ICATT Perkuat Sinergi Ormas Islam Sulsel, Dorong Aksi Nyata Umat

Silaturahmi Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT)
Silaturahmi Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT)

Pertemuan lintas organisasi masyarakat (ormas) Islam di Sulawesi Selatan mendorong pertemuan dari sekadar ajang silaturahmi menjadi forum konsolidasi aksi nyata. Sejumlah pimpinan ormas Islam menegaskan pentingnya langkah konkret untuk menjawab persoalan umat, bukan berhenti pada pertemuan seremonial.

Pertemuan yang digelar di Aula Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan pada Senin, 4 Mei 2026, itu dihadiri berbagai organisasi besar seperti Majelis Ulama Indonesia Sulsel, Nahdlatul Ulama, hingga Wahdah Islamiyah. Ini merupakan pertemuan keempat setelah rangkaian diskusi sebelumnya di beberapa lokasi berbeda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Salah satu sorotan utama dalam forum ini adalah dorongan agar kolaborasi lintas ormas tidak berhenti pada komitmen, tetapi diterjemahkan menjadi program bersama yang berdampak langsung membangun dan memberdayakan umat.

Ketua Umum DPP Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah, H. Mallingkai Ilyas, menegaskan bahwa ruang-ruang pertemuan harus menghasilkan gerakan konkret. Ia menawarkan sejumlah gagasan, mulai dari penguatan literasi umat hingga kegiatan massal yang melibatkan puluhan ribu peserta.

Dalam sesi pemaparan, Mallingkai Ilyas, menyampaikan selayang pandang organisasi ICATT yang berdiri sejak 15 Juli 1989 dan telah dipimpin oleh sejumlah tokoh agama terkemuka di Sulsel. Ia menegaskan bahwa ICATT sebagai organisasi intelektual memiliki lebih dari 1.000 anggota yang terdiri dari para pakar di berbagai bidang. 

“ICATT siap berkolaborasi dengan seluruh ormas Islam. Kami siap memback-up gerakan literasi umat melalui penulisan buku tematik serta menghadirkan narasumber terbaik dalam membahas problematika keumatan,” ujarnya. 

Ia juga menekankan pentingnya memperbanyak ruang perjumpaan antar ormas islam sebagai upaya memperkuat ukhuwah, persatuan dan kerukunan. Silaturrahmi, menurutnya, perlu dilakukan secara rutin dan ormas islam menjadi tuan rumah secara bergiliran.

Salah satu ide yang mencuat adalah penyelenggaraan kegiatan berskala besar lintas ormas, seperti jalan sehat atau agenda bertema Tahun Baru Hijriah yang ditargetkan melibatkan puluhan ribu peserta. Gagasan ini dipandang sebagai upaya memperkuat kebersamaan sekaligus menunjukkan kekuatan kolektif umat.

Bukan tanpa alasan, Mallingkai Ilyas menyoroti kelompok kecil seringkali tampil dominan karena kelompok mayoritas cenderung diam. Oleh karena itu, ia mengusulkan adanya gerakan bersama yang melibatkan partisipasi luas umat. 

“Salah satu gagasan yang kami tawarkan adalah gerakan jalan sehat atau apapun namanya, bisa juga ‘Hijratul Rasul’ dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriah, yang diikuti oleh 30.000 peserta dari berbagai ormas dan lembaga keagamaan di Sulawesi Selatan,” ungkapnya.

Ketua Umum PW Muhammadiyah Sulsel, Prof. Ambo Asse, dalam sambutannya menegaskan pentingnya memperkuat komunikasi antar pimpinan organisasi guna menjaga persatuan dan kesatuan umat. Ia mengingatkan agar nilai-nilai Islam tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak memahami ajaran secara utuh. 

“Semua amal ibadah harus diniatkan lillahi ta’ala. Jika dilakukan dengan ikhlas, maka akan dituntun ke jalan Allah,” ujarnya. 

Ia juga menyinggung perkembangan pemikiran Muhammadiyah terkait penggunaan kalender Hijriah global sebagai upaya menyatukan umat Islam di tingkat internasional. Selain itu, disampaikan pula kontribusi amal usaha Muhammadiyah, termasuk peran ‘Aisyiyah dalam bidang pendidikan dan layanan sosial keagamaan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. 

Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sulsel, H. Aminuddin, yang mewakili Kakanwil Kemenag Sulsel, menyampaikan bahwa pihaknya telah memfasilitasi penandatanganan MoU antar ormas Islam sebagai implementasi nilai “wa’tashimuu bihablillahi jami’an wa la tafarraqu”. 

Ia menekankan bahwa silaturrahmi ini lahir dari kebutuhan bersama (bottom-up), bukan instruksi dari atas (top down), sehingga memiliki komitmen yang kuat. Menurutnya, ormas Islam merupakan bagian dari civil society yang menjadi mitra strategis pemerintah dalam pembinaan umat, di tengah keterbatasan sumber daya manusia dan efisiensi anggaran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Inisiator gerakan persatuan umat Islam di Sulsel, AM Iqbal Parewangi, turut memaparkan sejarah terbentuknya forum ini. Ia mendorong agar silaturrahmi dilaksanakan secara rutin dan ditindaklanjuti dengan aksi nyata, seperti gerakan literasi umat melalui penulisan buku tematik lintas ormas, dengan berbagai isu.

Melalui silaturrahmi lintas ormas ini, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antara organisasi Islam, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan, memperkuat persaudaraan dan mendorong peran aktif umat dalam mewujudkan masyarakat yang rukun, harmonis dan sejahtera.