik tidak hanya tersedia, tetapi juga terjangkau, berkelanjutan, dan berkeadilan,” ujarnya.