Mau Lihat Bajingan, Kunjungi Festival Pegon Waton di Jember 28 Maret 2026
Pagi di pesisir selatan Kabupaten Jember akan kembali dihidupkan oleh derap langkah sapi penarik pegon dan iring-iringan warga yang setia menjaga tradisi tahunan, Festival Pegon Waton.
Tradisi yang digelar di Pantai Watu Ulo ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 28 Maret 2026, bertepatan dengan hari ke-7 hari raya Idul Fitri atau momentum Lebaran Ketupat.
Masyarakat yang menantikan event tahunan ini bisa mulai bersiap menyaksikan bagaimana budaya dilestarikan secara turun temurun.
Peserta akan mulai berkumpul sejak pukul 06.00 WIB di Balai Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, sebelum diberangkatkan menuju Pantai Watu Ulo.
Ketua Paguyuban Pelestarian Pegon Jember Selatan, Syamsul Arifin, mengatakan, tahun ini akan ada 36 pegon yang memeriahkan festival. Mereka berasal dari 3 kecamatan, yakni Tempurejo, Wuluhan, dan Ambulu.
Jumlah tersebut, kata Arifin, lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang sempat mencapai puluhan pegon dalam satu gelaran.
Meski demikian, para peserta yang ikut disebut sebagai kelompok inti yang secara konsisten menjaga tradisi tersebut dari tahun ke tahun.
“Teman-teman yang ikut sekarang itu yang murni asli para bajingan (penarik pegon). Mereka tiap tahun tetap berangkat,” kata Arifin kepada Kompas.com, Selasa (24/3/2026).
Pegon yang dikemudikan oleh bajingan
Pegon merupakan alat transportasi tradisional yang telah ada sejak 1893, digunakan masyarakat untuk mengangkut hasil bumi dengan ditarik dua ekor sapi. Seperti yang dikatakan Arifin, alat transportasi ini dikemudikan oleh orang yang disebut bajingan.
“Pegon itu sudah ada sejak zaman kolonial. Dulu dipakai untuk mengangkut hasil panen,” ujarnya.
Seiring perkembangan zaman, penggunaan pegon memang semakin terdesak oleh kendaraan modern.
Menurutnya, pegon sampai saat ini masih digunakan oleh segelintir orang untuk mengangkut material seperti pasir.
Namun, keberadaannya kini dijadikan sebagai sebuah tradisi festival arak-arakan ke Pantai Watu Ulo. Masyarakat setempat mempertahankannya sebagai bagian dari identitas budaya, khususnya Jember bagian Selatan.
“Kalau tidak ke Watu Ulo saat Lebaran Ketupat, rasanya kurang afdol,” kata Arifin.
Dalam pelaksanaannya, Festival Pegon tidak hanya menghadirkan arak-arakan, tetapi juga pertunjukan seni budaya seperti reog serta tasyakuran dengan membawa tumpeng dan berkat.
Pantai Watu Ulo Jember.
“Nanti di sana ada kegiatan seni budaya reog, juga tasyakuran dengan membawa tumpeng dan berkat,” terang dia.
Makna utama tradisi ini adalah ungkapan syukur sekaligus kebanggaan terhadap warisan leluhur yang masih dijaga hingga kini.
Pegon-pegon yang ditarik dengan arak-arakan membuat kebanggaan tersendiri, tak hanya bagi para pemiliknya, tapi juga bajingan dan masyarakat yang ikut berpartisipasi.
Festival Pegon terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi ruang bersama untuk merawat tradisi sekaligus menarik minat wisatawan ke kawasan selatan Jember.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang