Kenapa Publik Lebih Simpati ke Maia Estianty Dibanding Ahmad Dhani? Begini Kata Pengamat Komunikasi

Ahmad Dhani dan Maia Estianty
Ahmad Dhani dan Maia Estianty

 Perseteruan lama antara Ahmad Dhani dan Maia Estianty kembali ramai jadi bahan perbincangan. Bukan cuma karena konflik masa lalu mereka kembali diungkit, tapi juga karena reaksi warganet yang dinilai terlalu cepat menentukan siapa yang salah hanya dari potongan informasi di media sosial.

Fenomena ini ikut disoroti Pengamat Komunikasi, Agustina Widyawati, S.Sos.,M.I.Kom. Menurutnya, publik saat ini makin mudah terbawa arus narasi viral, terutama jika menyangkut konflik rumah tangga selebritas yang penuh unsur emosional. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Padahal kita sering cuma lihat sebagian kecil dari sebuah persoalan. Apalagi kalau kasusnya menyangkut figur publik, emosi publik biasanya jauh lebih kuat dibanding keinginan untuk mencari fakta secara utuh,” ungkap Widya, mengutip keterangannya, Senin 11 Mei 2026. 

Nama Ahmad Dhani dan Maia kembali jadi sorotan usai beredarnya dokumen SP3 atau penghentian penyidikan terkait laporan dugaan KDRT yang dulu sempat dilayangkan Maia. Dokumen tersebut ramai diperbincangkan netizen dan kembali memunculkan perdebatan panjang di media sosial.

Widya menilai, ramainya pembahasan tersebut menunjukkan bagaimana opini publik sering kali terbentuk bukan dari proses hukum secara utuh, melainkan dari narasi yang terus diulang di media dan media sosial.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sunan Gresik itu menjelaskan fenomena tersebut berkaitan dengan teori agenda setting dari Maxwell McCombs dan Donald Shaw.

“Teori ini menjelaskan bahwa media tidak selalu menentukan apa yang harus kita pikirkan, tetapi media sangat kuat dalam menentukan isu apa yang dianggap penting oleh publik," terangnya.

"Jadi ketika media dan media sosial terus-menerus menyoroti konflik Ahmad Dhani dan Maia Estianty, publik akhirnya ikut fokus pada sisi-sisi tertentu yang paling sering dimunculkan," lanjutnya.

Menurut Widya, media sosial juga memperkuat fenomena confirmation bias, yakni ketika seseorang lebih mudah memercayai informasi yang sesuai dengan pandangannya sejak awal.

Tak heran jika potongan video, cuplikan podcast, hingga komentar viral lebih cepat membentuk opini publik dibanding penjelasan hukum yang panjang.

Dalam dunia komunikasi, fenomena ini dikenal dengan istilah trial by social media, yakni penghakiman sosial yang terjadi sebelum proses hukum benar-benar selesai.

"Maia waktu itu mendapat simpati karena publik melihat narasi tentang perjuangan dan kesan rasa sakit yang dialaminya. Sementara Ahmad Dhani banyak mendapat stigma negatif karena citra yang muncul di publik cenderung keras dan kontroversial," tuturnya.

Widya juga menilai tayangan infotainment punya peran besar membentuk persepsi publik terhadap konflik selebritas. Akibatnya, banyak orang merasa sudah memahami seluruh cerita hanya dari potongan konten yang muncul di beranda media sosial.

"Orang merasa sudah tahu keseluruhan cerita hanya dari potongan konten yang lewat di beranda mereka. Padahal konflik rumah tangga atau persoalan keluarga biasanya kompleks dan tidak sesederhana siapa benar dan siapa salah," terangnya.

Ia pun mengingatkan publik agar tidak mudah menghakimi figur publik hanya berdasarkan narasi viral yang beredar di internet.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Media sosial justru sering mensederhanakan persoalan supaya lebih mudah dikonsumsi dan memancing reaksi. Akhirnya publik ikut terbawa untuk menghakimi cepat, bahkan sebelum proses klarifikasi atau hukum benar-benar selesai," tuturnya.

"Di era digital sekarang, sesuatu yang ramai dibicarakan belum tentu sepenuhnya benar, dan sesuatu yang terlihat jelas di media belum tentu menggambarkan realitas secara utuh. Ini perlu dipahami," pungkasnya.