Suhu Kamar 24 Derajat Celsius Paling Cocok untuk Lansia
Kualitas tidur yang baik sangat penting bagi pemulihan fungsi organ tubuh, terutama bagi kelompok lanjut usia (lansia). Sayangnya, peran penting suasana kamar tidur kerap luput dari perhatian banyak orang dalam menjaga kesehatan.
Sebuah studi terbaru bertajuk "Effect of Nighttime Bedroom Temperature on Heart Rate Variability in Older Adults: An Observational Study" dari Griffith Univerist menunjukkan, suhu kamar tidur penting untuk menjaga kesehatan lansia.
Dilansir dari ScienceDaily dan Onlymyhealth, Selasa (24/3/2026), studi mengungkap, menjaga suhu kamar tidur pada 24 derajat Celsius secara konstan sepanjang malam, dapat menurunkan respons stres selama tidur pada kelompok lansia
"Bagi individu berusia 65 tahun ke atas, menjaga suhu kamar tidur sepanjang malam pada 24 derajat Celsius mengurangi kemungkinan lansia mengalami peningkatan respons stres selama tidur," kata pemimpin studi tersebut, Fergus O'Connor, dari Griffith's School of Allied Health, Sport and Social Work.
Mengapa mengatur suhu kamar tidur penting untuk lansia?
Untuk mendapatkan temuan ini, tim peneliti melakukan pemantauan terhadap 47 orang berusia 65 tahun ke atas.
Para peserta dalam penelitian ini mengenakan pelacak aktivitas kebugaran di pergelangan tangan yang tidak dominan untuk merekam data terkait jantung selama tidur.
Pada saat yang sama, sensor suhu yang dipasang di kamar tidur mereka terus mengukur kondisi malam hari selama periode pengumpulan data sepanjang musim panas di Australia.
Tim peneliti secara khusus menaruh fokus pada variabilitas detak jantung atau Heart Rate Variability (HRV), yang merupakan indikator utama untuk menilai seberapa baik jantung beradaptasi dan memulihkan diri dari stres.
Hasilnya menunjukkan bagaimana suhu kamar tidur yang lebih tinggi secara langsung memengaruhi detak jantung dan respons stres selama lansia tertidur.
Ketika suhu kamar tidur meningkat melampaui batas 24 derajat Celcius, gejala stres pada jantung mulai bermunculan dan potensi pemulihan organ selama tidur semakin menurun.
Ilustrasi lansia.
Pada suhu ruangan 24-26 derajat Celcius, terjadi peningkatan stres jantung hingga sekitar 40 persen.
Angka lonjakan ini naik menjadi 100 persen pada rentang suhu 26-28 derajat Celcius, dan melonjak hingga mencapai hampir 300 persen ketika suhu kamar tidur berada di atas 28 derajat celcius.
Jantung bekerja lebih keras pada suhu panas
O'Connor menjelaskan lebih lanjut bahwa suhu ruangan yang panas terbukti memberikan tekanan ekstra pada sistem kardiovaskular tubuh.
Lansia memiliki tingkat risiko yang jauh lebih besar terhadap paparan suhu panas. Hal ini terjadi karena tubuh manusia secara alami akan kehilangan kendali atas pengaturan suhu seiring bertambahnya usia.
Sistem kardiovaskular pada lansia mungkin tidak lagi seadaptif dahulu. Alhasil, kelompok lansia umumnya tidak merasakan gejala stres akibat paparan panas secepat orang yang lebih muda, sehingga sering kali terlambat untuk disadari.
“Ketika tubuh manusia terpapar panas, respons fisiologis normalnya adalah meningkatkan detak jantung. Jantung bekerja lebih keras untuk mencoba mengedarkan darah ke permukaan kulit untuk pendinginan," jelas O'Connor.
"Namun, ketika jantung harus bekerja jauh lebih keras dan dalam durasi yang lebih lama, hal itu menciptakan stres internal dan membatasi kemampuan kita untuk pulih dari paparan panas hari sebelumnya," sambung dia.
Bumi makin panas
Menurut O'Connor, temuan ini menjadi sangat relevan karena suhu pada malam hari di berbagai belahan dunia terus mengalami peningkatan.
“Perubahan iklim meningkatkan frekuensi malam yang panas, yang secara independen dapat berkontribusi pada morbiditas dan mortalitas kardiovaskular dengan mengganggu tidur dan pemulihan tubuh,” kata dia.
Mengingat belum adanya pedoman medis resmi terkait suhu ruangan pada malam hari, hasil studi ini dapat menjadi rujukan awal yang penting.
Menyesuaikan pengaturan pendingin ruangan secara konsisten pada batas 24 derajat Celcius kini dapat diterapkan sebagai langkah preventif untuk melindungi fungsi kardiovaskular lansia saat mereka beristirahat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang