Kirim Barang Jarak Jauh Kini Bisa Tanpa Pesawat Berawak, Ini Teknologinya
Perkembangan teknologi kedirgantaraan mendorong perubahan pada sektor logistik, terutama dalam pemanfaatan pesawat tanpa awak untuk pengiriman barang. Teknologi ini mulai masuk ke tahap implementasi setelah banyak dikembangkan dalam skala uji coba di berbagai negara.
Pesawat tanpa awak (UAS) kargo kelas berat Hongyan HY-100 resmi memperoleh sertifikasi tipe untuk kargo kelas berat. Teknologi ini dikembangkan oleh Ursa Aeronautical Technology Co., Ltd. dan menjadi bagian dari pengembangan industri low-altitude economy yang memanfaatkan ruang udara rendah untuk aktivitas logistik.
HY-100 menjadi salah satu UAS kelas berat pertama yang telah mengantongi sertifikasi dari Civil Aviation Administration of China (CAAC), meliputi Type Certificate (TC), Production Certificate (PC), Airworthiness Certificate (AC), hingga Operation Certificate (OC). Sertifikasi tersebut menunjukkan bahwa pesawat telah memenuhi standar keselamatan dan operasional penerbangan sipil.
Secara spesifikasi, HY-100 memiliki bobot lepas landas maksimum 5,25 ton dengan kapasitas muatan hingga 1,9 ton. Jangkauan terbangnya mencapai 1.800 kilometer dengan durasi operasi lebih dari 10 jam. Pesawat ini juga dapat beroperasi dari berbagai jenis permukaan landasan, termasuk rumput, tanah, dan aspal dengan kebutuhan jarak lepas landas kurang dari 550 meter.
Di Indonesia, proses validasi Type Certificate HY-100 telah dilakukan oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI. Proses ini mengacu pada regulasi CASR Part 21 dan Part 22 untuk memastikan standar keselamatan terpenuhi.
Penyerahan validasi dilakukan oleh Capt. Reymon Palapa selaku Kasubdit Operasi Pesawat Udara mewakili Direktur DKPPU Sokhib Al Rokhman pada Rabu, 29 April 2026 di kantor DKPPU kepada Country Director PT Ursa Aero Indonesia Tendi Febrian dan perwakilan Ursa Aeronautical Technology Co., Ltd.
Capt. Reymon Palapa selaku Kasubdit Operasi Pesawat Udara, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mengadopsi teknologi Large Unmanned Aircraft System (LUAS) secara terukur dan aman.
Sementara itu, Capt. Meddy Yogastoro selaku Kepala Tim Engineering & Emerging Technology DKPPU menjelaskan bahwa proses validasi uji tipe dilakukan secara menyeluruh, mulai dari dokumen teknis, simulasi, hingga uji terbang.
“Validasi ini menjadi langkah penting dalam memastikan bahwa teknologi UAS kelas berat dapat diintegrasikan dengan ekosistem penerbangan nasional tanpa mengabaikan aspek keselamatan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Kamis, 30 April 2026.

Dari sisi industri, sertifikasi ini membuka peluang penggunaan HY-100 di Indonesia. PT Ursa Aero Indonesia ditunjuk sebagai mitra strategis untuk mendukung pengembangan dan operasional teknologi tersebut.
Country Director PT Ursa Aero Indonesia, Tendi Febrian, menyebut HY-100 sebagai solusi untuk kebutuhan logistik di wilayah sulit dijangkau. “HY-100 bukan sekadar pesawat tanpa awak, melainkan solusi infrastruktur udara. Dengan sertifikasi ini, kami membawa standar keamanan tinggi untuk mendukung distribusi logistik di wilayah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) di indonesia secara lebih efisien,” kata Tendi.
Ia menambahkan bahwa pengembangan teknologi Large Unmanned Aircraft System (LUAS) tidak hanya difokuskan pada sektor logistik, tetapi juga dapat digunakan di pertanian, mitigasi bencana, modifikasi cuaca, hingga pengawasan wilayah.
Perusahaan juga menyiapkan rencana pembangunan bandara khusus pesawat udara tanpa awak (UAS) seluas 43 hektar di Simpenan, Sukabumi, sebagai bagian dari pengembangan ekosistem industri.
“Setiap inovasi yang hadir di sektor ini diharapkan dapat membuka peluang bagi generasi muda Indonesia untuk turut berkontribusi dalam perkembangan teknologi kedirgantaraan,” tutup Tendi.