Cara Bijak Atasi Kakak Adik yang Sering Bertengkar di Rumah

kakak adik bertengkar, Cara Bijak Atasi Kakak Adik yang Sering Bertengkar di Rumah, Penyebab kakak adik bertengkar, Kapan konflik menjadi berbahaya?, Dampak psikologis jangka panjang, Cara mengatasi kakak beradik yang sering bertengkar

Menghadapi pertengkaran antara kakak dan adik sering membuat orangtua merasa kewalahan. Meski begitu perselisihan di antara anak-anak, baik yang masih balita maupun remaja, sebenarnya merupakan dinamika yang umum terjadi dalam tiap keluarga.

Sebuah penelitian bahkan menunjukkan bahwa sebagian besar anak pernah terlibat dalam agresi ringan dengan saudaranya.

"Tingkat pertengkaran saudara yang ringan adalah bagian normal dari masa kanak-kanak, dan bahkan dapat berkontribusi pada proses perkembangan dan pematangan yang penting," jelas psikolog anak di Johns Hopkins Children’s Center dr. Jeff Garofano, PhD, mengutip Parents, Minggu (26/4/2026).

Namun, mengapa konflik ini terus berulang dan bagaimana orangtua harus menyikapinya dengan bijak?

Dinamika hubungan kakak beradik

Penyebab kakak adik bertengkar

Hubungan persaudaraan adalah salah satu ikatan terpanjang dalam hidup seseorang. Interaksi intens ini menjadi fondasi bagi kesejahteraan emosional, keterampilan sosial, dan kesehatan mental anak di masa depan.

Karena mereka menghabiskan banyak waktu bersama, sangat wajar jika persaingan kerap muncul di antara kakak dan adik.

"Masa kanak-kanak adalah masa ketika anak-anak perlu belajar bagaimana menghadapi berbagai bentuk konflik," tutur Garofano.

Alasan utama pertengkaran sangat bergantung pada fase usia anak. Balita biasanya bertengkar karena enggan berbagi mainan atau mencari lebih banyak perhatian.

Sementara itu, anak usia sekolah dasar kerap meributkan keadilan atau peran di rumah. Lalu, remaja cenderung berkonflik akibat pelanggaran privasi atau persaingan pencapaian.

Kapan konflik menjadi berbahaya?

Meski dianggap wajar, orangtua harus waspada jika konflik berubah menjadi kekerasan fisik atau pelecehan yang bertujuan untuk menyakiti dan mendominasi satu sama lain.

"Pertengkaran saudara kandung bisa menjadi masalah jika ada pertengkaran fisik yang signifikan," terang Garofano.

Tanda bahaya lainnya meliputi ketidakseimbangan kekuatan yang mencolok antara anak yang besar dan kecil, pertengkaran kronis yang tak kunjung membaik, ancaman cedera, hingga perubahan drastis pada kondisi emosional anak yang tampak ketakutan atau menarik diri.

kakak adik bertengkar, Cara Bijak Atasi Kakak Adik yang Sering Bertengkar di Rumah, Penyebab kakak adik bertengkar, Kapan konflik menjadi berbahaya?, Dampak psikologis jangka panjang, Cara mengatasi kakak beradik yang sering bertengkar

Ilustrasi kakak adik.

Dampak psikologis jangka panjang

Pertengkaran yang terlalu sering dan terlampau parah sama sekali tidak boleh dibiarkan, karena kondisi tersebut bisa merusak perkembangan mental anak secara permanen.

Berbagai riset membuktikan bahwa perundungan yang terjadi antarsaudara berkaitan erat dengan penurunan harga diri, berkurangnya kepuasan hidup, serta mampu melipatgandakan risiko depresi saat mereka memasuki usia dewasa awal.

Latas, bagaimana cara mengatasinya?

Cara mengatasi kakak beradik yang sering bertengkar

Untuk menghentikan siklus pertengkaran, orangtua perlu menerapkan strategi proaktif yang menumbuhkan kerja sama, bukan sekadar bertindak sebagai wasit saat keributan terjadi.

"Orangtua bisa memberi contoh jenis penyelesaian konflik yang bisa ditiru oleh anak-anak ketika sedang berkonflik dengan pasangan," saran Garofano.

Selain itu, jangan hanya berfokus untuk menghukum perilaku buruk, cobalah untuk lebih sering memuji interaksi positif mereka sehari-hari.

Bila perlu, buatlah sebuah sistem penghargaan kreatif berbasis poin yang membutuhkan kerja sama tim antar-kakak dan adik agar mereka bisa mendapatkan hadiah bersama.

"Strategi seperti ini melahirkan kerja sama. Semakin banyak kerja sama, semakin sedikit ruang untuk bertengkar. Pendekatan ini dapat dimodifikasi untuk digunakan dengan anak usia sekolah hingga remaja," ujar Garofano.

Selain itu, pastikan untuk selalu mendekati setiap konflik secara netral tanpa memihak, dan bimbing mereka untuk mulai mengomunikasikan perasaannya secara mandiri.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang