Siap-siap! SMI Akan Terbitkan Obligasi Tahun Ini, Ajak Masyarakat Ikut Investasi Infrastruktur
Anak usaha sekaligus Special Mission Vehicle Kementerian Keuangan, PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), menyampaikan rencana untuk menerbitkan obligasi pada tahun 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi pendanaan sekaligus membuka akses partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat dalam mendukung pemerataan infrastrutur di Tanah Air.
Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah, mengatakan penerbitan obligasi kali ini dirancang dengan target utama adalah masyarakat umum. Selama ini, penerbitan obligasi lebih banyak menyasar investor institusi tradisional, seperti perbankan, dana pensiun, asuransi, maupun korporasi.
“Kami juga menyampaikan rencana dari PT Sarana Multi Infrastruktur untuk melakukan penerbitan obligasi di mana penerbitan obligasi ini kami akan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada masyarakat secara umum untuk bisa berpartisipasi,” ujar Reynaldi dalam acara Media Briefing di Jakarta, Selasa, 3 Maret 2026.
Reynaldi menegaskan tidak mematok laba dari penerbitan obligasi. Ia menekankan peran SMI sebagai fiscal tools pemerintah yang memiliki mandat untuk membangun infrastruktur di Indonesia dalam rangka mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Ilustrasi Obligasi
Penerbitan obligasi, kata Reynaldi, merupakan cara perusahaan yang notabenenya sebagai lembaga pembiayaann untuk memperoleh pendanaan melalui pasar modal. Untuk penerbitan surat utang melalui pasar modal, SMI berusaha bersifat inovatif baik dari jenis maupun tenor.
SMI pertama kali menerbitkan obligasi pada tahun 2014 dan konsisten menjadi salah satu penerbit surat utang aktif di pasar domestik. Berbagai instrumen yang telah diterbitkan antara lain Green Bond, Sustainability Bond, Sukuk Mudharabah, hingga zero-coupon bond pertama pada 2025.
Terbaru, perseroan telah menerbitkan obligasi zero coupon bertenor panjang 10 hingga 15 tahun pada tahun 2025. Total dana yang berhasil dihimpun melalui penerbitan dalam negeri telah menembus lebih dari Rp 50 triliun sejak tahun 2020 hingga 2025.
Penerbitan surat utang mencatatkan persentase sebanyak 35 persen dari komposisi pendanaan SMI. Sebesar 32 persen berasal dari pinjaman pemerintah, 32 persen lainnya dar pinjaman bank dan 1 persen merupakan pinjaman dari Development Financial Institutions (DFI).
Tidak hanya memperluas investor, penerbitan obligasi juga mengusung prinsip keberlanjutan. Reynaldi menuturkan, dana hasil penerbitan tahun 2026 ini akan difokuskan untuk membiayai proyek-proyek di sektor industri baru dan energi terbarukan.
Portofolio pembiayaan SMI dialokasikan untuk pembiayaan publik sebesar 16 persen dan pembiayaan korporasi sebesar 84 persen. Penyaluran dana ini digunakan untuk pembangunan infrastruktur strategi seperti jalan dan jembatan, jalan tol, transportasi, ketenagalistrikan, telekomunikasi, rumah sakit dan lain-lain.
Lebih lanjut, Direktur Operasional dan Keuangan PT SMI, Aradita Priyanti atau Poppy, menegaskan diversifikasi sumber pendanaan akan menjadi fokus strategis perseroan di masa depan. Dengan portofolio pembiayaan yang menghasilkan efek ganda (multiplier effect) besar terhadap perekonomia sekaligus usaha perseroan memastikan setiap upaya pendanaan tetap relevan dan selaras dengan kebutuhan pembangunan nasional.
“Ke depan kami akan lebih memperluas sumber-sumber pendanaan perseroan. Selain memperluas kerja sama dengan berbagai lembaga keuangan dan pemerintah, juga membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur nasional,” kata Poppy.