Top 7+ Cara Digital Parenting, Latih Anak Bijak di Internet
Media sosial sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari dan sulit dihindari. Inilah mengapa orangtua perlu menerapkan digital parenting agar anak lebih bijak dalam menggunakan internet.
“Digital parenting adalah proses mendidik anak agar mereka bertanggung jawab atas penggunaan teknologi informasi dan komunikasi,” tulis psikolog Miranty Novia Wardhani, S.Psi. dalam sebuah artikel di situs web RS Marzoeki Mahdi Bogor, Senin (24/11/2025).
Tujuan dari penerapan digital parenting adalah untuk membantu orangtua menjadi panutan dalam penggunaan teknologi, mengajarkan etika dan pengelolaan teknologi digital seperti informasi dan komunikasi, serta mengawasi dan mendampingi anak dalam penggunaan internet.
Direktur Eksekutif ICT Watch Indriyatno Banyumurti mengatakan, ada tujuh langkah yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk menerapkan digital parenting, berdasarkan panduan dari Family Online Safety Institute. Apa saja?
Cara menerapkan digital parenting untuk orangtua
1. Ciptakan bonding
“Yang pertama adalah terkait dengan bagaimana membangun bonding antara orangtua dan anak,” kata Indriyatno di Kantor Google Indonesia, Jakarta Selatan, Kamis (20/11/2025).
Dalam membangun ikatan dengan anak, ayah dan ibu harus lebih sering mengobrol dengan anak. Obrolan harus terbuka dan orangtua harus santai dalam menanggapi seluruh pertanyaan anak terkait ruang digital.
Obrolan terbuka dan orangtua yang santai, bisa membuat anak lebih nyaman untuk mendiskusikan apapun yang mereka temui di dunia maya.
2. Edukasi diri sendiri
Digital parenting yang baik membuat anak lebih bijak dalam menggunakan internet, dan lebih mahir dalam memilah konten yang tepat untuk dikonsumsi.
Tips kedua adalah ayah dan ibu punya kemauan untuk mengedukasi diri sendiri tentang gadget (gawai), media sosial, game online, dan ruang digital secara keseluruhan.
Berdasarkan informasi dalam pamflet online yang dibagikan oleh Family Online Safety Institute lewat situs webnya, orangtua perlu mencari tahu apa pun yang mereka tidak mengerti di dunia maya supaya lebih teredukasi.
Kemudian adalah mencoba sendiri aplikasi, game online, dan situs web apa pun untuk mengetahui isi dan mekanismenya. Lalu, terbuka untuk mencari tips digital parenting lainnya di dunia maya.
3. Gunakan parental control
Digital parenting yang baik membuat anak lebih bijak dalam menggunakan internet, dan lebih mahir dalam memilah konten yang tepat untuk dikonsumsi.
Parental control adalah fitur di beberapa platform digital, yang memungkinkan orangtua mengontrol akses anak pada platform tersebut.
Misalnya adalah mengatur berapa lama anak bisa mengakses platform digital tersebut, dan konten seperti apa yang bisa dilihat.
“Family Link dari Google ini masih banyak yang belum tahu. Di YouTube ada Supervised Experience, YouTube Kids, dan fitur-fitur baru yang juga perlu diperhatikan,” ujar Indriyatno.
Fitur baru yang dimaksud oleh Indriyatno dalam YouTube adalah Shorts Daily Time Limit. Lewat fitur ini, pengguna, termasuk remaja, bisa menetapkan batas durasi harian untuk scroll feed Shorts di ponsel. Mereka bisa mengatur dan menyesuaikan batasan harian lewat menu "Settings".
Setelah batas waktu tercapai, pengguna akan menerima notifikasi yang menandakan bahwa feed YouTube Shorts telah dihentikan sementara untuk hari itu.
YouTube juga menyediakan laman Family Center untuk membantu orangtua memantau penggunaan YouTube akun anak-anak mereka. Di laman itu, terdapat pilihan untuk menambahkan profil YouTube Kids dan akun YouTube anak remaja mereka, sebagai akun yang diawasi.
Laman Family Center sering digunakan oleh orangtua dengan anak berusia di bawah 18 tahun. Di laman ini, ada pengingat "Take a Break" dan "Bedtime" yang sudah aktif secara otomatis untuk pengguna berusia di bawah 18 tahun.
Pengingat "Take a Break" adalah notifikasi yang mengingatkan pengguna untuk beristirahat sejenak dari melihat layar HP, sedangkan "Bedtime" adalah notifikasi yang mengingatkan anak bahwa waktu tidur mereka akan tiba dan mereka harus bersiap-siap untuk beristirahat.
Sebagai pelengkap dua hal tersebut, pada akhir tahun ini, YouTube berencana untuk memperluas fitur Shorts Daily Time Limit pada orangtua. Ayah dan ibu yang menggunakan akun yang memiliki akun yang akan diawasi, bisa secara proaktif menetapkan batas durasi menjelajah feed YouTube Shorts yang tidak bisa diabaikan.
4. Tetapkan aturan yang disepakati bersama
Digital parenting yang baik membuat anak lebih bijak dalam menggunakan internet, dan lebih mahir dalam memilah konten yang tepat untuk dikonsumsi.
Selanjutnya adalah menetapkan aturan yang disepakati bersama melalui diskusi dengan anak. Batasi kapan dan di mana gadget bisa digunakan. Lalu, cabut hak anak bermain gadget jika aturan dilanggar.
“Orangtua membuat aturan yang berlaku di rumah, yang bisa disepakati. Bukan menyuruh anak untuk melakukan ini dan itu. Disepakati bersama,” tutur Indriyatno.
5. Awasi media sosial anak
Kelima adalah mengawasi media sosial anak, seperti mengikuti akun mereka, tetapi tidak perlu menguntit. Ayah dan ibu juga tidak perlu memenuhi akun mereka dengan komentar demi menjaga kebebasan mereka dalam bermedia sosial.
Mengikuti akun media sosial anak bisa membuat orangtua lebih memahami apa yang mereka sukai, melalui daftar akun yang anak ikuti.
“Kita tahu bahwa media sosial itu kan yang baik kita unggah, yang jelek enggak kita unggah. Ini bikin depresi anak, seolah-olah orang-orang baik sementara kehidupan dia enggak baik-baik saja,” ujar Indriyatno.
Ketika melihat anak menyukai unggahan-unggahan seperti itu, orangtua bisa memberi pemahaman bahwa tidak semua yang mereka lihat di dunia maya adalah kenyataan.
Bisa saja, orang yang suka mengunggah bahwa ia sering bepergian ke luar negeri dan punya gaya hidup mewah, sebenarnya terlilit utang dan lain sebagainya.
6. Gunakan platform digital bersama-sama
Tips keenam adalah orangtua menggunakan platform digital bersama dengan anak, untuk belajar bersama tentang dunia maya.
7. Jadi panutan yang baik untuk anak
Digital parenting yang baik membuat anak lebih bijak dalam menggunakan internet, dan lebih mahir dalam memilah konten yang tepat untuk dikonsumsi.
Terakhir adalah menjadi panutan yang baik untuk anak dengan mengurangi kebiasaan buruk di dunia maya, mengetahui kapan dan di mana harus berhenti menggunakan internet, serta mengajari anak bersikap baik di dunia maya.
“Peran dan hubungan orangtua dengan anak sangat penting, tapi juga bukan hal yang mudah. Ituah mengapa (anak) bukan semata-mata dikasih tahu bahwa ABC itu salah dan DEF itu benar. Anak dibantu,” tutup Indriyatno.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang