Del Piero Minta Italia Buang Kesombongan, Azzurri Tak Seperti Dulu Lagi
Legenda Juventus dan sepak bola Italia, Alessandro Del Piero, turut meratapi kegagalan negaranya menembus Piala Dunia 2026.
Alessandro Del Piero menilai inilah saatnya Italia untuk melakukan introspeksi dan menata ulang sepak bola.
Kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 jadi pukulan hebat bagi Italia, juara dunia empat kali.
Del Piero menjadi bagian dari salah satu tim juara Italia, yakni ketika Piala Dunia 2006 dilangsungkan di Jerman.
Sebelum itu, Italia jadi kampiun Piala Dunia pada 1934, 1938, dan 1982. Siapa yang menyangka negara besar sepak bola seperti Italia bisa gagal ke Piala Dunia dalam tiga edisi beruntun.
Perih kegagalan lolos ke Piala Dunia 2026 merupakan lanjutan dari ketidakmampuan Gli Azzurri (Si Biru) meraih tiket ke Rusia 2016 serta Qatar 2022.
Baru kali ini ada negara juara dunia yang tak mampu lolos ke Piala Dunia dalam tiga edisis secara beruntun.
“Kesombongan harus disingkirkan," tutur Alessandro Del Piero dilansir Football Italia dari Sky Calcio Unplugged.
Del Piero yang juga pernah membawa Italia melaju ke final Euro 2000 kemudian merumuskan langkah-langkah yang perlu ditempuh negaranya untuk membangkitkan sepak bola.
Italia Harus Rendah Hati
Menurut Del Piero, Italia mesti membangun sepak bolanya dari bawah. Tak ada lagi gemerlap pada periode 1990-an sampai awal 2000, ketika Italia jadi rumah pesepak bola terbaik dunia.
"Yang dibutuhkan sekarang adalah kerendahan hati, kemauan untuk memulai lagi, untuk belajar dan menganalisis siapa yang melakukan segalanya dengan baik."
"Kita bukan lagi seperti yang kita kira," tutur Del Piero menjelaskan.
Kegagalan Italia melaju ke Piala Dunia 2026, memaksa Gabriele Gravina meninggalkan posisinya sebagai Presiden FIGC (Federasi Sepak Bola Italia).
Selain itu, Gennaro Gattuso juga sudah meletakkan jabatannya sebagai pelatih. Kendati demikian, Del Piero tak mau mengkambinghitamkan pihak tertentu dan menilai problem sepak bola Italia jauh lebih dalam dari yang disangka orang.
“Ada banyak situasi kompleks yang semuanya bertemu hingga menghasilkan kondisi ini,” ujarnya. Di balik semua ini, ada jauh lebih banyak hal yang terjadi.”
“Kita pada dasarnya hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan diri sendiri. Itu harus berubah,” ucap Del Piero.
Alessandro Del Piero (kiri) digantikan oleh Francesco Totti dalam laga Piala Dunia 2006 antara Italia vs Australia di Stadion Fritz-Walter, Kaiserslautern, Jerman, 26 Juni 2006. AFP PHOTO / PATRICK HERTZOG (Photo by PATRICK HERTZOG / AFP)
Inspirasi dari 1982 dan 2006
Keberhasilan Italia bangkit dari situasi sulit persisnya pada 1982 dan 2006 menyisakan pelajaran.
Ketika itu, Italia mampu menjadi juara Piala Dunia saat tim nasional mereka dirongrong masalah skandal judi totonero (1982) lalu pengaturan wasit alias calciopoli (2006).
“Dalam momen krisis terbesar kami di dunia olahraga, 1982 dan 2006, kami mampu menemukan energi, kreativitas, hasrat, dan solusi,” ujarnya.
“Bahkan sekarang, ketika kita tampak jauh dari solusi-solusi itu,” ucap pria beralias Pinturicchio tersebut.
Italia terkenal dengan obsesi terhadap taktik. Tak heran jika pelatih hebat kerap dilahirkan Negeri Piza.
Namun, pemain seperti Del Piero yang menyajikan elemen fantasi di lapangan kini susah ditemukan.
“Kita terlalu banyak memberi tahu pemain muda apa yang harus dilakukan, dan itu membunuh kreativitas mereka,” ujar Del Piero.
“Mereka menjadi bagus dalam menjalankan instruksi, tetapi saat mereka keluar dari sistem itu, mereka melakukan kesalahan dan langsung dicap sebagai pemain buruk. Itu tidak benar, masalahnya adalah mereka hanya diajarkan satu hal,” tutur pria yang sudah mengantongi lisensi kepelatihan UEFA Pro tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang