Makeup The Devil Wears Prada Masih Terlihat Modern Setelah 20 Tahun, Ini Rahasianya

tren kecantikan, makeup, Makeup The Devil Wears Prada Masih Terlihat Modern Setelah 20 Tahun, Ini Rahasianya, Makeup dibuat untuk karakter, bukan tren, Tiga karakter, tiga gaya makeup berbeda, Makeup Andy Sachs berubah mengikuti perjalanan hidup, Miranda Priestly mengandalkan konsistensi, Kenapa makeup film ini tetap terasa modern

Dua dekade setelah dirilis, tampilan makeup dalam film The Devil Wears Prada ternyata masih terasa modern hingga hari ini.

alih terlihat ketinggalan zaman, gaya riasan para karakter justru tetap relevan dan mudah dikenali.

Rahasia di balik ketahanannya bukan terletak pada tren, melainkan pada pendekatan yang lebih personal.

Makeup dibuat untuk karakter, bukan tren

Penata rias film tersebut, Nicki Ledermann, menjelaskan bahwa sejak awal timnya tidak mengikuti tren kecantikan yang sedang populer.

Pendekatan yang digunakan justru berfokus pada karakter masing-masing tokoh.

“Tren bisa cepat usang karena terikat pada satu momen budaya, tetapi karakter tidak,” ujarnya, seperti dikutip dari Vogue (30/4/2026).

Ia menambahkan bahwa wajah para karakter tetap terasa hidup karena mencerminkan kepribadian yang kuat.

“Wajah-wajah ini tetap terasa hidup karena orang di dalamnya juga terasa hidup,” jelas Ledermann.

Tiga karakter, tiga gaya makeup berbeda

tren kecantikan, makeup, Makeup The Devil Wears Prada Masih Terlihat Modern Setelah 20 Tahun, Ini Rahasianya, Makeup dibuat untuk karakter, bukan tren, Tiga karakter, tiga gaya makeup berbeda, Makeup Andy Sachs berubah mengikuti perjalanan hidup, Miranda Priestly mengandalkan konsistensi, Kenapa makeup film ini tetap terasa modern

Tangkapan layar akun Instagram The Devil Weaars Prada 2 @tdwp2. Makeup dalam The Devil Wears Prada tetap terasa modern setelah 20 tahun karena dibuat berdasarkan karakter, bukan sekadar mengikuti tren.

Setiap karakter utama dalam film memiliki identitas makeup yang berbeda dan konsisten.

Emily Charlton tampil dengan riasan mata yang berani, terutama eyeshadow biru yang menjadi ciri khasnya.

Ledermann menyebut pilihan warna tersebut bukan sekadar tren, melainkan bentuk ekspresi karakter.

“Warna menjadi identitas Emily, bukan tren yang ia ikuti,” katanya.

Makeup Andy Sachs berubah mengikuti perjalanan hidup

Berbeda dengan Emily, gaya makeup Andy Sachs digambarkan lebih dinamis dan berkembang.

Riasannya tidak dibuat untuk mengubah dirinya secara drastis, melainkan menunjukkan proses adaptasi.

“Makeup Andy terasa seperti proses menemukan diri, bukan perubahan total,” ujar Ledermann.

Tampilan ini ditandai dengan riasan yang sederhana, warna hangat, dan kesan natural.

Miranda Priestly mengandalkan konsistensi

Karakter Miranda Priestly justru tampil dengan gaya makeup yang hampir tidak berubah sepanjang film. Riasannya sederhana, tetapi tetap kuat dan berwibawa.

Menurut Ledermann, konsistensi inilah yang menjadi sumber kekuatan karakter tersebut.

“Konsistensi adalah kekuatannya, seolah ia tidak perlu mengikuti siapa pun,” jelasnya.

Kenapa makeup film ini tetap terasa modern

Pendekatan berbasis karakter membuat makeup dalam film tidak terikat oleh tren tertentu. Hal ini membuat tampilannya tetap relevan meski waktu terus berjalan.

Ledermann menegaskan bahwa tujuan utama riasan adalah menyampaikan cerita, bukan sekadar mengikuti mode.

“Saya tidak ingin mengikuti tren, tetapi menciptakan sesuatu yang punya identitas sendiri,” ujarnya.

Keberhasilan makeup dalam The Devil Wears Prada menunjukkan bahwa gaya yang berakar pada karakter memiliki daya tahan yang lebih panjang.

Pendekatan ini membuat tampilan tetap terasa segar dan tidak lekang oleh waktu.

Dua puluh tahun berlalu, riasan dalam film tersebut masih menjadi referensi yang relevan hingga sekarang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang