Mudik Jadi Cara Ibadah dan Ladang Pahala, Lakukan 5 Hal Penting Ini

Ilustrasi Mudik
Ilustrasi Mudik

 Tradisi mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia. Jutaan perantau setiap tahun berbondong-bondong kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. 

Namun, perjalanan mudik sejatinya tidak hanya sekadar tradisi tahunan, tetapi juga dapat menjadi amalan yang bernilai ibadah jika dijalankan dengan niat dan cara yang tepat. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi atau yang akrab disapa Gus Fahrur, memberikan sejumlah pesan bagi para pemudik agar perjalanan pulang kampung tidak hanya menjadi aktivitas biasa, tetapi juga bernilai pahala di sisi Allah SWT.

Menurutnya, ada beberapa hal penting yang bisa dilakukan umat Islam selama menjalani perjalanan mudik agar kegiatan tersebut menjadi bagian dari ibadah.

1. Niatkan untuk Silaturahim

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah meluruskan niat. Mudik sebaiknya diniatkan untuk mempererat hubungan silaturahim dengan keluarga, terutama orang tua dan kerabat di kampung halaman.

"Ini sangat besar faedah dan pahalanya, apalagi untuk mengunjungi orang tua yang termasuk kategori birrul walidain. Besar pahalanya dan mendatangkan banyak keberkahan hidup dunia akhirat," kata Gus Fahrur, melansir NU Online, Senin 16 Maret 2026.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam sebuah hadits disebutkan, menjaga silaturahim dengan mengunjungi keluarga dapat menjadi sebab dilapangkannya rezeki serta dipanjangkannya umur seseorang.

2. Melaksanakan Shalat Sunnah Safar Sebelum Berangkat

Sebelum memulai perjalanan, para pemudik dianjurkan untuk menunaikan shalat sunnah safar. Amalan ini dilakukan sebagai bentuk doa dan permohonan kepada Allah agar perjalanan diberikan keselamatan serta kemudahan.

"(Perjalanan mudik) hendaknya dimulai (dengan) shalat sunnah safar, lalu berdoa mohon keselamatan dan keamanan dalam perjalanan," ucap Gus Fahrur.

Adapun niat shalat sunnah safar adalah:

Ushalliî sunnatas safari rak’ataini lillâhi ta’âla"Saya niat shalat sunnah perjalanan dua rakaat karena Allah ta’âla.

Setelah melaksanakan shalat tersebut, dianjurkan membaca doa memohon perlindungan dan kelancaran perjalanan.

"Ya Allah, hanya kepada-Mu aku meminta tolong, hanya kepada-Mu aku berpasrah. Tuhanku, tundukkanlah bagiku segala kesulitan urusanku, mudahkan untukku hambatan perjalananku, anugerahkanlah aku sebagian dari dari kebaikan melebihi apa yang kuminta, palingkan diriku dari segala kejahatan. Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkan urusanku. Ya Allah, aku meminta penjagaan dan menitipkan diriku, agamaku, keluargaku, kerabatku, dan semua yang telah Kauberikan kepadaku, baik kebaikan ukhrawi maupun duniawi. Lindungilah kami dari segala kejahatan, wahai Dzat Yang Maha Pemurah.”

3. Perbanyak Amal Saleh Selama Perjalanan

Selain menjaga niat, pemudik juga dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan selama perjalanan. Bentuknya bisa beragam, seperti membantu sesama pemudik yang membutuhkan bantuan atau menunjukkan sikap saling peduli di perjalanan.

Perilaku sederhana seperti memberi pertolongan kepada orang lain dapat menjadi ladang pahala jika dilakukan dengan niat yang tulus.

4. Menjaga Shalat dan Memperbanyak Zikir

Di tengah perjalanan yang panjang dan melelahkan, Gus Fahrur mengingatkan agar para pemudik tidak meninggalkan kewajiban shalat lima waktu. Ia juga menyarankan agar perjalanan diisi dengan memperbanyak zikir dan mengingat Allah.

"Jangan meninggalkan shalat. (sepanjang perjalanan) sambil berzikir kepada Allah juga mendapat pahala," ungkapnya.

Dengan demikian, perjalanan mudik tetap menjadi momen yang penuh keberkahan.

5. Berbagi Kebaikan Sesampainya di Kampung Halaman

Setelah tiba di kampung halaman, pemudik juga dianjurkan untuk kembali melaksanakan shalat sunnah safar sebelum memasuki rumah. Selain itu, Gus Fahrur mengingatkan pentingnya berbagi kepada sesama, terutama bagi mereka yang memiliki rezeki lebih.

Berbagi dengan keluarga, tetangga, maupun masyarakat sekitar dapat menjadi bentuk rasa syukur sekaligus mempererat kebersamaan di momen Lebaran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jangan lupa berbagi bagi yang mampu. Semuanya itu mendapatkan pahala dan kebaikan," pungkas Gus Fahrur.

Dengan menerapkan berbagai amalan tersebut, perjalanan mudik tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan meraih pahala di bulan penuh berkah. Mudik pun dapat menjadi momen spiritual yang membawa keberkahan, baik bagi diri sendiri maupun keluarga di kampung halaman.