Pemerintah Mengaku Masih Punya Skema Insentif Buat LCGC
Pasar mobil Low Cost Green Car (LCGC) tidak berdaya menahan berbagai gejolak pada 2025. Tercatat pasar kendaraan roda empat murah itu terkoreksi cukup dalam.
Situasi ini tentu mengundang banyak perhatian, termasuk dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
“Kalau kita bicara mengenai segmen mobil murah dan ramah lingkungan atau LCGC, ini juga sama mengalami tekanan. Penjualan wholesales LCGC pada 2025 mencapai 122.686 unit, turun 30,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ungkap Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian, di IIMS 2026.
Pembantu Presiden Prabowo Subianto itu, cukup menyayangkan kondisi yang menimpa segmen LCGC pada tahun lalu.

Alhasil Toyota, Daihatsu hingga Honda harus bersusah payah dalam memasarkan produk mereka kepada konsumen
Agus pun mengaku tidak bakal tinggal diam. Pemerintah tetap memberikan perhatian lebih kepada mobil LCGC di Tanah Air.
“Pemerintah dalam hal ini tentu akan tetap memberikan perhatian pada pemulihan pasar LCGC melalui pemberian insentif fiskal yang efektif,” tutur Agus.
Sayang Agus tidak merinci bantuan seperti apa yang akan diberikan pemerintah untuk menyelamatkan pasar mobil LCGC.
Di sisi lain Daihatsu Ayla, Toyota Agya, Honda Brio Satya, Calya serta Sigra disebut masih masuk dalam program pemerintah untuk menekan emisi karbon.
Insentif yang diberikan pemerintah berupa potongan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
“Kalau LCGC kan saat ini memang masih ada program LCEV (Low Carbon Emission Vehicle),” kata Setia Diarta, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin.
Sementara itu, ketika disinggung soal insentif fiskal, ia mengatakan saat ini skema pajak untuk mobil LCGC masih mengacu pada aturan yang berlaku.
Di mana konsumen tetap dikenakan beban PPnBM yang tergolong rendah dibandingkan segmen mobil internal combustion engine (ICE) lain sampai 2031.
Peluang Mobil LCGC Bangkit
Di sisi lain, pasar kendaraan roda empat murah ini diprediksi bisa bangkit. Sebab ada beberapa faktor pendukung.

Semisal berakhirnya pemberian insentif untuk mobil listrik Completely Built Up (CBU) yang masuk ke Indonesia.
“Tanpa insentif impor CBU mulai 2026, harga EV impor diprediksi naik 20 persen sampai 40 persen,” ungkap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam kesempatan berbeda.
Sedangkan harga mobil LCGC di Tanah Air terpantau landai dan tidak mengalami kenaikan pada tahun ini.
Hal tersebut membuat jarak atau gap antara produk LCGC serta entry level semakin jelas terlihat di mata masyarakat.