Kebiasaan Sejak Kecil yang Membentuk Kecerdasan Emosional, Ini Penjelasannya
Banyak orang mengira kecerdasan emosional terbentuk saat dewasa, melalui pengalaman hidup, pekerjaan, atau hubungan yang dijalani.
Namun, satu kebiasaan kecil yang sering terjadi sejak masa kanak-kanak justru disebut memiliki peran besar dalam membentuk kemampuan tersebut.
Kebiasaan itu sederhana, yaitu membiasakan diri menyebutkan atau memberi nama pada emosi.
Kebiasaan kecil yang sering terjadi tanpa disadari
Dalam keseharian, kebiasaan ini mungkin terdengar sangat sederhana, bahkan sering terlewat begitu saja.
Seorang anak menangis, lalu seseorang mengatakan, “kamu sedang sedih” atau “kamu terlihat kesal,” tanpa menyadari bahwa kalimat tersebut sebenarnya sedang membantu anak memahami dirinya sendiri.
Melansir Forbes (1/4/2026), kebiasaan ini dikenal sebagai emotion labeling, yaitu memberi nama pada emosi yang dirasakan, baik oleh diri sendiri maupun orang lain.
Meski tampak sepele, momen-momen kecil seperti ini menjadi awal dari proses panjang dalam mengenali emosi.
Dari kata-kata sederhana, lahir pemahaman diri
Ilustrasi anak dan orangtua. Kebiasaan sederhana sejak kecil ini ternyata berperan besar dalam membentuk kecerdasan emosional seseorang hingga dewasa.
Setiap emosi yang diberi nama akan membentuk “bahasa batin” yang membantu seseorang memahami apa yang sebenarnya ia rasakan.
Tanpa kata yang tepat, perasaan sering kali terasa membingungkan dan sulit dikendalikan.
Marc Brackett, pendiri Yale Center for Emotional Intelligence, menyebut kemampuan memberi nama pada emosi sebagai bagian penting dalam kerangka RULER, yaitu pendekatan berbasis bukti yang telah digunakan di ribuan sekolah di dunia.
Kemampuan ini menjadi langkah awal sebelum seseorang bisa memahami, mengekspresikan, dan mengatur emosinya dengan baik.
Membantu seseorang tetap tenang saat menghadapi tekanan
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang terbiasa mengenali dan menyebut emosinya cenderung lebih mampu mengontrol diri saat menghadapi situasi sulit.
Mereka tidak hanya lebih tenang, tetapi juga lebih mampu memilih respons yang tepat dan memahami orang lain dengan lebih baik.
Studi dalam Frontiers in Psychology juga menemukan bahwa kebiasaan menggunakan bahasa emosional dalam keluarga sejak dini berkaitan dengan kemampuan memahami emosi orang lain di kemudian hari.
Artinya, bukan seberapa sering seseorang berbicara, tetapi bagaimana percakapan itu membantu mengenali perasaan.
Ada proses di otak saat emosi disebutkan
Ketika seseorang menyebutkan emosinya, sebenarnya ada proses yang terjadi di dalam otak.
Penelitian dari ahli saraf Matthew Lieberman di UCLA menunjukkan bahwa memberi nama pada emosi dapat menurunkan aktivitas amigdala, bagian otak yang berperan dalam respons terhadap ancaman.
Fenomena ini dikenal dengan istilah “name it to tame it”, yang berarti menyebut emosi dapat membantu meredakannya.
Dengan kata lain, kata-kata yang sederhana bisa menjadi cara untuk menenangkan diri.
Kebiasaan kecil dengan dampak panjang
Kebiasaan ini tidak membutuhkan metode khusus, alat, atau biaya.
Ia hadir dalam percakapan sehari-hari yang sering dianggap biasa, seperti bertanya “apa yang kamu rasakan hari ini” atau mencoba memahami emosi dalam sebuah cerita.
Namun, justru dari momen-momen kecil yang berulang inilah kemampuan emosional terbentuk secara perlahan.
Orang dewasa yang mampu memahami diri, berempati, dan tetap tenang dalam tekanan sering kali membawa “bahasa emosi” yang sudah terbentuk sejak kecil.
Kecerdasan emosional tidak selalu dibangun dari pengalaman besar di masa dewasa, tetapi dari kebiasaan sederhana yang dilakukan berulang sejak kecil, seperti memberi nama pada emosi.
Kebiasaan ini membantu seseorang memahami dirinya sendiri, mengelola perasaan, dan menjalani hubungan dengan lebih sehat sepanjang hidupnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang